Mantan Menbudpar Gede Ardika Berpulang, Penggagas Desa Wisata Berbasis Budaya

Gede Ardika
458 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Putra terbaik Buleleng yakni I Gede Ardika yang merupakan mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) RI periode tahun 2000 – 2004 berpulang pada usianya 76 tahun, Sabtu (20/2/2021) pukul 07.46 WIB pagi di Rumah Sakit St Borromeus Bandung, Jawa Barat (Jabar).

Ardika putra asal Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng yang menjabat Menteri di era Presiden RI IV Abdurrahman Wahid pada periode 2000 – 2001 dan Presiden RI V yakni Megawati Soekarno Putri periode 2001 – 2004 ini, meninggal dunia setelah mengalami sakit sejak beberapa tahun lalu. “Ya benar, kabar duka itu kami terima tadi pagi pukul 09.00 WITA. Katanya beliau sudah berpulang, di RS St Borromeus Bandung,” ujar salah seorang keluarga mendiang Ardika, Gede Suharsana (60), ditemui pada Sabtu (20/2/2021) siang di rumah almarhum yang ada di Banjar Bantes, Desa Sudaji.

Almarhum Gede Ardika, diakui Gede Suharsana, merupakan sosok yang sederhana, ramah, dan cerdas. Meski menjabat sebagai menteri di tahun 2000 hingga 2004 lalu, almarhum Gede Ardika selalu bergaul dengan siapapun bahkan dari berbagai kalangan, terutama dengan sanak keluarganya.

“Orangnya sangat ramah. Ingat saudara. Kalau waktu pulang ke Bali, biasanya almarhum tinggalnya di rumah di Singaraja. Selalu nelpon saya, diminta main kesana sekalian melepas kangen sambil ngobrol dengan keluarga,” kata Suharsana ketika mengenang sosok Ardika.

Kakak almarhum Gede Ardika, Luh Reti duduk di kursi didampingi sepupunya Gede Suharsana, ketika ditemui di kediamannya di Singaraja, Sabtu (20/2/2021).

Almarhum Gede Ardika mulai berkecimpung di dunia pariwisata setelah lulus dari Akademi Perhotelan di Bandung pada tahun 1967 lalu. Suami dari almarhum Indriyati ini selanjutnya memperoleh beasiswa dari pemerintah untuk menempuh pendidikan Manajemen Perhotelan di Institut Internasional Glion, Swiss, pada tahun 1969.

Lalu pada tahun 1972, Gede Ardika akhirnya kembali ke Indonesia dan berkarier di APN Bandung. Sejak itulah kariernya mulai menanjak naik. Gede Ardika kemudian menjabat sebagai Kepala Seksi Pengajaran dan sekaligus dosen mata kuliah housekeeping di APN Bandung.

Bukan hanya itu saja, Gede Ardika juga adalah perintis Politeknik Pariwisata Bali yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali Nusa Dua dan menjabat sebagai Ketua periode tahun 1978 hingga 1985.

Pada tahun 1996, Gede Ardika dilantik sebagai Sekretaris Ditjen Pariwisata. Selang dua tahun kemudian, Gede Ardika diangkat untuk menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Pariwisata pada Departemen Pariwisata Seni dan Budaya RI.

Dan pada tahun 2000, Presiden RI IV, Almarhum (alm) Abdurahman Wahid, Ardika dipercaya menduduki jabatan sebagai Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) RI untuk Kabinet Persatuan Nasional hingga tahun 2001.

Kemudian pada Kabinet Gotong Royong dibawah kepemimpinan Presiden RI V yakni Megawati Soekarno Putri, Gede Ardika kembali dipercaya menjabat Menbudpar RI hingga tahun 2004.

Meskipun sudah tidak menjabat sebagai Menteri dan tinggal di Bandung, Ardika kerap menyumbangkan pikirannya untuk membangun Desa Sudaji yang tak lain adalah tanah kelahirannya. Bahkan, ide desa wisata yang berbasis budaya dan ekologi terus didengungkan hingga saat ini.

“Saya sering ditanya beliau, terkait perkembangan pariwisata di desa Sudaji. Beliau menyarankan agar pengembangan wisata desa berbasis budaya dan ekologi atau back to nature, karena itu adalah pariwisata yang berkualitas dan mampu membangun ekonomi dari desa,” ucap Suharsana, didampingi kakak tertua mendiang, Luh Reti (85).

Terakhir, sambung Suharsana, mendiang yang merupakan kakak sepupunya ini pulang ke Bali pada Maret tahun 2020 lalu. Mendiang meninggalkan dua orang putri tercintanya. Sedangkan istri mendiang lebih dulu berpulang sekitar 6 tahun lalu. “Saat pulang beliau sudah sakit dan berpesan, agar nanti jasadnya juga diaben di Sudaji,” ungkap Suharsana.

Sementara kakak mendiang, Luh Reti menuturkan, adiknya (mendiang Gede Ardika) adalah anak yang pintar. Gede Ardika lahir pada 15 Februari 1945 dari ayah bernama Made Arka dan ibunya Ni Made Sandat. Ardika saat SD mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) di Desa Sudaji, selama 3 tahun.

Kemudian kelas IV pindah di SDN 2 Singaraja. Kemudian, Ardika melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Singaraja, dan lanjut ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Singaraja. “Beliau adalah orang cerdas. Selain itu, beliau juga punya bakat seni rupa dan seni tabuh,” kenang Luh Reti.

Dari kabar yang diterima, menurut rencana jenazah mendiang Gede Ardika akan diupacarai mekinsan di geni, pada Senin (22/2/2021), bertempat di krematorium yang berlokasi di rumah duka RS St Boromeus, Bandung. rik

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.