Klaim Raja Majapahit di Bali Tak Sesuai Fakta Sejarah

Foto: I Nyoman Wijaya.
2,051 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna secara resmi dilaporkan ke Polda Bali, Selasa (21/1). Pelaporan yang dilakukan sejumlah organisasi masyarakat di Bali itu dilakukan lantaran klaim tokoh tersebut sebagai Raja Majapahit di Bali.

Dalam panggung sejarah, Bali memang memiliki kelekatan dengan Majapahit. Bahkan, sebagian masyarakat Bali mempercayai dirinya memiliki darah Majapahit, khususnya kalangan masyarakat Tri Wangsa.

Kisah tersebut dimuat dalam sejumlah teks tradisional, seperti Kakawin Nagarakretagama, Babad Dalem, Babad Arya Kutawaringin, dan lain-lain. Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, misalnya, mencatat penaklukan itu terjadi pada 1256 Saka (1343 Masehi). Kala itu, Bali masih dikuasai oleh Raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten. Dalam teks tersebut, Asta Sura Ratna Bumi Banten digambarkan sebagai raja yang lalim.

Pasca kekalahan Bali, sebagian besar ksatria (arya) Majapahit menetap dan membangun kekuatan di berbagai wilayah Bali. Meski demikian, gejolak masyarakat Bali, khususnya yang berada di pegunungan tak mudah diredam. Dalam suasana politik sedemikian rupa, Majapahit akhirnya mengangkat Sri Kresna Kepakisan (seorang keturunan brahmana berdarah Bali) sebagai raja.

Berlatar catatan sejarah sedemikian rupa, apakah Bali dapat sepenuhnya disebut sebagai pewaris Majapahit? Terlebih, selama ini mengemuka klaim-klaim atas pewarisan tahta Majapahit di Bali.

Menjawab hal tersebut, POS BALI mencoba mengkonfirmasi jejak kesejarahan Bali pasca penaklukan Majapahit 1343. Sejarawan, Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum., saat dikonfirmasi, Senin (20/1) malam menjelaskan, dari sisi sejarah tidak ada raja Bali yang benar-benar merupakan keturunan biologis dari kerajaan yang pengaruhnya disebut-sebut hingga ke daratan Asia itu.

“Pertanyaan ini (pewarisan Majapahit di Bali, red) sudah dibahas Anton Muhajir tahun 2016. Tidak pernah ada keturunan biologis Raja Majapahit di Bali,” katanya.

Dalam berbagai sumber sejarah, terangnya, pasca penaklukan Bali atas Majapahit pada 1343, posisi Bali bukanlah sebagai kerajaan yang berdaulat penuh, melainkan sebuah kerajaan bawahan yang dipimpin seorang penguasa selevel adipati. “Bali saat 1343 bukan kerajaan, melainkan semacam provinsi, dengan penguasanya seorang adipati. Dia hanya punya relasi politik dengan Raja Majapahit,” tuturnya.

Bertolak pada hal tersebut, pihaknya menilai jika kemudian ada klaim-klaim menyangkut eksistensi Kerajaan Majapahit di Bali, klaim tersebut adalah hal yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. “Jadi, jika ada orang yang menyebut Kerajaan Majapahit di Bali, itu ankroniktis. Tidak sesuai dengan fakta,” tandas akademisi Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana ini. 015

2 Comments

  1. Om Swastyastu,

    Mohon izin bertanya, apakah wilayah Majapahit juga mencakup ASEAN sampai ke Birma dan Vietnam??

    Terimakasih 🙏

  2. Sebagai orang jawa timur trah Majapahit saya berpendapat bahwa ada keturunan Raja Majapahit di Bali, yaitu Raja Badung, Denpasar yang merupakan keturunan Arya Damar, Panglima Perang utama Majapahit. Arya Damar adalah putra Raja Majapahit dari salah satu istrinya, yaitu Dara Petak.Kami orang jawa sangat paham sejarah Majapahit, Majapahit runtuh bukan karena ada serangan dari luar karena tak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkan Majapahit. Majapahit runtuh karena perebutan kekuasaan diantara para bangsawannya sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.