Keluarga yang Mewarisi Lontar Hendaknya Bisa Membaca Aksara Bali

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti saat membuka kursus bahasa dan aksara Bali di Griya Bhuwana Dharma Shanti, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar, Selasa (25/2).
887 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, mengatakan, keluarga-keluarga di Bali yang mewarisi pustaka lontar di rumahnya hendaknya bisa membaca aksara Bali. Hanya dengan demikianlah lontar-lontar itu akan lestari keberadaannya karena sering dibaca dan dirawat dengan baik. Jangan sampai lontar-lontar yang disucikan atau disakralkan, namun masyarakat tidak tahu isinya.

“Dulu banyak keluarga yang mewarisi lontar tidak bisa membaca aksara Bali. Salah satunya karena ditakut-takuti atau ada pandangan keliru di masyarakat. Misalnya dikatakan bahwa, jika membaca atau mempelajari lontar, akan bisa gila. Sebenarnya kan tidak ada begitu. Lontar itu ya harus dibaca untuk mewarisi pengetahuannya,” kata Ida Rsi Bhujangga di sela-sela pembukaan kursus pendidikan bahasa dan aksara Bali di Griya Bhuwana Dharma Shanti, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar, Selasa (25/2).

Pasraman Bhuwana Dharma Shanti terus bergerak dalam upaya pelestarian agama Hindu dan budaya Bali. Setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan pendidikan pinandita (pemangku), serati banten, yoga, dan bahasa Sansekerta, kini program pasraman berlanjut dengan pendidikan bahasa dan aksara Bali. Kursus bahasa dan aksara Bali ini sudah mulai berjalan sejak Selasa (25/2).

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti selaku Pembina Pasraman Bhuwana Dharma Shanti, menyampaikan, pelaksanaan pendidikan ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Bali dalam upaya pelestarian bahasa dan aksara Bali. Kursus ini dilakukan bekerja sama dengan Penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di wilayah Kecamatan Denpasar Selatan. Adapun para pesertanya berasal dari masyarakat umum, namun didominasi para pemangku.

“Kebanyakan masyarakat sekarang tidak tahu membaca dan menulis Bali. Termasuk pemangku, pinandita pun banyak yang kurang menguasai tentang aksara Bali atau tahu sedikit-sedikit saja. Oleh karena itulah mereka sangat tertarik mengikuti kursus bahasa dan aksara Bali,” kata Ida Rsi Bhujangga.

Menurut dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar ini, keterampilan dalam membaca dan menulis aksara Bali perlu dimiliki orang Bali. Sebab pengetahuan leluhur Bali yang tersimpan dalam pustaka lontar menggunakan aksara Bali. “Bagaimana bisa paham isi lontar jika tidak bisa membacanya. Itulah mengapa aksara Bali perlu dipelajari,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ida Rsi Bhujangga, aksara Bali dipakai dalam berbagai pelaksanaan upacara dan upakara agama Hindu Bali. Misalnya dalam pembuatan rurub kajang, ulap-ulap, modre, dan pembuatan berbagai sarana ritual. Oleh sebab itu, para pemangku sebagai pelaksana ritual di masyarakat wajib bisa nyurat aksara Bali agar jangan sampai keliru dalam menuliskan atau menempatkan aksara suci. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.