Mencari Model Pemberdayaan Tokoh Agama Dalam Menghilangkan Paham Intoleran

Narasumber foto bersama dengan peserta Seminar Ilmiah Nasional di Aula Gereja Katolik MBSB Nusa Dua
Narasumber foto bersama dengan peserta Seminar Ilmiah Nasional di Aula Gereja Katolik MBSB Nusa Dua
569 Melihat

Dari Seminar Ilmiah Nasional “Merdeka Tanpa Radikalisme”

Universitas Dyana Pura bekerjasama dengan Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi mengggelar Seminar Ilmiah Nasional dan Focus Discus Group (FGD) mengusung tema “Merdeka Tanpa Radikalisasi”, di Aula Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua, Senin (12/8/2019). Seminar ini juga menggandeng Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali dan Paguyuban Asosiasi Umat Beragama (PAUB) kompleks Puja Mandala Nusa Dua.

Sebanyak 100 orang dari berbagai elemen lintas agama menghadiri seminar tersebut. Tampi sebagai sebagai pembicara utama, Ketua Umum FKUB Indonesia, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet dan Ketua PAUB Puja Mandala, Drs Wayan Solo, Msi.

Ketua Panitia Seminiar Ilmia, Dr Dermawan Waruwu, S.Th, M.Si menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan karena tim peneliti dari Universitas Dyana Pura telah menemukan ada hal hal yang berpotensi bangsa Indonesia terpapar radikalisme. “Riset kami menemukan, kalau tidak diantisipasi sekarang, maka radikalisme itu akan menjadi virus yang merusak tatanan berbangsa dan negara. Terlebih lagi akan merusakan kehidupan keluarga dan lembaga Pendidikan,” kata Dermawan.

Dr Drmawan Waruwu menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet

Menurutnya dari riset Dhyanapura menemukan juga ada lembaga pendidikan dan civitas akademika, PNS, aparat sudah terpapar aliran radikalisme. Bahkan mahasiswa di beberapa kampus universitas ternama juga sudah terkena virus radikalisme. “Melalui seminar hari ini (kemarin-red) bisa memberi edukasi kepada semua pihak, baik tokoh agama, para tokoh masyarakat dan pelajar, mahasiswa, penyuluh agama, tokoh adat. Para tokoh yang hadir di seminar ini bisa mensosialisasikan kepada komunitas mereka tentang paham radikalisme,”ujarnya

Lanjutny tema hari ini adalah Merdeka Tanpa Radikalisme. Indonesia sudah merdeka 74 tahun tetapi paham radikalisme masih terus menyusup masuk ke semua lini dan bisa jadi menguasai lembaga pemerintah dan swasta. “Melalui tema ini diharapkan kemerdekaan itu bisa kita nikmati Bersama sehingga ketuhan bangsa Indonesia itu tetap terjaga berdasar, Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika yang menjadi dasar dan falsafah negara kita,” ujarnya menjelaskan hasil seminar ini akan diserahkan ke Kemenristekdikti dan kementerian terkait seperti Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri. “Dialog seperti ini terus digalakan sehingga radikalisme menjadi musuh Bersama, dan yang sudah terpapar aliran radikalisme kembali ke jalan yang benar sesuai dengan Pancasila dan UUD 45,”katanya mengakhiri.

Ketua Umum FKUB Indonesia, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet dalam pemaparannya menjelaskan, tantangan Indonesia ke depan masih sangat berat terkait keberadaan kelompok radikalisme dan kaum intoleran. “FKUB Indonesia dan Propinsi Bali terus melakukan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memberi pemahaman sekaligus pencegahan terhadap bahaya radikalisme. Negara ini sudah punya pengalaman menghadap berbagai krisis. Namun kita tegar, kokoh dan kuat menghadapi. Sekarang yang mau dipakai adalah melalui isu agama. Kalau kita rapuh soal agama maka kaum intoleran dan radikalis akan leluasa menguasai dan keutuhan negara akan terancam,”tegasnya.

Lanjutnya, FKUB hanya bisa berkata, hanya menyarankan dan memberi masukan terkait nilai nilai agama, kearifan lokal, keberagaman dan lainnya, tapi eksekusi ada pada kekuasaan entah itu eksekutif, legislatif dan yudikatif. “Kami memberi masukan dan saran, tapi eksekusi itu ada pada negara yang mempunyai aparat. Eksekusi ada di kepolisian, ada di kejaksaan, ada di kehakiman karena mereka punya kekuatan yanga dilindungi negara,”tandasnya kembali mengingatkan tantangan bangsa ini ke depan semakin berat, walaupun negara telah melakukan penindakan. “Tapi kelompok kelompok ini telah masuk ke semua lini sehingga perlu kita waspada dan pancasila, UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika tetap menjadi pedoman dan pegangan kita sebagai anak bangsa.

Pembicara dari Tim Peneliti Universitas Dyhana Pura, Dr. Dermawan Waruwu, S.TH, M.Si, Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ, M. Repro, FIAS dan Dr. Ni Made Diana Erfiani, S.S, M.Si.poll

1 Comment

  1. Harapan sebagian besar rakyat Indonesia jelas sama dengan apa yang diharapkan dalam seminar. Yang menjadi persoalan adalah pengaruh pandangan yang menampik Pancasila di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di lembaha pendidikan tinggi dan lembaga-lembaga negara maupun swasta masih begitu kuat. Pada acara TV tadi pagi malah ada wacana pengembalian UUD 1945 ke bentuknya yang asli. Salah seorang yang menegaskan hal itu ialah mantan Wakil Presiden RI, Tris Sutrisno.

    Wacana serupa sudah lama digaungkan FPI dan HTI. Fadli Zon dari Gerindra juga terus mewacanakan hal tersebut. Jika hal ini diwadahi dalam wacana amandemen UUD 1945 yang dilintarkan PDIP, maka berbagai konsekuensi yang mengarah pada kemunduran kita berbangsa dan bernegara sudah mengintip di depan pintu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.