Hadir Tingkatkan Kesejahteraan Petani dari Hulu ke Hilir

480 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Bidang distribusi dan penjualan ke konsumen seringkali menjadi hambatan petani di berbagai daerah di Bali. Menjawab hal tersebut, hadirlah Koperasi Petani Bali Agro Nusantara yang digagas Jero Gede Made Pelita.

Koperasi yang belum lama berdiri ini berkomitmen menjadikan petani sebagai kalangan yang sejahtera. Selain memberi kemudahan bagi amggotanya dalam mendistribusikan dan menjual hasil buminya, ia juga merancang asuransi bagi anggotanya. 

Ditemui di kantor pusat Koperasi Petani Bali Agro Nusantara di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Kesiman, Denpasar, Jumat (30/8) pria yang juga penekun spiritual ini menjelaskan keberadaan koperasinya sebagai sarana menghubungkan para petani dengan perusahaan besar seperti Carrefour, Transmart, serta hotel dan restoran di seluruh Bali.

“Saya sudah lama berniat membentuk wadah bagi para petani untuk mendistribusikan hasil buminya. Dan, seiring dengan diterbitkannya beberapa Peraturan Gubernur Bali No. 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Pruduk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali, semangat saya semakin terpacu,” katanya.

Melalui metode diatribusi terstruktur dan bepihak ke petani, pria yang sejak 1990 telah menekuni dunia pertanian, yakin keuntungan yang didapatkan petabi akan lebih besar. Terlebih, sistem tersebut akan berjejaring ke setiap kabupaten melalui unit-unit secara masif.

Saat ini, labjutnya, pihaknya telah melakukan pilot project terhadap sejumlah hasil bumi di tiga kabupaten, yakni di Songan, Kintamani, Bangli, di Tejakula, Buleleng, dan Belok Sidan, Petang, Badung. “Nanti kita akan kembangkan lagi, seiring penambahan anggota. Kini kami sudah ada sekitar 400 orang anggota tetap,” imbuhnya.

Menghindari anjloknya harga akibat produksi melimpah ketika musim panen, pihaknya juga telah memproyeksikan pengolahan hasil pertanian menjadi produk-produk yang bertahan lama. “Misalnya tomat di Kintamani kita akan hubungkan dengan perusahaan Indofood guna diolah jadi saus. Kan bagus ya, seperti sekarang banyak tomat dibuang oleh petani karena harga anjlok, tapi di pabrik Indofood mereka kurang pasokan tomat,” ucapnya.

Selain menyiapkan langkah-langkah di bidang distribusi, perdagangan, dan pasca produkasi, pihaknya juga tak lupa mengagendakan pembinaan kepada anggota, mulai tentang pola tanam, metode menyuburkan tanah, membangun rantai distribusi yang sehat, hingga proses pascapanen.

“Memang sulit, ketika kita pertama masuk ke petani, sebab mereka sudah terlanjur nyaman dengan pola kontrak atau sewa pohon produktif dengan para tengkulak. Padahal punya potensi merugikan petani itu sendiri,” pungkasnya. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.