Mediasi Keluhan Pedagang Pasar Kuta I Temukan Kesepakatan

suasana mediasi antara keluhan pedagang pasar Kuta 1 dengan Perumda Pasar Mangu Giri Sedana
545 Melihat
Dipicu Komplain Kenaikan Tarif Yang dinilai Memberatkan

MANGUPURA, POSBALI.co.id – Sebanyak 45 pedagang di pasar Kuta I, Senin (16/3) menyampaikan keluh kesahnya kepada Direksi Perumda Pasar Mangu Giri Sedana di aula kantor camat Kuta. Pertemuan yang diinisiasi oleh anggota DPRD Badung dapil Kuta, I Gusti Anom Gumanti tersebut membahas tentang keluhan pedagang pasar, terkait kenaikan tarif retribusi yang dinilai terlalu tinggi. Sehingga hal tersebut dirasakan memberatkan pedagang pasar, terlebih fasilitas yang didapat dinilai kurang sesuai dengan kenaikan tarif tersebut. Namun dari pertemuan tersebut disepakati bahwa kenaikan tarif retribusi diberlakukan Rp 3000 untuk seluruh pedagang di Pasar Kuta I.

Direktur Perumda Pasar Mangu Giri Sedana, Made Sukantra menerangkan pertemuan tersebut sebenarnya untuk memperjelas adanya mis persepsi di kalangan pedagang pasar Kuta I. Dimana kenaikan tarif tersebut sebenarnya sudah disepakati pada tanggal 13 Januari 2020, namun didalamnya memang ada sedikit revisi SK. Revisi SK itulah yang dinilainya belum dipahami oleh pedagang, sehingga hal itu memicu polemik. Hal itu dikarenakan pedagang meniai kenaikan retribusi tersebut dirasa menggunakan SK yang lama. “Untuk SK nya belum bisa saya info hari ini, sebab saya tidak bawa. Tapi intinya itu sudah disepakati kok,”ujarnya.

Dipaparkannya, kenaikan tarif retribusi tersebut merupakan kebijakan atas adanya temuan BPK. Dimana saat ini tarif air dan fasilitas umum di pasar harus dikenakan tarif pajak. Sementara tarif tersebut sebelumnya belum dikenakan sama sekali, sehingga hal itu menjadi pertanyaan. Karena itulah kenaikan tarif tersebut pada dasarnya bentuk penyesuaian atas pengenaan tarif air dan fasilitas umum di dalam pasar. Kenaikan tarif tersebut berlaku untuk seluruh pasar dibawah pengelolaan pihaknya, namun dengan penyesuaian tarif bervariasi. “Untuk pedagang kios yang ada di pasar Kuta 1 itu sebanyak 46 unit, sedangkan los pasar itu ada sekitar 300an unit. Jadi kenaikan tarif itu disepakati Rp 3000 rupiah tadi,”jelasnya.

Sementara I Gusti Anom Gumanti menerangkan, pertemuan tersebut digelar untuk memediasi keluhan pedagang pasar Kuta I yang disampaikan kepada pihaknya. Dimana kenaikan tarif retribusi pasar Kuta I dinilai memberatkan para pedagang. Agar mencegah permasalahan itu berlarut-larut, dan menimbulkan hubungan yang tidak sehat antara Perumda, pengelola dan pedagang pasar, hal itu kemudian didiskusikan bersama untuk mencari jalan tengah atas permasalahan tersebut. Dimana penyesuaian tarif disepakati kedua belah pihak, tanpa membuat kondisi manajemen pasar menjadi tidak sehat dan tanpa memberatkan pedagang itu sendiri. “Tadi sudah disepakati kenaikan tarif itu sebesar Rp 3000 untuk semua pedagang. Semula kenaikannya ini bervariatif menyesuaikan blok,”terangnya.

Pada dasarnya para pedagang diakuinya  tidak mempermasalahkan adanya kenaikan tarif retribusi. Sepanjang kondisi pasar bisa lebih baik, higienis dan nyaman dikunjungi. Namun kenaikan tersebut dinilai melebihi atas kondisi fasilitas yang didapatkan para pedagang, sehingga hal itu dinilai memberatkan dan tidak sesuai adanya. Kedepan pihaknya berharap kenaikan tarif tersebut agar bisa dilakukan, menyesuaikan dengan kondisi pasar dan perekonomian pedagang. Sehingga hal itu tidak kembali menimbulkan keluhan.

Camat Kuta, Nyoman Rudiarta mengapresiasi atas dicapainya kesepakatan tersebut, atas pengawalan I Gusti Anom Gumanti. Namun kedepan setiap pedagang diminta agar tidak kembali komplain atas kesepakatan yang telah mereka buat tersebut. Terlebih lagi kenaikan tarif tersebut notabene adalah untuk menunjang operasional pasar itu sendiri dan dinikmati oleh pedagang maupun pengunjung pasar. “Jika ada usulan atau saran terhadap kondisi pasar, saya harap ini agar dikomunikasikan dan diusulkan, sehingga ini bisa dianggarkan perbaikan,”imbaunya.

Disisi lain, pihaknya juga meminta agar jajaran Perumda Pasar agar membuatkan notulen dari kesepakatan tersebut. Dimana setiap notulen kesepakatan harus disosialisasikan oleh pengelola pasar kepada pedagang pasar. Sehingga kedepan hal itu tidak kembali menimbulkan kisruh akibat adanya mis komunikasi. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.