Merayakan dan Berkaca pada Ramayana, Peringatan 36 Tahun Rembug Sastra Purnama Badrawada

626 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Bertepatan dengan purnama Sasih Karo, Kamis (15/8) malam, Rembug Sastra Purnama Badrawada merayakan ulang tahun ke-36. Perayaan dilaksanakan dengan menghadirkan 11 narasumber untuk menguliti Ramayana, dari berbagai perspektif.

Di meja rembug yang konsisten mendiskusikan aspek-aspek inti kebudayaan Bali, Sasih Karo atau Badrawada dan Ramayana memang memiliki arti tersendiri. Kearifan yang dipendam Ramayana, khususnya Kakawin Ramayana (Ramayana Jawa Kuna) inilah yang menjadi inspirasi Rembug Sastra Badrawada terlahir dan terus bergulir. Titik tolak awalnya 36 tahun silam pun berpijak pada asumsi bahwa Kakawin Ramayana diselesaikan pada Bulan Badrawada sebagaimana yang tersurat pada Sargah XXVI.50.

Pada perayaan ulang tahun ke-36, kesebelas narasumber yang dihadirkan berasal dari lintas usia, fokus keilmuan, bahkan lintas negara. Mereka adalah Ida Bagus Gede Agastia (budayawan dan penggagas Rembug Sastra Purnama Badrawada), Thomas M. Hunter (dosen The University oh British Columbia), I Dewa Gede Windhu Sancaya (dosen FIB Universitas Udayana), I Dewa Ketut Wicaksana (dosen ISI Denpasar), Ida Bagus Putu Suamba (dosen Politeknik Negeri Bali), I Wayan Westa (jurnalis, penulis), Putu Eka Guna Yasa (dosen FIB Universitas Udayana), I Gede Agus Darma Putra (dosen IHDN Denpasar), I Ketut Eriadi Ariana (jurnalis), Luh Yesi Candrika (Penyuluh Bahasa Bali, dosen IKIP PGRI Bali), dan I Putu Gede Dharma Wibawa Aryana (mahasiswa Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana).

Meneliti Ramayana Walmiki dan Kakawin Ramayana, IBG Agastia menghadirkan makalah berjudul “Burung-burung dalam Kakawin Ramayana”. Kehadirannya pun menjadi pemantik sekaligus motivasi tersendiri bagi peserta yang hadir dari berbagai kalangan. Sebab, budayawan yang suntuk membaca dan menafsirkan karya-karya klasik ini mempresentasikan makalah dalam kondisi sakit, yang mengharuskannya duduk di atas kursi roda dan harus dipapah saat menaiki panggung rembug.

Meski demikian, semangat dan daya kritisnya tak luntur, secara kritis, dalam, dan jernih, ia membeberkan hasil oleh pikirnya pada peserta yang antusias berembug hingga dini hari.

Perhatian peserta juga mengerucut ketika Thomas M. Hunter, peneliti sastra Jawa Kuna kaliber internasional mempresentasikan pemikirannya. Menyajikan makalah berjudul “Tutur dalam Kakawin Ramayana” peneliti yang sudah melahirkan sejumlah buku kajian teks Jawa Kuno itu secara kritis menjelaskan tutur Wibhisana, salah satu episode yang banyak dirujuk sebagai etika kepemimpinan.

Sementara itu, Windhu Sancaya membawakan tulisan berjudul “Membandingkan Dua Terjemahan Kakawin Ramayana: R Ng Poerbatjaraka dan I Gusti Bagus Sugriwa”. Dalam lingkup Asia Tenggara, kepopuleran Ramayana diungkap oleh tulisan IBP Suamba berjudul “Ramakien: Ramayana Tradisi Thailand”.

Berdasar perspektif seni pedalangan, Wicaksana, akademisi sekaligus praktisi pedalangan mempresentasikan tulisan “Kakawin Ramayana sebagai Sumber Lakon Wayang Kulit Bali”. Pandangan Wicaksana terkait hubungan Ramayana dan seni dilengkapi dengan tulisan “Ramayana dan Seni Lukis Kamasan” oleh Wayan Westa.

Berkaca kondisi politik pasca Pemilu Serentak 2019, Guna Yasa memberi sumbangan pemikiran melalui tulisan berjudul “Rekonsiliasi Politik dalam Kakawin Ramayana”. Sementara, kajian yang menjurus pada tokoh dan episode Kakawin Ramayana disajikan Darma Putra dalam makalah “Sronca: Tokoh dan Sifatnya dalam Kakawin Ramayana”, serta Yesi Candrika pada tulisan “Surat Sita untuk Sang Rama”.

Mencoba menjawab permasalahan ekologi termutakhir, Eriadi Ariana, menafsirkan Kakawin Ramayana dalam perspektif konservasi alam. Tulisannya yang berjudul “Tentang Hutan, Pertanian, dan Laut: Konservasi Ekologi dalam Kakawin Ramayana” mengerucut pada konservasi hutan, pertanian, dan laut. Sementara, dari sisi teknologi, Dharma Wibawa Aryana mencoba menjejak keberadaan alat transportasi era Ramayana dalam makalah berjudul “Wilmāna: Teknologi Transportasi yang Hilang dari Kakawin Ramayana”.

Oase di Tanah Tandus Pemahaman Budaya

Thomas Hunter mengapresiasi gelaran rembug yang konsisten mengungkap bagian terdalam kebudayaan Bali ini. Ia berharap ke depan diskusi dapat terus berlanjut.

“Dengan gerakan literasi semacam ini kita bisa membangkitkan masyarakat yang lebih dalam pengertiannya pada kebudayaan dan sejarah kebudayaan. Ini penting, jangan sampai diabaikan. (Sebab) kita menghadapi zaman sekarang yang ada masukan baru, seprrti elektronik dan teknologi. Kebudayaan Bali sebagai sumber pengetahuan jangan sampai diabaikan, apalagi ada angkatan muda yang berbakat dalam kebudayaan ini,” katanya.

Pendapat senada diungkapkan Windhu Sancaya. Akademisi Sastra Bali Universitas Udayana ini menilai studi Jawa Kuno perlu digalakkan kembali untuk mengimbangi kemajuan zaman. Pihaknya percaya apa yang terkurung dalam sastra Jawa Kuno dapat dikembangkan untuk menunjang kemajuan bangsa.

“Saat ini Israel belajar Jawa Kuno. Mengapa? Poerbatjaraka mengimbau kita untuk kembali ke (sastra) Jawa Kuno. Untuk studi hal pertama yang harus digarap adalah mengetahui bahasa, kemudian memberikan interpretasi yang paling tepat,” ucapnya.

Dalam proses tersebut, interpretasi-interpretasi yang diungkapkan setiap peneliti harus terus didiskusikan, salah satunya melalui Rembug Sastra Purnama Badrawada. Upaya pencapaian interpretasi tepat dan terbaik harus melalui proses dialektika yang gencar pula. Tidak bisa monolog, lantaran kebenaran bukan milik pribadi. “Harus dibicarakan secara terus menerus. Karena kebenaran itu masih koma, harus dibicarakan harus ada kalabilitas, harus ada guna,” tutupnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.