Kematian Babi Mulai Muncul di Tembuku

Salah seorang peternak babi di wilayah Desa Tembuku, Bangli.
223 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Setelah cukup lama mereda, dalam beberapa pekan terakhir mulai muncul lagi laporan kematian babi di wilayah Kabupaten Bangli, dengan banyak terjadi di wilayah Desa Tembuku, Bangli. Informasi ini langsung diatensi Dinas PKP Bangli untuk bisa mengetahui penyebab pastinya, agar peternak tidak terlalu banyak merugi dalam situasi pandemi Covid-19 ini.

Kadis Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, Kamis (12/8/2021), menyebut laporan masuk sekitar seminggu lalu. Sesuai informasi yang diterima, dia berkata kematian babi terjadi di wilayah Desa Tembuku, seperti di wilayah Sama Geria, Tegal Asah dan wilayah lainnya. Karena awalnya masih simpang-siur, petugasnya menelusuri ke lapangan. Hasilnya, memang ada kematian babi di sejumlah peternak, tapi tidak separah ketika dihantam African Swine Fever (ASF).

“Memang ada kematian babi di peternak, hanya satu dua. Bukan lantaran serangan virus ASF, melainkan penyakit lain dan hal ini bisa terjadi,” jelasnya.

Sesuai penelusuran, ucapnya, babi yang sakit setelah diobati dan diberi vitamin bisa langsung sembuh. Karena itu, dia meyakini kematian babi yang dilaporkan peternak di Tembuku bukan karena penyakit ASF seperti sebelumnya. Dia berharap peternak bisa memelihara dengan baik, sehingga terhindar dari serangan penyakit.

“Sanitasi kandang dan penyemprotan disinfektan harus rutin dilakukan, untuk menghindari tumbuh dan berkembangnya virus mematikan pada ternak babi,” pesannya

Mengenai populasi babi, ujar Sarma, dia berharap dengan meredanya serangan virus ASF, kembali menumbuhkan kegairahan peternak babi di Bangli untuk kembali memelihara ternak. “Untuk data populasi ternak babi saya carikan dulu, agar tidak salah. Kami harap populasi babi sudah kembali naik,” tambahnya.

Ketua GUPBI Bangli, Sang Putu Adil, di kesempatan terpisah, berkata langsung koordinasi dengan Kabid Kesehatan Hewan Dinas PKP Bangli untuk segera mengecek saat ada laporan kematian babi. Dengan mengetahui penyebab kematian, ujarnya, peternak lain tidak akan resah. “Kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya, karena itu bukan ranah kami, harus melalui pengecekan instansi yang berwenang,” serunya.

Melihat dari tingkat kematian, dia optimis penyebabnya bukan ASF. Kalau itu karena virus, dia menilai dalam seminggu ternak bisa habis. “Banyak penyakit ciri-cirinya sama, kami sangat-sangat berharap apa yang menimpa anggota di Tembuku itu bukan karena ASF,” tegasnya memungkasi. 028

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.