Hampir 90 Persen Turis Mancanegara Tetap Ingin Datang ke Bali.

112 Melihat

WABAH Covid-19  menghancurkan ekonomi Bali, khususnya  industri pariwisata. Banyak SDM yang bekerja di industri pelancongan tersebut  dirumahkan tanpa bayaran. Kalau dunia pariwisata tidak kembali pulih, dipastikan banyak pengusaha di bidang tersebut bangkrut total.

Kondisi yang dialami sektor andalan Bali di bidang pariwisata tersebut dibenarkan Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Badung IGN Rai Suryawijaya.

Dalam sebuah diskusi yang dilakukan Pokli (Kelompok Ahli) Pembangunan  Jumat, 26 Juni akhir pekan lalu di Denpasar, Rai Suryawijaya banyak bercerita soal  pariwisata Bali dalam  kondisi wabah Covid-19 itu.

Rai mengatakan, dunia wisata khususnya domestik  diharapkan mulai bergerak bulan Juli 2020. Tetapi untuk internasional diharapkan mulai Oktober sudah  ada turis dari luar negeri.

Mendatangkan turis luar negeri, banyak faktor yang perlu dikondisikan. Salah satunya pulihnya penerbangan. Dalam kondisi normal, jalur udara langsung ke Bali cukup banyak. Selama wabah covid penerbangan itu kosong sama sekali.

Dengan adanya Corona di seluruh Negara,  tentu mereka yang mau melancong ke Bali khususnya terhambat juga, sambil menunggu kondisi normal. Apalagi wabah Corona di negara lain, juga tidak kalah hebat dengan di Indonesia sendiri.

Satu hal yang sangat membanggakan, Rai mengakui, setelah melakukan kontak-kontak dengan partner di luar negeri, hampir 90 persen turis masih ingin mengunjungi Bali. Ternyata Bali masih idaman penting bagi kaum pelancong dunia.

“Hal ini tentu saja sebuah harapan besar bagi industri pariwisata Bali, jika wabah Covid dapat mereda segera,” kata Rai Suryawijaya.

Pengusaha pariwisata asal Desa Dalung, Kuta Utara itu mengatakan, akibat wabah Corona, kekuatan pengusaha menanggung karyawannya hanya tiga bulan. Lewat dari tiga bulan pasti karyawan yang dirumahkan  tidak dapat dibayar, karena turis ke Bali sudah nol persen.

Rai mengharapkan pemerintah pusat ikut memberikan perhatian kepada kondisi pariwisata Bali, sebab dalam keadaan normal,  Bali memberikan konstribusi ke pusat dari dunia pariwisata sebanyak Rp100 trilyun setahun. Sekalipun demikian, pengusaha pariwisata harus ikut bertanggungjawab terhadap pembangunan Bali.

“Jangan hanya maunya mengeruk sarinya di Bali, namun dalam keadaan kondisi seperti sekarang, semua tidak bertanggungjawab. Apalagi ada yang sudah 30 tahun berusaha di Bali,” kata Rai.

Ia mengatakan, ada 1.250.000 orang terlibat di dunia pariwisata Bali dari pengusaha besar sampai sopir, termasuk unsur industri pendukung lainnya.

Sebelum Covid, dalam satu jam lebih dari 27 kali penerbangan di Bandara Ngurah Rai membawa turis ke Bali. Kondisi tersebut kini berbalik 180 derajat.

Di bagian lain Rai Suryawijaya juga mengingatkan, setelah sejumlah karyawan di PHK saat ini,  jika kelak kembali situasi normal jangan sampai pengusaha merekrut karyawan di Jakarta atau Surabaya.

“Kalau sampai hal itu terjadi, anak cucu kita (penduduk lokal) akan kehilangan pekerjaan,” pungkas Rai.

Dalam diskusi tersebut, anggota Pokli A. A.Wisnu Murti mengharapkan pengusaha pariwisata mawas diri dan hilangkan ego sektoral. Bali mengembangkan konsep Pariwisata budaya. Tetapi pelaku-pelaku usaha pariwisata selama ini dinilainya seperti Drakula kehausan dalam mengeruk keuntungan. Banyak di antara mereka  melakukan praktek buruk seperti “jual-beli” kepala.

“Jangan-jangan praktek itu, menjadi karma buruk yang dialami sekarang di  dunia pariwisata,” sindir Ketua Yayasan Perguruan Warmadewa itu.

Sebelumnya memberikan paparan Dr. Gusti Kade Sutawa menyangkut dunia pariwisata Bali dalam kondisi wabah dan kondisi sebelum wabah Corona.

Ia mengatakan, recovery pariwista diyakini agak lama, sehingga diperlukan alternatif pekerjaan lain.

Dalam menghadapi kondisi seperti ini, Sutawa mengharapkan ketegasan pemerintah, membantu memberikan stimulus kepada bidang pariwisata dan hati-hati dalam mengeluarkan statemen dan kebijakan, sehingga tidak membuat ketakutan yang berlebihan di masyarakat.

Pokok-pokok pikiran dalam menuju Bali Era Baru di bidang pariwisata akan disampaikan kepada Gubernur Bali melalui OPD/Dinas terkait, sehingga dapat dipergunakan sebagai masukan menata pariwisata Bali, menghadapi kehidupan Bali Era Baru. [nariana]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.