Membawa Memori Relief Yeh Pulu ke Dunia Kekinian

I Wayan 'Kun' Adnyana berfoto di depan lukisan karyanya yang akan dipamerkan di Museum Neka, Ubud.
I Wayan 'Kun' Adnyana berfoto di depan lukisan karyanya yang akan dipamerkan di Museum Neka, Ubud.
660 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Apa yang tergambar di dalam benak ketika karakter-karakter dalam relief Yeh Pulu peninggalan peradaban Bali Kuno “berjalan-jalan” ke Monas atau Opera House Sydney? Jawabannya dapat ditemui pada lukisan berjudul “A Scape of Desire” dan “Vacation 1” hasil pemindahlokasian (globalising) karakter relief Yeh Pulu oleh perupa Bali, Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana.

Karya-karya tersebut merupakan dua dari 30 karya terbaru akademisi seni rupa yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Bali ini. Karya-karya tersebut sejatinya telah dipamerkan di Australia, 25 Juli-13 Agustus 2019 lalu, dan akan dipamerkan kembali di Museum Neka, Ubud, Gianyar. Pameran tunggal mengambil tajuk “Sudra Sutra” direncanakan akan dibuka oleh pecinta seni, H. Erick Thohir, Jumat (11/10).

Dituturkannya, kelahiran karya-karya yang akan dipamerkan dalam “Sudra Sutra” adalah muara dari penelitian yang panjang. Proses kreatif lukisan-lukisan tersebut beranjak dari riset selama tiga tahun terakhir yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti.

Selama tiga tahun berjalan, penelitian itu dibaginya dalam tiga tahap yang dibagi per tahun. Pada tahun pertama terlahir 15 lukisan, tahun kedua lahir 18 lukisan, dan pada tahun ketiga dihasilkan 28 karya. “Yang dipamerkan pada ‘Sudra Sutra’ adalah hasil penelitian tahun ketiga, ditambah dua lukisan karya tahun 2018,” katanya di Denpasar, Rabu (9/10).

Selama tiga tahun melakukan penelitian intensif, ia telah menjalani berbagai rangkaian. Pada tahun pertama penelitiannya, ia berhasil menemukan konsep dan teknik relief Yeh Pulu. Konsep yang berhasil dirunutnya adalah kepahlawanan dunia sehari-hari orang-orang biasa, sedangkan teknik yang ditemukan adalah cara mewarnai, cara mengkomposisi, memilih objek sentral, memecah objek dengan teknik gunting cuting, dan menggambar dengan teknik drawing.

“Bernet Kampers dalam bukunya Monumental Bali (1978) menilai relief itu bercerita tentang kepahlawanan Krisna melawan beruang (Jambawan). Namun, setelah dilakukan penelitian ikonografi, tidak ada ikon Krisna yang ditemukan, ikonnya menandakan rakyat biasa, bukan Krisna. Begitu juga relief yang dinyatakan sebagai bertarung dengan beruang, menurut saya adalah bertarung dengan macan, karena memori beruang itu tidak dimiliki orang Bali, kalau macan memang dulu ada,” tuturnya.

Setelah menemukan konsep dan teknik, pada tahun kedua ia melakukan analisis ikonografi yang berpijak pada teori Ikonologi. Berdasar analisisnya ia menemukan tidak ada cerita tunggal yang dibangun, namun sebuah narasi yang jamak, yang menguatkan konsep kepahlawanan dunia sehari-hari orang-orang awam yang telah ditemukan lebih dulu.

Beranjak dari teknik itu, ia kemudian meneruskan ke artistik yang dilakukan dengan pola pelapusan (layering) dan dekonstruksi. “Dalam dekonstruksinya, kalau dalam relief laki-laki mengendarai kuda, di lukisan digambarkan perempuan yang mengendarai kuda. Jika di relief tokoh laki-laki dan perempuan tidak bertemu, di lukisan dipertemukan,” tambahnya.

Pada tahun ketiga, ia mulai melakukan proses tahap pascaikonologi. Melalui tafsir-tafsir ikonografi, meliputi tafsir motif, simbol, dan narasi itulah 28 lukisan itu kemudiaan lahir. “Pascaikonogi adalah menyambung intrinsik dan ekstrisik. Saya ambil referensi Cerita Panji yang kemudian saya namai konsep drama. Kepahlawanan dunia sehari-hari tidak akan menarik tanpa romantika. Ada jeda ketika diinginkan dan sebelum dicapai,” jelasnya.

Dalam tahap ini, ia melakukan pendekatan estetik dengan berpijak pada tiga tumpuan, yakni pembikaian ulang (refreaming), pemeranan ulang, dan pemindahlokasian (globalising). Pada pembingkaian ulang ia membawa karakter-karakter dalam relief Yeh Pulu untuk bersanding relief perahu bercadik pada relief Borobudur. Sedangkan pada pemeranan ulang, dicontohkannya dengan membawa karakter-karakter yang awalnya mengendarai kuda digambarkan mengendarai vespa, harley, dan lain-lain.

“Globalising kita bawa karakter dalam relief ke Monas, ke Opera House, ke jalanan Yogyakarta. Tujuannya adalah memindahkan memori kekinian, sehingga ketika melihat lukisan tersebut pembaca bisa merasa dekat, sekaligus terbawa pada ingatan relief Yeh Pulu,” tutup ‘Kun’ Adnyana. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.