Mahir Seni Pahat, Remaja 16 Tahun Ingin Memiliki Sanggar

940 Melihat

BULELENG, POS BALI – Kreatifitas anak asal Desa Anturan, Buleleng, bernama Gede Arya Irfan Julianto patut dicontoh oleh anak-anak lainnya. Pasalnya, diusia yang baru menginjak 16 tahun sangat mahir memahat kerajinan patung dan seni lainnya. Saking mahirnya, pria yang masih duduk dibangku kelas 1 SMKN 1 Sukasada ini, sudah mampu membuat gamelan meski dengan bahan yang sederhana.

Bakat dari Gede Arya yang akrab disapa Tino ini, memang sudah terlihat sejak bocah ini duduk di bangku SMP. Tino mulai belajar memahat dan memainkan gambelan, setelah melihat tetangganya yang bernama Ketut Budiasa (52) yang juga seorang seniman. Darisanalah, Tino bercita-cita ingin menjadi seniman di bidang seni kerawitan.

Niat Tino itu langsung disampaikan ke ayahnya, Jro Ngurah Ambara. Ayahnya yang mendengar keinginan anaknya itu, berjanji akan membelikan gamelan kecil. Namun nyatanya, hingga kini keinginan itu belum terpenuhi oleh ayahnya. Karena keinginannya tak terpenuhi, Tino merasa jengah. Ia kemudian belajar untuk bisa memiliki sebuah gamelan.

Beberapa kayu dibentuk dan diukir  dengan pahat miliknya untuk dijadikan sebuah ukiran bentuk gamelan pada umumnya. Begitu juga besi yang ia beli dari tempat rongsokan dibentuk agar bisa menghasilkan suara gamelan. Meski berbahan besi, namun suara yang dihasilkan mirip dengan gamelan pada umumnya.

Ketika disambangi dikediamannya pada Selasa (8/1) siang, Tino tampak sibuk memahat layu agar berbentuk kerajinan. Tino mengaku, banyak belajar dari orang lain, sehingga ia bisa mengukir. “Kalau ngukir belajar sendiri. Awalnya melihat-melihat waktu bapak ngajak ke Sawan sama Gianyar. Waktu kelas 2 SMP, saya belajar di rumah ngukir kayu, kakek yang membelikan pahat lengkap. Sekarang  sudah dapat menjual gamelan bahannya dari besi, tapi suaranya sama dengan yang dari perunggu tapi sedikit beda,” kata Tino.

Selama ini Tino hidup dengan ayahnya, mengingat antara ibu dan ayahnya sudah bercerai. Ayah Tino yakmkJro Ambara, bekerja sebagai wirausaha. Setelah lulus di SMP PGRI 2 Buleleng di Desa Anturan, Tino sebenarnya ingin sekolah di SMAN di Singaraja. Namun karena kemahirannya memahat ukiran dan seni gamelan, sampai-sampai salah seorang guru di SMKN 1 Sukasada mendatangi Tino, agar mau bersekolah di SMKN 1 Sukasada.

Hingga akhirnya, Tino pun menerima tawaran itu. “Maunya bersekolah di SMA lain di Singaraja, tapi dari pihak SMIK (SMKN 1 Sukasada), menganjurkan saya sekolah disana. Setelah dididik, saya punya prestasi juara 1 dibidang seni karawitan,” ungkap Tino yang sambil melanjutkan memahat kayu.

Sementara ayah Tino, Jro Ngurah Ambara mengaku, kaget melihat skil yang dimiliki anaknya. “Ya ini mungkin bakat dia. Jujur saja saya kaget, kok bisa. Jujur memang pernah saya janji belikan gamelan, tapi dimana saya cari uang. Tapi melihat bakat anak saya ini, saya berharap ini yang terbaik untuk dia,” ucap Jro Ambara. Meski sangat mahir dalam seni pahat ukiran, masih ada keinginan Tino yang belum terpenuhi yakni memiliki sebuah sanggar seni yang nantinya mampu mengajarkan anak-anak di Desa Anturan untuk belajar di bidang seni karawitan. “Maunya saya sih punya sanggar seni. Kalau punya sanggar kan bagus, bisa ajak anak-anak lainnya belajar seni,” pungkas Tino. 018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.