Koalisi Partai yang Rapuh

Foto: Made Nariana.
206 Melihat

DENPASAR, POSBALI.co.id – Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kedaulatan rakyat, rasanya pemilihan kepala daerah (pilkada) di sejumlah kabupaten/kota 2020 di Bali, akan berlangsung mulus-mulus saja. Mengapa?

Pasalnya, incumbent (petahana) yang maju lagi sebagai Bupati/Walikota kelihatan tidak ada lawan yang berarti. Bahkan di Badung, Tabanan dan Gianyar pasangan Bupati/Wakil diprediksi akan berhadapan dengan kotak kosong. Halitu bisa terjadi juga di Jembrana.
Apa tidak ada tokoh mumpuni dan berkualitas? Soal tokoh pintar, berkualitas, kredibel, akseptabel pasti banyaklah. Namun keberanian tidak ada. Jika ada keberanian, kepercayaan sulit. Kini yang penting adalah soal kepercayaan dari parpol, termasuk dari parpol koalisi.
Di Kabupaten/kota, umumnya pasangan dikuasai partai penguasa saat ini yakni PDI Perjuangan. Hanya Karangasem yang masih diduduki penguasa dari Partai Nasdem.
Sejumlah tokoh partai non-PDI-P yang ditanya belum lama ini (maaf mereka tidak mau disebut namanya – karena bisa dipecat katanya), mengatakan, apa yang mereka lakukan selama ini hanya seremoni belaka. Memang ada rapat dengan acara menyatukan kesepakatan antar-parpol alias membentuk koalisi guna menggoalkan seorang/pasangan calon. Mereka membentuk koalisi. Buat kesepakatan. Berencana melakukan survey bakal calon, dan seterusnya.
Namun hal itu semata-mata, guna memberikan image (kesan), supaya partai politik tidak menyerah sebelum pertandingan. Mereka ingin membangun kesan kepada konstituennya supaya gerakan tersebut mempertebal komitmen pengikut kepada tokoh partai masing-masing.
Partai politik perlu membangun kesan, supaya pengikutnya memiliki rasa fanatisme terhadap partai, sekalipun sekarang fanatisme itu sering ”semu”. Banyak yang pindah partai, loncat sana-loncat situ, karena ingin mendapat hal yang baru di tempat yang lain.
Namanya manusia, selalu tidak pernah puas. Tiga periode duduk sebagai anggota DPR/DPRD, masih kurang cukup. Sekali tidak dipakai (terpakai), langsung loncat ke tempat lain. Ya, begitulah politik….
Konon koalisi parpol di sejumlah daerah sudah tahu, bahwa sangat berat melawan petahana. Akibatnya berat mencari calon yang “gila”, mau bertarung. Begitu menjadi calon harus siap mental, fisik dan non – fisik. Siap, paling tidak tiga O, otak, orang dan ongkos. Siap kepintaran, pengikut dan finansial.
Tokoh yang duduk di legislatif (DPRD), saya yakin banyak yang memiliki unsur tiga O tadi. Tetapi, mereka tidak mau menjadi calon Bupati/Wakil Bupati sebab harus mengundurkan diri sebagai anggota dewan. Siapa yang berani?
Di Bali rasanya tidak ada yang berani meninggalkan kursi empuk itu, sebab mereka juga cari dengan susah payah disertai banyak biaya sebelumnya.
Melihat kondisi ini, koalisi partai politik yang dibentuk untuk melawan incumbent sangat rapuh. Sekadar formalitas, untuk meramaikan hajatan proses demokrasi.
Pasangan tunggal memang sebuah keniscayaan, namun apa boleh buat karena begitulah kenyataan yang mungkin akan terjadi.
Dalam banyak catatan sejarah, petahana memang jarang yang kalah – sekalipun ada juga yang bernasib sial. Siapa mau coba silakan….. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.