Hati-Hati Berinvestasi di Bali, Bule Jerman Tipu Investor Rp8,5 Miliar

Hati-Hati Berinvestasi di Bali
972 Melihat

DENPASAR, POS BALI ONLINE – Menggeliatnya sektor pariwisata di Bali makin mengairahkan para investor untuk menanamkan modalnya di Bali. Namun dibalik itu, para investor mesti lebih berhati-hati berinvestasi di Bali agar terhindar praktek penipuan yang malah banyak dilakukan oleh warga asing ke Bali.

Seperti aksi penipuan investasi vila yang kembali terjadi di Bali atau tepatnya penipuan inestasi Vila Kelapa Dua Retreat 2 di Pekutatan, Negara, Jembrana yang dilakukan oleh bule asal Jerman, Gordon Gilbert Hild terhadap mitra bisnisnya Yenny Sunaryo yang sudah dihukum 3 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

“Kasus ini menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi penipuan investasi ini dilakukan di Bali, daerah yang menjadi salah satu lokasi investasi wisata terbaik dan terbesar di Indonesia. Keputusan majelis hakim turut memberikan kepastian hukum bagi investor di Indonesia,” ungkap Tomy Alexander selaku Kuasa Hukum Yenny di Denpasar, Kamis (23/2).

Ia juga menegaskan kasus penipuan investasi itu berawal dari kerja sama yang ditawarkan pasangan suami istri Gordon dan Ismayanti kepada Yenny Sunaryo pada 2011 lalu. Mereka mengajak Yenny untuk membangun villa Kelapa Retreat II di Pekutatan, Negara, Bali Barat. Namun belakangan Yenny malah kehilangan haknya dalam investasi tersebut dan justru tidak dianggap memiliki bagian meski sudah menginvestasikan uang Rp8,5 miliar sesuai kesepakatan.

Hukuman terhadap Gordon ini lebih berat dibandingkan dengan vonis yang dijatuhkan kepada istrinya, Ismayanti atas kasus yang sama, pekan lalu. Ismayanti dinyatakan bersalah dan dihukum pidana penjara 2,5 tahun penjara. “Vonis terhadap Gordon dan Ismiyanti sesuai dengan fakta persidangan. Vonis ini juga memperkuat kesaksian kliennya bahwa pasangan tersebut sejak awal memang sudah berniat untuk menipu,” katanya.

Diungkapkan sebelumnya, Ketua Majelis Hakim, Made Sutisna dalam pertimbangan putusannya menyatakan Gordon terbukti telah melakukan tindak pidana penipuan yang menyebabkan Yenny kehilangan investasinya hingga Rp8.5 miliar. Terdakwa terbukti tidak memenuhi kesepakatan sesuai proposal yang ditawarkan kepada Yenny. Sebab, proposal yang ditawarkan Ismayanti dan Gordon kepada Yenny secara jelas menyebut kewajiban yang mesti dipenuhi kedua pihak.

Surat perjanjian atau akta perjanjian perusahaan yang menjadi kewajiban terdakwa pun tidak pernah dipenuhi. “Karena itu majelis hakim menolak seluruh dalil yang terdapat dalam nota pembelaan kuasa hukum yang menganggap kasus ini sebagai ranah perdata,” katanya.

Usai pembacaan vonis, Gordon diberikan kesempatan oleh majelis hakim untuk menanggapi putusan tersebut. Tapi bersama tim pembelanya menyatakan akan mengajukan banding. 016

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.