Mantan Ketua STP Nusa Dua Byomantara Tersangka

ILUSTRSI
ILUSTRSI
1,449 Melihat

Berita HL

Diduga Korupsi dana IOM STPND

DENPASAR, POS BALI – Dana Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM) di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua (STPND) diduga disalahgunakan. Dugaan penyimpangan dana IOM tahun 2016 – 2017 dari Sekolah Tinggi yang bernaung dibawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif inipun menjadi bidikan Penyidik Polda Bali. Informasi yang dihimpun, dana yang diduga dikorupsi ini mencapai hampir Rp2 miliar.

Menurut sumber, pihak penyidik Polda Bali sudah mengirimkan SPDP (Surat Pemberitahuan Dimualinya Penyidikan) ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali. “Setelah SPDP dikirim, penyidik sudah mengirimkan berkas penyidikan alias sudah  Sudah P-19. Jaksa yang ditunjuk sudah memberikan beberapa petunjuk ke penyidik  agar berkas dilengkapi,” jelas sumber, Minggu, (27/10) kemarin.

Bahkan, setelah menaikan proses penyelidikan ke penyidikan, penyidik Polda Bali sudah menetapkan tersangka, yakni Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua berinisial, DGNB. Surat penetapan tersangka tersebut bernomor: S.Tap/32/VII/2019/Ditreskrimsus Polda Bali tertanggal 31 Juli 2019.

Tersangka Drs. Dewa Gede Ngurah Byomantara, M.Ed (DGNB),  berusia 56 tahun, kelahiran Klungkung, 28 Februari 1962, itu diduga menyalahgunakan wewenang dan jabatan dalam pemungutan biaya dana penunjang pendidikan mahasiswa STPND yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah (PP) Nomor 9/2015 tentang jenis dan tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Selain Ketua STPNB, penyidik kabarnya juga sudah menetapkan tersangka lain yang menjabat Ketua IOM berinisial NM. Penyalahgunaan dana IOM tersebut dapat menimbulkan kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP. Penyidik juga sudah melakukan ekspose dengan BPKP Perwakilan Provinsi Bali sejak 17 Januari 2018.

Sumber yang meminta namanya tidak dikorankan itu mengungkapkan, pihak kampus menggunakan dana IOM dalam berbagai jenis kegiatan. Yang menjadi temuan, kegiatan yang memakai dana IOM ternyata sudah dibiayai oleh negara melalui daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA).

Terkadang, dana IOM juga digunakan untuk menambal kekurangan dana yang tak bisa dipertanggungjawabkan. “Dana IOM disalahgunakan untuk berbagai kepentingan kampus. Jadi, kasusnya ini dobel anggaran,” tukas sumber.

Salah satu contoh penyalahgunaan dana IOM yakni untuk wisuda, kegiatan praktik mahasiswa dan menjamu tamu yang bersumber dari DIPA 2016 sebesar Rp 49,4 juta. Namun, bendahara tidak dapat bisa memberitakan  pertanggungjawabkan dana Rp23 juta. Selanjutnya, ketua STPND mengeluarkan memo kepada Ketua IOM meminta dana sebesar Rp23 juta untuk menutupi dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu.

Contoh lain, sambung sumber, adalah kegiatan sidang promosi salah seorang doktor  menghabiskan dana Rp15 juta. Ada juga pemborosan untuk membayar internet setiap bulannya Rp15 juta. Selain itu, ada juga permintaan dana Rp14,7 juta untuk kegiatan pelatihan salah seorang dosen. Namun, setelah pelatihan tidak bisa dipertanggungjawabkan. “Dana IOM ini juga ada kaitannya dengan mark-up seragam mahsiswa,” tukasnya.

Sementara itu, Asisten Pidana Khusus, (Aspidsus) Kejati Bali, I Nyoman Sucitrawan saat dikonfirmasi, mebenarkan sudah menerima berkas dari penyidik Polda Bali terkait penyalahgunaan dana IOM STPND.

“Ya, kami ada menerima. Sementara berkas dari penyidik masih belum terpenuhi, maka dari itu kami kembalikan dan kami beri petunjuk untuk dilengkapi. Istilahnya P-19. Sudah saya tandatangani,” jelas Sucitrawan yang dihubungi melalui ponselnya, Minggu sore kemarin.

Ditanya jumlah tersangka, Nyoman Sucitrawan yang sebelum menjabat sebagai Kepala Kejaksaan (Kejari) Karangasem ini mengatakan, sesuai SPDP, ada dua tersangka, yakni Ketua STPND dan Ketua IOM.

Namun, yang ada dalam berkas P-19 baru satu tersangka, yakni Ketua STPND. “Berkas yang baru kami terima, berkas Ketua STPND dan sudah dikembalikan dengan beberapa petunjuk yang harus dipenuhi penyidik,”  ungkapnya.

Terkait jumlah kerugian, Aspidus mengatakan tidak ingat pasti. “Kerugian kalau tidak salah, sekitar Rp2 miliar, pungkasnya.

Mantan Ketua STP Nusa Dua, Drs. Dewa Gede Ngurah Byomantara, M.Ed sempat dihubungi melalui telepon selulernya untuk konfirmasi, Minggu (27/10) tadi malam, namun ponselnya tidak aktif.   009/003

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.