Hadapi Revolusi Industri 4.0 dengan SDM Skill Jamak

370 Melihat

KUTA SELATAN, posbali.co.id – Bersaing di era Revolusi Industri 4.0 bukan perkara mudah. Untuk dapat terus eksis, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang tidak hanya bertopang pada satu skill semata.

Ketua Senat Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc., pada sambutannya dalam Sidang Terbuka Universitas Udayana serangkaian Dies Natalis ke-57 Universitas Udayana, di Auditorium Widyasabha Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Minggu (29/9) siang, mengatakan perubahan teknologi informasi di era Industri 4.0 tidak hanya menyoal perkembangan teknologi informasi. Di sisi lain, Industri Revolusi 4.0 akan turut menyebabkan perubahan iklim, yang memaksa manusia dapat adaktif terhadap perubahan.

“Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan kehadiran big data, internet of things, dan artificial intelligence tidak saja menyebabkan teknologi informasi yang bergerak cepat, melainkan turut mempengaruhi pergerakan alam dan iklim. Teknologi berubah, iklim berubah, sehingga mau tidak mau harus direspon dengan menyiapkan sumber daya manusia muda yang harus memiliki skill jamak,” terangnya.

Diamati, perubahan teknologi informasi, iklim, dan alam semesta menyebabkan ketidakpastian dan kompleksitas. “Ketidakpastian, kompleksitas, hanya bisa dijawab dengan multiple skill. Ini tantangan kita (di perguruan tinggi) untuk mengembangkan kurikulum yang menghasilkan lulusan dengan multiple skill,” tegasnya.

Mengatahui tantangan tersebut, sebagai refleksi hari jadi ke-57 Universitas Udayana, pihaknya terus menerus berupaya meningkatkan kontribusinya ke masyarakat dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagaimana lambang Universitas Udayana, Widya Cakra Prawartana. “Widya Cakra Prawartana artinya ilmu pengetahuan terus berkembang dan kita harus berkontribusi terhadap perkembangan itu. Selanjutnya, ilmu pengetahuan harus diabdikan senaksimalnya untuk kebajikan sebagai moto Universitas Udayana, Taki-takining Sewaka Guna Widya yang artinya bersungguh-sungguh mengabdi untuk kebajikan dan ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Hal senada dinyatakan Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S (K). Usia ke-57 yang dicapai institusinya tahun ini diharapkan menjadi momentum mengevaluasi capaian-capaian yang telah ditarget, namun hasilnya belum maksimal.

“Kita akan bekerja terus mewujudkan visi Universitas Udayana secara berkelanjutan sesuai rencana strategis menjadi perguruan tinggi yang unggul, mandiri, dan berbudaya di era digital 4.0 ini,” katanya.

Dilanjutkannya, saat ini pihaknya tengah menyiapkan strategi belajar berbasis dalam jejaring (daring), mulai tataran kurikulum, materi kuliah, hingga ke teknis pembelajaran. Selain itu, upaya-upaya mendorong kelahiran penelitian berkualitas juga terus diupayakan.

“Dari sisi keunggulan, saat ini dari 117 prodi yang kita miliki, sebesar 49,6 persen atau tepatnya 58 prodi sudah terakreditasi A. Sementara, 50 prodi terakreditasi B dan ada 9 prodi yang baru dibuka (belum terakreditasi). Keunggulan lainnya, selama lima tahun terakhir, persentase mahasiswa dengan IPK di atas 3 juga di atas 89 persen,” tutupnya.

Berbarengan dengan Dies Natalis ke-57 Universitas Udayana, universitas yang lahir melalui embrionya Fakultas Sastra Udayana, turut memberikan penghargaan pada dua tokoh yang dinilai berperan penting bagi kemajuan universitas. Tokoh penerima penghargaan adalah Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, FAACS dan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, S.Sos. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.