Ketengahkan Budaya Agraris Denpasar yang Hilang, Rembug Sastra Purnama Badrawada Edisi Purnama Sada

579 Melihat

DENPASAR, POS BALI – Sebelum menjelma menjadi kota yang padat penduduk dan disesaki berbagai macam bangunan, Kota Denpasar sejatinya adalah kawasan agraris. Sisa-sisa budaya agraris itu saat ini menyisakan sejumlah ritus dan situs, sementara sawahnya semakin lenyap.

Demikianlah pandangan yang mengemuka dalam Rembug Sastra Purnama Badrawada edisi Purnama Sada yang digelar di Pura Agung Jagatnata Denpasar, Sabtu (18/5). Sebagai pembicara dalam topik tersebut adalah alumnus Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana yang juga putra asli Denpasar, I Made Arik Wiraputra, S.S.

Dalam makalahnya yang berjudul “Jejak Kehidupan Agraris Denpasar”, ia yang juga merupakan Penyuluh Bahasa Bali ini mengatakan sejatinya kehidupan agraris adalah dasar kehidupan berkebudayaan di Bali. Hal tersebut dapat ditemui dalam teks-teks, baik yang berupa prasasti maupun teks lontar.

“Prasasti Batuan 352 lembar Vb baris 2-6 telah menyatakan adanya sistem pembagian air sawah yang diistilahkan tambuku. Selain itu jyga dinyatakan istilah kilan yanh berkaitan dengan pemasukajndan distribusi dalam suatu area persawahan,” katanya.

Selanjutnya dalam teks-teks tradisional berbentuk lontar, hal-hal terkait budaya agraris juga diungkap dengan sangat kaya. Beberapa rujukan yabg digunakan adalah lontar berjudul Sri Tatwa atau Nyan Pratekaning Batara Maring Bali atau Dharma Pemaculan, Usada Sawah, Aji Pari, dan sebagainya. Teks-teks itu memicarakan sawah mulai dari sisi mitologi, penghormatan, rangkaian dari menanam hingga memanen padi, bahkan hingga tata cara menanggulangi hama tanaman.

Teks-teks ini sangat bertalian dengan kondisi budaya agraris di Kota Denpasar yang kian berubah. Dikatakannya, keberadaan budaya agraris itu kini dapat dijejak mulai dari sejumlah ritus, hingga situs yang kini masih eksis. “Situs-situs yang tekait budaya agraris di Denpasar diantaranya adalah Pura Bugbugan di DAM Oongan, Pura Pengayatan Ulunswi di Jaba Pura Kahyangan Kesiman, dan Pura Manik Tahun di areal Pura Desa-Puseh Peguyangan,” katanya.

Menariknya, di tengah persawahan yang lenyap di kawasan Denpasar, pura-pura ini masih dapat bertahan dan eksis di era industri. Dengan hilangnya sawah dan nihilnya penduduk berprofesi sebagai petani, pura kini didukung oleh masyarakat dari berbagai profesi. Ia pun mengajak merefleksikan fenomena itu untuk masa depan.

“Kita berada di era industri, namun berpikir agraris. Pertanyaannya, jika ritual berjalan sebagaimana ketika dilaksanakan saat budaya agraris itu eksis, masihkah itu sejalan dengan era sekarang? Fenomenanya banyak sarana upacara yang sarananya kini kita datangkan dari luar. Maka perlu ada upaya untuk menengok kembali jalinan budaya agraris itu,” katanya.

Selain Wiraputra, rembug juga diisi oleh narasumber lainnya, Ir. Ketut Darmaya. Ia yang berprofesi sebagai hakim ini mengetengahkan makalah berjudul “Reorientasi Hakekat Upacara Panca Wali Krama”. Pandangannya memberikan pemikiran berbeda terkait upacara yang digelar setiap 10 tahun di Besakih tersebut.

“Fenomena yang terjadi ketika Panca Wali Krama tahun ini telah menimbulkan masalah terkait banyaknya jenazah yang dititipkan di rumah sakit. Ke depan, mungkin diperlukan kebijakan yang tepat, sebab keputusan kemarin yang menyatakan upacara tersebut digelar hingga 2,5 bulan tidak didukung landasan tatwa yang yuridis, tetapi hanya berdasar kesepakatan PHDI,” jelasnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.