Komang “Gases” Wirawan dan Made Widra Tarung Gagasan di Pemilihan Bandesa Adat Sesetan

Adat, tradisi dan dinamika masyarakat modern berjalan seiring di Desa Adat Sesetan.
Adat, tradisi dan dinamika masyarakat modern berjalan seiring di Desa Adat Sesetan.
1,817 Melihat

DENPASAR,POS BALI.  – Setelah larangan Majelis Desa Adat (MDA) menggelar pemilihan bandesa adat di masa Pandemi Covid 19 dicabut, Desa Adat Sesetan, menggelar Paruman Desa Paripurna besok, Kamis (20/8/2020) di Pura Dalem dan Pura Kahyangan Desa Pakraman Sesetan Kota Denpasar, Provinsi Bali.

Dua figur berpegaruh di Desa Adat Sesetan akan tarung gagasan dalam paruman tersebut. Kedua figure itu yakni Made Widra dan Komang “Gases” Wirawan. Dua kandidat ini dicalonkan dari Banjar Pegok dan Banjar Lantang Bejuh untuk memimpin Desa Adat Sesetan masa bakti 2020-2025 itu.

Berbeda dengan kontestasi lima tahun lalu, pemilihan Bandesa tahun ini sepenuhnya menerapkan asas “sagilik-saguluk” atau musyawarah mufakat. Peserta Paruman mesti mengusahakan proses musyawarah dapat berujung kemufakatan tentang figur Bandesa baru.

Kelihan Sabha Desa Sesetan,  Putu Meding Edie Gunartha yang juga Ketua Pantia Pemilihan, mengatakan pemilihan Bandesa tahun ini mengalami banyak perubahan akibat Perda Nomor 4 Tahun 2018 tentang Desa Adat, pandemi Covid 19, dan Surat Edaran MDA tentang keharusan menerapkan musyawarah mencapai mufakat.  “Kami mengurangi jumlah utusan banjar-banjar dalam Paruman, menerapkan protokol kesehatan, dan menerapkan tahap-tahap permusyawaratan dalam Paruman”, kata Edie Gunarta di sela-sela persiapan pemilihan.

Putu Wiarka, Kelihan Kertha Desa Sesetan, menyampaikan kerisauannya karena beberapa bandesa terpilih ditangguhkan pengukuhan oleh MDA karena tidak menerapkan cara musyawarah penuh.  “Memang cukup sulit memulihkan semangat dan budaya musyawarah ini. Dalam dua dasawarsa setelah Reformasi krama Bali terbiasa dengan demokrasi elektoral melalui pemilihan legislatif, pemilihan presiden dan kepala daerah. Membulatkan suara peserta Paruman memerlukan kepemimpinan yang bijaksana dan otoritatif. Kami merasakan sulitnya mengembalikan salah satu jiwa dari kelembagaan Adat yang memiliki hak asal-usul ini”,ujarnya.

Sementara itu menjawab pertanyaan warga terkait kemungkinan ada “deadlocked”, penggiat desa Adat yang juga Sekretaris Sabha Desa Sesetan, Arya Suharja, menyatakan keyakinannya musyawarah akan berhasil.  “Kami tentu menghindari kebuntuan, misalnya dengan melembagakan pendekatan dan cara permusyawaratan yang dimungkinkan dan dikenal dalam tradisi desa kami. Kami tidak mengenal pemilihan berdasar keturunan, juga menghindari “Nyanjan”, atau pemilihan berdasar “petunjuk” Niskala melalui kerauhan,”kata Arya Suharja.

Tidak semua model dari tradisi yang ada cocok diterapkan di zaman ini. “Kami mesti mengusahakan cara-cara rasional dan demokratis agar Bandesa di masa datang memiliki legitimasi yang kuat dan mampu menjalankan tugas-tugas teknokratis, karena mesti menggali sumber-sumber anggaran Pemerintah”, kata Arya Suharja.

Pemilihan Bandesa di Desa Adat Sesetan memang batu ujian bagi penerapan Perda Desa Adat yang baru, dan juga surat edaran MDA yang tegas dan menuntut sikap taat asas.  Bayang-bayang paparan persebaran virus dan ancaman penangguhan pengukuhan Bandesa oleh MDA merupakan realitas baru dalam sejarah Desa Adat di Bali. Otonomi Desa Adat seolah-olah berada di persimpangan jalan.

Apakah Desa Adat Sesetan mengantisipasi? Kita nantikan jawaban di hasil Paruman Desa Paripurna yang berlangsung besok. poll

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.