Huebatt Betul Kau Corona?

Ilustrasi. Foto: ist
Ilustrasi. Foto: ist
Ilustrasi. Foto: ist
539 Melihat

KONON, korban meninggal akibat Corona sangat jauh lebih sedikit daripada korban kecelakaan lalu lintas. Mungkin 1 banding 30.  Sebanyak 30 orang mati karena kecelakaan, banding satu orang mati karena virus Corona. Sampai saat ini di Bali mati akibat Corona hanya 4, sementara akibat kecelakaan mungkin sudah lebih dari 50.

Lho, kalau demikian kenapa banyak yang takut dengan virus itu? Sebabnya, karena melanda seluruh dunia. (padahal kecelakaan juga ada di seluruh dunia). Kedua; penyebarannya begitu cepat, sehingga mereka yang kena Corona hidupnya menderita. Sesak nafas, tersedak-sedak, batuk-batuk, sakit luar biasa di dada. Ketiga, virus Corona justru menyerang di tempat ramai. Corona mati di tempat sepi, tidak berani panas, dan membenci tempat bersih.

Faktor media massa juga menentukan. Sekalipun banyak media massa “bangkrut” akibat Corona, tetapi pengaruhnya sangat dashyat memberitakan penyakit itu di mana-mana. Dari Amerika Serikat yang rakyatnya mati paling banyak (93.533) sampai Negara Vietnam, di mana korban mati akibat Corona (nol) – berita soal virus itu viral setiap hari. Dari berita hoaks sampai berita faktual, menyebar begitu meluber menyebabkan pikiran manusia kalangkabut.

Dari 10 orang yang saya tanya hampir semuanya mengeluh akibat Corona. Dari petani yang miskin, sampai pengusaha besar pemilik hotel bintang lima, mengeluh karena Corona. Dari wartawan sampai pejabat tinggi, juga mengeluh akibat dampak Corona.

Apalagi mereka yang kena PHK, apakah dia buruh, pegawai swasta, pekerja hotel, pekerja biro perjalanan, waiters restoran/rumah makan. Semua mengeluh. Malah ada yang koar-koar belum dapat sembako di media sosial. Padahal di desa orangtuanya sudah kebagian. Tetapi selalu mengatakan kelaparan di  media sosial. Padahal dalam kehidupan nyata, mereka masih bisa makan.

Wartawan yang rajin mengejar berita-berita Corona juga menderita. Medianya surut, sehingga juga mengejar sembako – sekalipun tidak semuanya dapat.

Kemarin saya baca di internet, sejumlah CEO Hotel berbintang juga mengeluh. Kalau sampai Juni 2020 tidak ada bailout (bantuan dari bank) dipastikan mereka juga akan bangkrut. Pasalnya, simpanan mereka hampir habis untuk bayar biaya operasional seperti listrik, air, telepon dan juga karyawan yang dirumahkan.

Kalau sekelas hotel bintang lima, yang selama ini sudah banyak mengeruk keuntungan mengeluh, bagaimana pedagang kecil sekelas Men Brayut yang hanya menjual tipat cantok? Bagaimana buruh yang hanya menghasilkan dari kerja harian? Banyak pertanyaan sejenis yang  dapat dibuat!

Pejabat apa dikira tidak mengeluh? Mereka mengeluh karena bingung mengatur anggaran yang terbatas. PNS juga gelisah sekalipun tetap gajian tanpa kerja. Mereka mengeluh cicilan mobil tidak dapat dibayar karena tunjangan berkurang.

Orang kaya yang punya banyak deposito juga mengeluh. Mereka sudah dua bulan lebih tidak berani ke mana-mana. Mereka pusing tidak dapat melancong dan rekreasi ke luar negeri.

Sejumlah wakil rakyat yang biasa studi banding  setiap hari juga pening. Uang tambahannya hilang begitu saja karena tidak boleh ke luar daerah, apalagi mau ke luar negeri. Bansosnya juga dipangkas untuk urus Corona.

Begitu gawatnya  urusan Corona. Vaksin belum ditemukan. Akhirnya belum ada yang dapat memprediksi kapan Corona akan enyah dari sekitar kita. Sekalipun mereka (Corona) segera lenyap, pemulihannya diperkirakan juga cukup lama.

Makin banyak keluhan akan  terjadi. Keluhan ada di semua lapisan masyarakat! Mereka yang kaya pun ternyata juga  menggerutu!

Huebatt betul kau Corona?

[Made Nariana/POSBALI]

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.