Koster Ajak Desa Adat Tegas Bentengi Budaya Bali

Wayan Koster
340 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak desa adat se-Bali agar bersikap tegas sebagai benteng pelestari kebudayaan Bali. Begitu juga dengan para bendesa adat, diminta agar tidak memberikan ruang kepada kebudayaan luar yang tidak jelas ajarannya, tidak jelas kebudayaannya, dan tidak jelas asal usul ilmu pengetahuannya dalam kehidupan di Bali. Karena, berpotensi merusak tatanan budaya Bali yang notabene telah menjadi kebangaan maupun menjadi andalan Pulau Bali yang memiliki keunikan tradisinya yang beragam.

“Jangan beri ruang sedikitpun bagi oknum, kelompok, atau orang yang mau merubah nilai adat istiadat, kesenian Bali dari ajaran yang menyesatkan. Kalau sampai rusak kebudayaannya, Bali akan tinggal nama saja,” tegas Koster usai melakukan prosesi peletakan batu pertama ‘nasarin’ gedung Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng, Kamis (10/9).

Gubernur mengajak seluruh bendesa adat di Bali agar memperkokoh warisan budaya leluhur ini. “Desa adat sudah dijadikan target, bahkan di lembaga pendidikan mereka sudah masuk, sehingga ada murid, guru yang sudah kena kebudayaan dari luar, melalui buku agama juga mereka sudah masuk, sehingga saya mengambil posisi yang tegas bersama PHDI Bali dan MDA Bali untuk solid mempertahankan tradisi yang sudah menjadi warisan leluhur kita selama ini,” ajak Koster.

Lebih lanjut Koster yang telah menerbitkan Perda No.4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali ini, mengajak masyarakat Bali untuk berbangga menggunakan busana adat Bali. Karena dengan menggunakan busana adat Bali, maka sudah mampu membantu perajin kain tenun khas Bali di dalam meningkatkan produksinya dan sekaligus nilai ekonominya.

“Ayo lestarikan budaya kita, ini busana adat Bali yang gagah kita pakai, karena busana ini dibuat langsung oleh perajin lokal Bali. Agar hidup ekonomi para perajin busana adat di Bali, dan ekonomi rakyat bergerak, saya mohon beli kainnya ke perajin lokal kita, karena dengan pengunaan busana adat ini, tercatat omzet mereka sudah naik dari 30 sampai 45 persen,” ujar Koster.

Gubernur asal Desa Sembiran ini juga menekankan ‘kampanye’ memakai busana Bali karena merupakan hasil nyata dari penerapan Pergub Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Penggunaan Busana Adat Bali. “Secara nasional merupakan implementasi nyata dari Program Tri Sakti Bung Karno yang salah satunya menciptakan kemandirian secara ekonomi atau ekonomi berdikari yang akarnya adalah kedaulatan rakyat,” pungkasnya.

Gubernur Koster pada Kamis (10/9) siang menggelar upacara nasarin (peletakan batu pertama) pembangunan gedung MDA Kabupaten Buleleng, yang berlokasi di Kelurahan Banyuasri, Buleleng. Pembangunan gedung MDA di Buleleng menelan biaya Rp3 miliar lebih. Dana ini bersumber dari dana CSR dari berbagai BUMN. Pembangunan ini ditargetkan rampung pada Desember 2020 nanti.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MDA Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet; Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana; Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra; Sekda Buleleng, Gede Suyasa. Hadir pula beberapa pimpinan SKPD lingkup Pemkab Buleleng; Ketua MDA Buleleng, para Camat dan Perbekel se-Kabupaten Buleleng.

Bupati Suradnyana berharap MDA Buleleng menjaga kearifan lokal di Buleleng. Setelah gedung MDA ini rampung, desa adat diminta untuk lebih mengoptimalkan tugas dan tanggung jawab dalam mempertahankan nilai-nilai adat serta budaya di Buleleng. Seperti diketahui, saat ini di beberapa daerah sudah dipengaruhi oleh budaya asing yang dapat mempengaruhi nilai kearifan lokal.

“Desa adat harus bisa optimal dalam mempertahankan nilai-nilai adat serta budaya di Buleleng. Peran desa adat ini dapat memperkuat upaya pelestarian seni, budaya, dan adat istiadat yang ada di Buleleng,” jelas Suradnyana.

Ketua MDA Buleleng, Dewa Putu Budarsa, menambahkan, sebelum peletakan batu pertama, sudah dilakukan upacara pecaruan dan ngadegang linggih. Tanah yang menjadi tempat berdirinya gedung ini merupakan tanah aset Pemprov Bali. “Gedung ini digunakan lembaga yang ada di desa adat termasuk parisada. Tapi difokuskan untuk pengorganisasian MDA Buleleng,” katanya. 019/018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.