Mantan Penyiar Radio Gema Merdeka Raih Gelar Doktor

Gung Adi saat mempresentasikan disertasinya di hadapan tim penguji di Kampus UNHI, Jumat (27/9) kemarin
Gung Adi saat mempresentasikan disertasinya di hadapan tim penguji di Kampus UNHI, Jumat (27/9) kemarin
1,040 Melihat

DENPASAR, POS BALI, Mantan penyiar Radio Gema Merdeka, Drs. Anak Agung Ketut Adi Antara, M.Si meraih gelar Doktor setelah  menjalani sidang akademik  Ujian Terbuka di Universitas  Hindu Indonesia (UNHI), Jumat, (27/9/2019). Wajah pria kelahiran Denpasar, 6 Mei 1961 tampak sumringah saat ditemui wartawan koran ini. 

Pensiunan perwira Polda Bali dengan dua melati di pundak ini berhasil mempertahankan  disertasi di hadapan 9 tim penguji dengan judul disertasi “Ideologi Di Balik Perang Puputan Badung”. Materi dan kepiawaian dalam menjelaskan, mempertahankan disertasi di hadapan tim penguji, akhirnya ia dinyatakan lulus sangat memuaskan.

Ko Promotor mantan Kasubdit Tibsos Direktorat Polda Bali ini yakni Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si yang juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Hindu Indonesia, Denpasar. Sedangkan promotor, Prof  Dr.I Putu Gelgel, SH, M.Hum. “Ada tiga masalah yang saya teliti dalam disertasi ini. Pertama, ideologi di balik Perang Puputan Badung, kedua proses penanaman ideologi Puputan Badung dan ketiga, PuputanBadung dalam konteks kekinian,” kata pria yang menjadi penyiar radio sejak tahun 1978.

Gung Adi mendampingi mantan Wakapolda Bali, Brigjen Pol Alit Sudana dalam suatu kesempatan

Mantan Kasat Bimas Polres Kaltim ini menjelaskan, ideologi di balik Perang Badung adalah wirang atau karakter heroik pertama yang menjadi etos kepemimpinan Raja Badung pada waktu itu. Kedua, Honor dan Harga Diri. “Selain ideologi kepahlawanan, Perang Puputan Badung juga tak lepas dari soal kehormatan dan martabat Sang Raja dan rakyatnya yang pada saat itu. Keputusan Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung atau yang  kita sebut dengan Cokorda Mantuk Ring Rana melakukan Puputan Badung dengan Belanda tak dapat dipisahkan dari pandangan hidup dan nilai-nilai diyakini Sang Raja,”kata Gung Adi sapaannya yang menjadi penyiar di Gema Merdeka dari tahun 1986-1989. “Dan di tahun 1989, saya melamar menjadi polisi. 10 tahun menjadi penyiar sesuatu sangat berharga bagi perjalanan karier saya di kepolisian,”ucapnya.

Ia menegaskan, ideologi Puputan Badung dalam konteks kekinian dapat dilihat melalui beberapa peristiwa dan peringatan. Pertama perang Puputan Margarana. Kedua, melalui peringatan Puputan Badung.  Salah satu upaya memperingati dan menerapka sistem nilai dalam peperangan Badung adalah dengan selalu mengenan peristiwa Puputan Badung. Dan yang ketiga melalui aksi lingkungan.

Menjadi penyiar hoby. Kapan dan dimanapun tetap menyiar

Khusus di Bali, gerakan-gerakan sosial juga memerlukan landasan ideologis, salah satunya adalah puputan. Setidaknya hal ini tercermin melalui aksi-aksi penolakan pembangunan akomodasi pariwisata yang tak mencerminkan kearifan lokal Bali. “Ideologi puputan mesti diadopsi sebagai semangat memperjuangkan kelestarian Bali dan alamnyha dari ancaman industrialisasi pariwisata,”tandasnya

Gung Adi pensiun dari polisi awal Januari 2019, pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP)  dengan jabatan sebagai Kasubdit Ketertiban Sosial, Direktorat Bimas Polda Bali. Sebelumnya,  Gung Adi juga sempat di Direktorat Pengamanan Pariwisata Polda Bali, Direktorat Intel Polda Bali dan Kasat Bimas Polresta Denpasar.  Hadir pada ujian terbuka, isteri dan anak-anak, keluarga besar Gung Adi, dan sejumlah rekan rekan polisi baik yang aktif dan sudah pensiun.  003

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.