MDA Bali Tegaskan Nyepi Caka 1943 Tanpa Ogoh-ogoh

Suasana rakor yang digelar Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali di The Vasini Hotel, Denpasar, Rabu (10/2/2021), tampak menerapkan protokol kesehatan yang ketat. 
235 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali melarang tradisi arak-arakan ogoh-ogah dalam rangkaian perayaan Nyepi Caka 1943, pada tanggal 14 Maret 2021 mendatang. Hal tersebut disampaikan Bendesa Agung MDA Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet saat mengikuti rapat koordinasi (rakor) yang diadakan Kantor Kementerian Agama Provinsi Bali, di The Vasini Hotel, Denpasar, Rabu (10/2/2021).

Menurutnya, kebijakan ini karena melihat kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda Bali. Kasus terkonfirmasi positif harian dari transmisi lokal masih tinggi. “Pawai atau arak-arakan ogoh-ogoh ini bukan sesuatu yang wajib dalam ritual Nyepi. Tetapi merupakan budaya yang berkaitan dengan makna Nyepi, sehingga bisa ditiadakan,” jelasnya.

Sukahet menambahkan, di masa pandemi ini, masyarakat dihimbau agar melaksanakan protokol kesehatan dengan menerapkan 6M. Yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi bepergian, mencegah kerumunan, dan meningkatkan imun tubuh. “Karena itu, maka pawai ogoh-ogoh tidak diadakan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Komang Sri Marhaeni menyampaikan bahwa rakor dengan tema ‘Tetap Jaga Kerukunan di Masa Pandemi Covid-19 menuju Indonesia Rukun, bertujuan untuk membuat kesepakatan bersama yang akan ditindaklanjuti kabupaten/kota se-Bali. “Tujuannya, walaupun di tengah pandemi Covid-19, Catur Berata Penyepian harus tetap berjalan dengan baik. Bali tetap rukun dan damai,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, rapat ini juga untuk menindaklanjuti surat keputusan baik dari Gubernur Bali, PHDI Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali tentang pelaksanaan Nyepi di tengah pandemi. “Jadi hasil kesepakatan ini akan kami sosialisasikan hingga ke grassroad,” tandasnya sembari menegaskan, Kanwil di kabupaten/kota tidak lagi membuat keputusan bersama.

Sebelumnya, Ketua Panitia IB Dibya menyampaikan rapat koordinasi ini membahas tentang seruan Nyepi Caka 1943. Tujuan rapat ini, lanjut dia, untuk menyamakan persepsi antar umat beragama jelang prosesi pergantian tahun baru caka ini. “Hari Raya Nyepi merupakan momentum dalam rangka meningkatkan toleransi antar umar beragama, di mana dalam pelaksanaannya sangat unik dan satu-satunya di dunia yang bisa menghentikan kegiatan selama 24 jam,” pungkasnya. 019

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.