Ketua LPD Anturan Jadi Tersangka Korupsi

Penggledahan berkas milik LPD Adat Anturan yang dilakukan tim penyidik Kejari Buleleng, beberapa waktu lalu. Kejari Buleleng akhirnya menetapkan Nyoman Arta Wirawan selaku Ketua LPD Anturan sebagai tersangka.
185 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Setelah sekian lama berproses, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng akhirnya menuntaskan penanganan dugaan penyimpangan pengelolaan aset dan keuangan LPD Adat Anturan, Buleleng. Nyoman Arta Wirawan selaku Ketua LPD Anturan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Kasi Intel yang juga Humas Kejari Buleleng, AA Ngurah Jayalantara mengatakan, dari hasil perhitungan sementara pihak penyidik Kejari ditemukan adanya selisih dana LPD Anturan sebesar Rp137 miliar lebih yang terindikasi sebagai kerugian negara. Dana selisih itu didapatkan dari pengelolaan LPD Adat Anturan sejak tahun 2019 lalu.

Terdapat selisih antara modal yakni Rp29.262.215.507 dan simpanan masyarakat Rp253.981.825.542 dengan total aset sebesar Rp146.175.646.344, sehingga, ada selisih sekitar Rp137 miliar lebih. Meski demikian Jayalantara mengaku, masih menunggu hasil audit dari Inspektorat Buleleng.

“Dari hasil perhitungan sementara Tim Penyidik Kejari Buleleng diduga ada temuan selisih dana terindikasi merugikan keuangan negara sekitar Rp137 miliar. Tapi sampai saat ini, dari penyidik juga masih menunggu perhitungan selisih dana tersebut dari Tim Inspektorat Buleleng,” kata Jayalantara, Selasa (23/11/2021).

Selain itu juga ditemukan adanya kredit fiktif yang diduga dibuat oleh Arta Wirawan selaku Ketua LPD kini ditetapkan tersangka di tahun 2019 lalu. Bahkan, ada tunggakan bunga kredit yang belum dibayar nasabah sebesar Rp12.293.521.600 malah dijadikan kredit namun tidak ada perjanjian (akad) kredit antara nasabah dengan pihak LPD.

“Jumlah kredit disalurkan tahun 2019 yakni Rp244.558.694.000, ada tunggakan bunga yang belum dibayar nasabah dan itu dijadikan kredit, namun tidak ada perjanjian. Selain itu juga ada kredit yang tidak ada dokumen atau diduga kredit fiktif sebesar Rp150.433.420.956,” jelas Jayalantara.

LPD Anturan diduga menjalankan usaha diluar ketentuan yang ada, dengan melakukan usaha tanah kavling di beberapa titik sesuai kesepakatan Desa Adat. Ini terbukti di tahun 2019 LPD Anturan punya aktiva lain berupa tanah kavling senilai Rp28.301.572.500 tersebar di 34 lokasi berbeda. Namun dalam aktiva lain berupa tanah kavling itu dimasukkan dana punia senilai Rp500 juta.

Selama menjalankan usaha tanah kavling, LPD Anturan yang dibawah kendali Arta Wirawan memakai jasa perantara atau makelar dengan fee sebesar 5 persen dari penjualan. Dan dana hasil penjualan tanah kavling tersebut disimpan pada rekening simpanan di LPD Adat Anturan atas nama lenjualan TKV sesuai dengan lokasi tanah kavling dan mendapatkan bunga.

Hasil penjualan tanah kavling itu pun ada yang dipergunakan untuk melakukan Tirta Yatra ke beberapa daerah oleh semua karyawan LPD dan prajuru Desa Adat dengan total nilai mencapai diatas Rp600 juta, serta Ketua LPD menyimpan dana di LPD Anturan namun penggunaan dana tersebut tidak dilaporkan.

“Satu orang tersangka sudah kami tetapkan yakni Ketua LPD pada 22 November 2021. Barang bukti yang diamankan dokumen kredit LPD, kendaraan roda empat, 12 sertifikat tanah termasuk juga laporan-laporan keuangan tahunan LPD,” pungkas Jayalantara.

Terhadap tersangka Nyoman Arta Wirawan saat ini disangkakan melanggar Pasal 2, Pasal 3, Pasal 8 dan Pasal 9 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Namun untuk tersangka belum dilakukan penahanan, karena masih dalam pendalaman.

Selain menetapkan Ketua LPD Adat Anturan sebagai tersangka, Kejari Buleleng juga menetapkan Ketua LPD Adat Tamblang, Kecamatan Kubutambahan inisial KR sebagai tersangka, dengan temuan selisih dana terindikasi kerugian keuangan negara sebesar Rp1,2 Miliar dari pengelolaan LPD Tamblang. 018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.