Kiprah Politik Diah Srikandi Dilirik Konjen Amerika Serikat

Pertemuan Diah Srikandi dengan Konjen Amerika Serikat di Surabaya
288 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Kiprah politik IGA Diah Werdhi Srikandi Wedasteraputri Suyasa diam-diam rupanya dilirik Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya. Melalui Wakabid Politik dan Ekonomi Konjen Amerika Serikat di Surabaya, Dylan Hoey, secara khusus menemui politisi asal Bumi Makepung, Jembrana ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung hampir dua jam dari pukul 11.00 – 13.00 WITA di Museum Agung Bung Karno di Renon, Denpasar, Jumat (22/10), Konjen ingin mengetahui tentang situasi dan kondisi di Bali. Mulai dari pembukaan pariwisata, kiprah dan peran perempuan politik di Bali, sektor perikanan, pertanian, hingga geliat Industri Kecil Menengah (IKM) di tengah pandemi.

Wajah senang pun terlihat Dylan Hoey ketika dipakaiakan udeng (ikat kepala khas Bali) dan saput (kain) songket khas Kabupaten Jembrana oleh Diah Srikandi yang juga Ketua Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) Bali. Dylan seketika tampak seperti orang Bali. “Saya sangat senang. Ini pertama kali saya menggunakan pakaian adat Bali,” kata Dylan.

Diah Srikandi menuturkan, kedatangan Konjen Amerika ke Bali khusus untuk menemui dirinya sebagai perempuan politik dan juga bertemu desainer muda berbakat, IGA Sita Wedastiti Wedasteraputri Suyasa (Gek Sita) yang juga Ketua Yayasan Teruna-Teruni Bali.

Diah Srikandi dan Dylan Hoey

“Saya juga tidak mengetahui kenapa Konjen memilih saya. Mungkin karena melihat kiprah saya yang sebagai sebagai perempuan parlemen,” tutur Diah Srikandi yang juga Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali ini sembari melepas tawa.

Diah Srikandi juga menyampaikan kepada Dylan tentang bagaimana upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam membangkitkan perekonomian di tengah pandemi Covid-19.

Seperti Pameran Bali Bangkit yang melibatkan lebih dari 70 pelaku IKM, kebijakan penggunaan aksara Bali di papan nama perkantoran, busana adat Bali setiap hari Kamis, penggunaan endek setiap hari Selasa, hingga regulasi tentang pemanfaatan garam tradisional khas Bali.

Srikandi PDI Perjuangan Dapil Jembrana ini juga menyampaikan kesiapan Bali dalam menerima kedatangan wisatawan mancanegara. Termasuk proses karantina lima hari dan juga hanya 19 negara yang diperbolehkan masuk Bali, di mana kebijakan tersebut merupakan keputusan Pemerintah Pusat.

“Konjen mengharapkan kebijakan karantina lebih fleksibel. Karena wisatawan bakal mengeluarkan uang lebih hanya untuk karantina. Apalagi wisatawan yang datang sudah divaksin, PCR, sebelum mereka ke Bali,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait pertemuan dengan Gek Sita, pihak Konjen ingin mengetahui kiprah entrepreneur, desainer, dan juga sebagai politisi muda. Khususnya bisa tetap kreatif, inovatif, dan juga mengandeng anak-anak muda untuk membuat usaha di tengah pandemi.

Sebelumnya, Sekjen Yayasan Kepustakaan Bung Karno (YKBK), I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Wedasteraputra Suyasa yang menyambut kedatangan rombongan Konjen menjelaskan tentang Museum Agung Bung Karno, yang khusus mengoleksi benda-benda bersejarah Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Mulai dari buku-buku, pakaian, perabotan, hingga mobil Sang Proklamator. Ngurah Wira juga menyerahkan kutipan buku ‘Indonesia Berseru’. Buku itu memperlihatkan warga Amerika Serikat yang mebludak, antusias menyaksikan siaran pidato Bung Karno di televisi. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.