Mengintip Proses Pembuatan Gula Lontar di Dusun Kayuselem

1,518 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Pertanian Kintamani selama ini terlabel dengan komoditas jeruk dan kopi. Tak banyak yang tahu jika di balik Bukit Kintamani tersimpan potensi pertanian budidaya lontar yang menjadi penyambung hidup komunitas di kawasan tersebut.

Dengan kawasan yang cukup gersang, lontar memang menjadi salah satu tanaman potensial yang tumbuh di kawasan tersebut. Tumbuhan bernama latin Borassus flabellifer dibudidayakan oleh masyarakat untuk diambil niranya, sebelum kemudian diolah menjadi gula merah lontar.

Bergerak di usaha jenis ini diakui tak semanis gula yang dihasilkan. Untuk menghasilkan produk gula merah lontar, dibutuhkan waktu dan tenaga yang tak sedikit. Dan, meski melalui rangkaian proses yang panjang, pundi-pundi rupiah yang dihasilkan kadangkala tak cukup untuk menutupi kebutuhan mingguan petani.

Hal tersebut diakui Jero Salin, pelaku industri rakyat di Dusun Kayuselem, Songan, Kintamani. Kepada POS BALI di rumahnya akhir pekan lalu, ia membeberkan kisah pembuatan gula tradisional yang banyak dimanfaatkan untuk jajanan ini.

Dituturkan, setiap hari ia harus memanjat sekitar 14 pohon lontar. Pohon-pohon itu sehari sebelumnya telah disadap dan digantungi tempat untuk menampung niranya. 

Dalam sehari ia bisa mendapatkan 2-3 ember nira lontar. Namun, tak setiap hari para pegiat usaha itu beruntung. Ada kalanya mereka telah memanjat dan menyadap sehari sebelumnya, namun ketika hendak diambil, nira yang didapatkan tak cukup banyak. Kondiai demikian praktis mengurangi produksi usaha itu.

“Banyak tidaknya tuak yang didapat tergantung cuaca. Kalau angin kencang cenderung sedikit, kalau seperti sekarang biasanya lebih banyak. Jumlah tuak juga ditentukan usia dan jenis pohonnya. Dengan 14 pohon biasanya saya dapat rata-rata 2,5 ember,” jelasnya.

Setelah nira lontar terkumpul dalam ember, nira itu akan dimasak dalam kuali besar yang disebut jambangan. “Masaknya bisa sampai 5 jam, dimasak dengan kayu bakar yang panjang-panjang. Diaduk-aduk sampai pucat, baru kemudian didinginkan dan dicetak dalam cetakan batok kelapa Setelah dingin baru menjadi gula,” bebernya.

Setelah melewati rangkaian proses itu, para petani biasanya akan mendapat 3-7 kg gula. Saat ini, karena mendekati perayaan Galungan, 1 kg gula di tingkat pengepul dihargai Rp13,5 ribu. “Sekarang karena menjelang Galungan, kami menjualnya Rp13,5 ribu per kg, namun sering harganya di bawah itu. Gula biasanya dijual ke pengepul seminggu sekali. Seminggu dapat 20-50 kg gula,” katanya sembari mengatakan uang sejumlah itu sering kali tak menutupi kebutuhan mingguan keluarganya.

Kondisi tersebut diakui tokoh masyarakat Dusun Kayuselem, Songan, Kintamani, I Wayan Artawan. Pihaknya mengungkapkan ada sekitar 20 orang warga di dusun tersebut yang bermata pencaharian sebagai pembuat gula merah. Diakui, meski menyimpan potensi ekonomi dan banyak menghidupi masyarakat, industri rakyat itu masih digerakkan oleh individu dengan teknik tradisional. Belum ada campur tangan pemerintah di dalamnya, baik berupa pembinaan maupun model pendampingan lainnya.

“Di sini jumlah pembuat gula Bali (gula merah) ada sekitar 20 orang, tidak sebanyak di (Dusun) Peradi, tapi memang sangat penting dan menjadi sumber penghidupan mereka. Tapi, memang belum pernah ada pembinaan langsung dari pemerintah. Mereka melakoni ini kebanyakan karena mewarisi dari orang tuanya secara turun-temurun,” katanya usai mendampingi rombongan DPK Peradah Indonesia Bangli menyalurkan jotan kepada salah satu warga yang juga pembuat gula merah lontar, I Teka.

Ditambahkan, kondisi lingkungan di kawasan tersebut memang menyulitkan masyarakat untuk dapat bertani sepanjang tahun. Ketika kemarau tiba, tanah akan mengering dan tandus. Hal ini membuat masyarakat berupaya mencari celah kehidupan lain seperti beternak sapi, termasuk memanfaatkan pohon lontar yang banyak tumbuh di kawasan itu.

“Pohon-pohon lontar di sini usianya mungkin sudah ratusan tahun, seingat saya memang sudah setinggi sekarang. Sudah disadap dari dulu oleh orang tua untuk diambil tuaknya dan dijadikan gula, tidak ada yang ditanam baru-baru ini,” imbuhnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.