Konsumsi Garam Tradisional Bali

Gubernur Koster saat meninjau sentra produksi garam di Amed, Desa Purwakerthi, Kabupaten Karangasem, Minggu (17/10).
422 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Kualitas garam yang diproduksi secara tradisional di Amed-Karangasem, Tejakula-Buleleng, dan beberapa daerah lain sangat baik. Bahkan garam tradisional ini sudah diekspor ke berbagai negara.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster saat mengunjungi sentra produksi garam di Amed, Desa Purwakerthi, Kabupaten Karangasem, Minggu (17/10) kemarin.

Dalam kujungan kemarin, tampak hadir Kapolda Bali Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, Bupati Karangasem I Gede Dana, Kadisperindag Provinsi Bali, I Wayan Jarta dan Kadis Kelautan dan perikanan Provinsi Bali Made Sudarsana.

“Kita punya tempat produksi garam yang punya hasil bagus, berkualitas dimanfaatkan sejak turun temurun. Utamakan dulu untuk konsumsi (lokal,bred) kita,” kata Wayan Koster.

Gubernur yang tampak didampingi Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster mengungkapkan, selama ini garam tradisional Bali cukup terganggu pemasarannya di tingkat lokal karena gempuran garam impor.

Seperti SNI yang mewajibkan kandungan yodium. Padahal bicara kandungan mineral lain garam Bali luar biasa, punya rasa khas yg tidak bisa disamakan produk daerah lain. “Untuk itu saya terbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 17/2021 tentang Pemanfaatan Garam Tradisional Lokal Bali,” jelas Koster.

Ke depan, lanjut Koster, produksi garam lokal Bali akan terus didorong agar bisa masuk ke pasar dan konsumen lokal Bali. Apalagi garam Amed sudah ada HAKI dengan indikasi geografis. Pihaknya mendorong agar Kadis Kelautannsegera bergerak, sehingga garam tradisional lainnya segera punya HAKI.

“Gunakan produk kita sendiri jangan malah banggakan produk luar. Kalau 4,3 juta penduduk Bali konsumsi, pasti terserap semua produk kita. “Saya dorong juga bapak Bupati Karangasem untuk sosialisasi penggunaan garam tradisional untuk masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Petani Garam Amed Karangasem, I Nengah Suanda memuji Gubernur Koster sebagai pemimpin yang benar-benar satya wacana dan terbukti. “Ini pemimpin sebenarnya untuk Bali. Langsung datang kesini untuk melihat petani kita,” katanya.

Dikatakan, garam hasil produksi dari Bali pengerjaannya lebih kompleks tanpa penambahan bahan kimia sehingga harganya lebih tinggi. “Kita di Amed bisa produksi 30 ton garam per tahun dengan 4 kali panen,” ujarnya.

Suanda juga menjelaskan bahwa sejatinya garam Amed dan garam tradisional lokal Bali lain telah memperoleh pengakuan dan diminati di dunia kuliner, serta telah dipasarkan secara nasional dan internasional. Di samping itu juga telah diekspor ke Jepang, Korea, Thailand, Prancis, Swiss, Rusia, dan Amerika Serikat. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.