LVRI Bali Anugerahkan Penghargaan kepada Bagus Made Wena dan MPB

Penyerahan penghargaan kepada Alm. Bagus Made Wena dan Monumen Perjuangan Bangsal (MPB) di Dalung, Badung, Minggu (16/8).
454 Melihat

MANGUPURA, posbali.co.id – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali menganugerahkan penghargaan ‘Nilai-Nilai Kejuangan Kemerdekaan RI’ kepada Almarhum Bagus Made Wena dan kawasan Monumen Perjuangan Bangsal (MPB) di Badung, Minggu (16/8). Piagam penghargaan diterima oleh Ketua Umum MPB dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A (K). Bagus Arhana mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diberikan LVRI Bali yang diusulkan oleh DHD Angkatan 45 Bali tersebut.

Penyerahan penghargaan ini disaksikan Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa, Ketua DPRD Badung I Putu Parwata, Babinminvetcaddam IX/Udayana Kolonel Leonardus Ruddy Handoko, Ketua Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Bali Prof Wayan Windia, Ketua Harian MPB Bagus Ngurah Rai. Acara itu untuk memperingati HUT ke-75 MPB yang peringatannya sangat berhimpitan dengan HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Peringatan tiga perempat abad MPB adalah untuk mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan di Bali dalam peristiwa pertemuan heroik di Bangsal (kini MPB) yang berlokasi di Banjar Gaji, Desa Dalung, Badung. Peristiwa bersejarah itu, persis sehari sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pertemuan para pejuang 16 Agustus 1945 tersebut dipimpin oleh Made Widja Kusuma (alias Pak Djoko) selaku Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI). Kemudian, Pak Djoko dikenal sebagai Wakil Komandan Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil. Komandannya adalah Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.

Ketua DPD LVRI Bali, I Gusti Bagus Saputera, saat menyerahkan piagam penghargaan, mengingatkan bangsa Indonesia untuk meneruskan perjuangan dalam menyejahterakan rakyat dan perdamaian dunia. Hal itu merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia sehingga para pahlawan mengorbankan jiwa dan harta benda agar bangsa ini terlepas dari belenggu para penjajah. Namun sampai saat ini tidak semua insan memahami hal itu dengan baik, mengingat masih ada masyarakat yang miskin, pejabat melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Menurut dia, bangsa Indonesia kini mengalami tantangan yang begitu besar. Selain radikalisme dan terorisme, ditambah lagi dengan dampak pandemi Covid-19 sehingga pertumbuhan ekonomi terus menurun. Kesenjangan sosial juga masih ditemui. “Perlu sikap optimis sebagai pejuang bangsa sehingga bangsa Indonesia terhormat di kawasan Asia Tenggara dan dunia, tidak selalu tergantung terhadap bangsa lain,” ucapnya.

Ketua DHD Angkatan 45 Bali, Prof. Wayan Windia, menambahkan, generasi muda tidak boleh melupakan sejarah bangsa. Ia khawatir negara akan menjadi rusak apabila anak bangsa kehilangan sejarah dan tidak memahami arti perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi bangsa Indonesia.

Windia lantas menceritakan perjuangan pemilik kawasan Bangsal adalah Bagus Made Wena yang seorang saudagar kaya raya pada zaman itu. Kala itu, Bagus Wena sudah memiliki rumah loteng (rumah bertingkat). Itu menunjukkan bahwa bisnisnya (kopra dan beras) berjalan sukses. Orang kaya saat itu umumnya takut memihak para pejuang. Karena risikonya adalah dihukum mati atau siksaan berat, dan seluruh rumah pasti dibumihanguskan. “Namun Bagus Made Wena sama sekali tidak gentar. Beliau pertaruhkan semua kekayaannya dan bahkan jiwanya untuk Indonesia merdeka,” ujarnya.

Ia melanjutkan, Pak Djoko mengenang kawasan Bangsal sebagai embrio perjuangan kemerdekaan di Bali. Pertemuan para pejuang di MPB telah dimulai tatkala penjajah Jepang mulai mendarat di Sanur, pada 19 Februari 1942. Kekejaman Jepang terhadap penduduk dan juga keserakahannya, pemicu bangkitnya semangat kebangsaan para pejuang di Bali. Made Widja Kusuma mengambil inisiatif untuk mempertemukan para pejuang di tempat yang dirasa paling aman, yakni di Bangsal. “Perjuangan yang begitu besar tidak membuat Bagus Made Wena bertepuk dada, namun tetap rendah hati. Untuk itu, penghargaan ini memang layak diberikan kepada Bagus Made Wena,” ucap Prof. Windia.

Wabup Badung Suiasa yang mewakili Bupati Giri Prasta mengaku baru mengetahui lebih detail cikal bakal perjuangan kemerdekaan RI di Bali. Ia mengatakan, sudah sepatutnya perjuangan Bagus Made Wena (Alm) diberi apresiasi dan penghargaan atas dedikasinya dalam masa perjuangan kemerdekaan. Demikian pula peranan Puri Bangsal sebagai embrio perjuangan pergerakan rakyat Bali ketika menyusun strategi dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Apa yang menjadi cita-cita dari para pejuang dalam mengisi kemerdekaan yaitu untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia, tegas Suiasa, pihaknya terus berupaya mewujudkannya melalui pembangunan khususnya di Kabupaten Badung.

Usai penyerahan piagam penghargaan dilakukan pula pemotongan tumpeng sebagai peringatan HUT ke-75 MPB. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah serta mengunjungi Pameran Buku dan Literasi. Pameran yang mengusung tema “Membangun Budaya Membaca untuk Indonesia Cerdas dan Indonesia Maju” itu telah berlangsung sejak Kamis lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Duta Bahasa Bali menggandeng Atnews, yang didukung oleh MPB, Balai Bahasa Bali, dan DHD 45 Bali. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.