Kesusastraan Bali Kedatangan Koleksi Baru, Cerita Terkenal Perancis

suasana peluncuran buku Raja Cenik yang berisi pameran lukisan yang terinspirasi dari buku
292 Melihat
Raja Cenik jadi Terjemahan ke-441 ‘Le Petit Prince’ dalam Bahasa dan Aksara Bali

MANGUPURA, POSBALI.co.id – Koleksi kesusatraan Bali kini semakin bertambah dengan hadirnya buku terjemahan bahasa Bali ‘Le Petit Prince’ karya Antoine de Saint-Exupery. Buku cerita klasik terkenal dari Perancis tersebut kini telah diterjemahkan ke bahasa Bali dengan judul ‘Raja Cenik’ dan bertuliskan aksara Bali. Peluncuran yang menjadi terjemahan ke-441 dari Le Petit Prince tersebut dilaksanakan, Senin (10/2) di Museum Pasifika Nusa Dua, serangkaian dengan Festival Bulan Bahasa Bali tahun 2020.

Pascal Hierholz selaku penerbit buku menerangkan terbitnya buku tersebut tidak terlepas dari banyak pihak yang membantu prosesnya seperti Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Cokorda Sawitri sebagai ahli bahasa Bali Dharma Putra sebagai ahli aksara Bali, Philippe sebagai founder museum pasifika. Serta dukungan penuh 8 seniman dari tanah air dan manca negara, yaitu dirinya sendiri dari Perancis, Dr Wayan ‘Kun’ Adnyana dari Bali (Kadisbud propinsi Bali), John Vander Sterren dari Belanda, Janggo Paramartha dari Bali, Putu Pinky Sinanta dari Bali (karikatur Pos Bali), Lala Tamara dari Jakarta, I Gusti Nyoman Dharta dari Bali, serta Budi Karyono dari Bali. “Khusus untuk acara peluncuran buku ini, para seniman ini memuat karya-karya seni berupa lukisan yang terinspirasi dari buku Raja Cenik,”ujar Mr Pascal.

Dipaparkannya, buku Le Petit Prince menjadi buku yang paling banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia. Dimana bahasa Bali menjadi terjemahan ke -441 dan kedepan dan dipastikan lebih lucu dibandingkan buku hasil terjemahan di bahasa Indonesia. Untuk menerjemahkan buku tersebut, pihaknya memerlukan waktu sampai 1 tahun lebih lamanya, hingga akhirnya bisa diluncurkan Senin kemarin. Melalui buku tersebut, pihaknya juga bisa belajar lebih dalam tentang bahasa Bali dan dunia anak-anak. “Kami harap buku ini bisa menginspirasi para generasi muda Bali untuk lebih mencintai bahasa dan aksara Bali. Sehingga nantinya dapat melahirkan karya-karya berkelas dunia,”jelasnya sembari menerangkan buku tersebut juga sebagai ungkapan keprihatinan agar bahasa Bali tidak luntur kedepannya.

Sementara Kabid Dokumentasi Kebudayaan Disbud Propinsi Bali, Drs AA Ngurah Bagawinata mengaku mengapresiasi atas peluncuran buku terjemahan bahasa Bali, terlebih lagi buku tersebut merupakan salah satu buku terkenal dari Perancis. Sehingga itu tentunya akan menambah koleksi buku berbahasa Bali dan sesuai dengan kebijakan propinsi Bali, berkaitan dengan Pergub Bali no 8 tahun 2018 tentang penggunaan bahasa dan aksara Bali, termasuk Bulan Bahasa dan Sastra Bali yang diselenggarakan setiap tanggal 1-27 Pebruari. “Dengan dialihkan bahasakannya buku ini ke bahasa bali, tentu ini patut kami apresiasi. Ini merupakan bentuk partisipasi masyarakat atas upaya pelestarian dan pengembangab bahasa Bali,”ujar Bagawinata.

Selain itu pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada Museum Pasifika, yang notabene merupakan salah satu bentuk implementasi, dalam rangka pelestarian bahasa dan aksara Bali. Dimana museum seni tersebut menyajikan kebudayaan Asia dan Pasifik dan berbagai macam artefak budaya, salah satunya adalah budaya Bali. Pihaknya berharap upaya pelestarian tersebut terus berkembang dan meluas, hingga ke tingkat desa dan banjar. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.