Kopi dari Hutan Wanagiri Siap Dipanen, BUMDes Penjamin Pasar

Foto : KOPI HUTAN LOKASI lahan hutan Desa Wanagiri yang ditanami kopi dan siap panen. Foto: ist
594 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Pengelolaan hutan desa seluas 250 hektar yang dilakukan masyarakat Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng, kini menuai hasil. Dengan mempertahankan wilayah konservasi, sekitar 150 hektar hutan tersebut ditanami kopi. Dan, kini para petani di Desa Wanagiri mulai memanen kopi yang ditanam di lahan konservasi tersebut.
Pengelolaan hutan desa tersebut sudah dilakukan sejak 2015. Warga pun memilih kopi sebagai komoditas untuk ditanam, karena berdampak ekonomis bagi pengelola hutan desa. Ratusan kopi yang siap dipanen ini, selanjutnya akan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wanagiri, untuk mengontrol pasar bagi kopi yang dihasilkan oleh kelompok tani.
Ketua BUMDes Wanagiri, Made Darsana, mengatakan, BUMDes bertugas untuk memasarkan hasil panen kopi hutan yang telah diserap dari para petani pengelola hutan. ‘’Kami harapkan ada nilai tambah bagi petani pengelola hutan desa. Kami di BUMDes ini sebagai penjamin pasar dan menyalurkannya. Petani mengelola, memproses pascapanen,’’ kata Darsana, belum lama ini.
Meski ditanami kopi, menurut Darsana, fungsi hutan sebagai lahan konservasi utamanya sumber mata air masih tetap dijalankan. Terlebih, di Wanagiri ada 50 sumber mata air yang mesti dijaga kelestariannya. ‘’Hutan ini bukan berubah menjadi hutan kopi, tapi hutan yang ada kopi. Pohon-pohon lainnya dijaga. Jenis kopi beragam, ada Arabika dan Robusta dengan beragam varietas,’’ ungkap Darsana.
Kualitas kopi yang dihasilkan dari hutan desa ini telah mendapat aperasiasi dari pegiat Kopi Bali, Komang Sukarsana. Kerjasama kini sedang dibangun oleh BUMDes Wanagiri untuk pengembangan kopi bubuk. Secara kualitas kopi yang dihasilkan di Hutan Wanagiri tergolong baik dan mampu bersaing dengan kopi lainnya yang ada di Bali.
‘’Kalau petani konsisten, ini bisa jadi kopi organik. Pascapanen juga harus dijaga, dengan petik merah dan olah secara natural. Proses pascapanen juga akan menentukan harga jual nanti di pasar. Jadi, petani harus bisa konsisten dalam perawatan dan pascapanen kopi,’’ ujar pegiat Kopi Bali, Komang Sukarsana.
Sukarsana mengaku, akan melakukan pendampingan terhadap petani kopi itu, sehingga kualitas kopi yang dihasilkan tetap terjaga. ‘’Ada saja kok petani yang pesimis dengan kopinya, marena masih ada petani yang enggan petik merah. Saya disini bersama BUMDes berjuang untuk meyakinkan petani untuk mau petik merah,’’ pungkas Sukarsana. 018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.