“Gerilya dan Cinta”, Tentang Keberanian dan Penyikapan Pemuda

870 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Puluhan judul prosa berbahasa Indonesia tersaji dalam buku kumpulan prosa “Gerilya dan Cinta: Ibu Pertiwi Murka karena Manusia Durhaka” karya penulis muda, Jro Adit Alamsta. Kehadirannya menjadi seremah bukti kepekaan, daya kreatif, dan penyikapan pemuda atas kondisi kekinian, sebuah barang langka di tengah banjir hedonis dan pragmatisme pemuda saat ini.

Demikian terungkap dalam bincang buku terbitan Mahima Institut Indonesia yang digelar di Lakeview Hotel and Restaurant, Penelokan, Kintamani, Minggu (1/9). Dua akademisi muda Bali tampil sebagai pembedah karya perdana pemuda yang sejak 2010 silam telah ngayah sebagai pemangku di Pura Ulun Danu Batur, Batur, Kintamani. Kedua pembahas adalah Dr. I Ngurah Suryawan, M.Si. (Universitas Papua), dan Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum. (Universitas Udayana).

Ngurah Suryawan menilai kehadiran buku karya salah satu kader DPK Peradah Indonesia Bangli ini mencirikan keberanian pemuda dan intrlektual dalam berkarya dan bersikap. Saat ini banyak di pemuda yang larut dalam rotasi hidup sedemikian rupa, hingga lupa untuk berkarya dan bersikap dengan berbagai alasan. Karya yang dimaksud tentu saja bukan hanya dalam bentuk tulisan, melainkan juga dalam wujud yang lain.

“Tapi, menulis adalah yang paling ideal, karena dapat mendokumentasikan eksistensi penulis. Tulisan juga menunjukkan keberpihakan penulisnya,” ucapnya.

Tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Soe Hok Gie dicontohkan menjadi sosok-sosok yang perlu dijadikan cermin dalam proses penempaan batin pemuda dan intelektual di tengah kekaburan jati diri seperti saat ini. Soe Hok Gie misalnya, ketika “pembantaian” besar-besaran terjadi di Bali yang pada 1965, ia menjadi salah satu yang berani bersuara di tengah “kebungkaman”. Catatan itu kemudian dituliskan sebagai wujud penyikapan atas tragedi kemanusiaan yang terjadi ketika itu.

“Tentu semua tindakan dan karya ada risikonya. Tapi, di sanalah ujian menentukan dan menyatakan sikap itu,” imbuh penulis buku “Mencari Bali yang Berubah” ini.

Pandangan tak jauh berbeda disingkap Guna Yasa. Bertolak pengamatan pada 30-an judul kisah yang dihimpun dalam buku tersebut, ia mengamati aspek lingkungan dan latar belakang penulis sangat kental menampakkan diri.

“Kehadiran buku ini membuktikan ada tiga siklus dalam proses penciptaan sebuah karya yang seringkali menyebabkannua memiliki kekuatan. Tiga siklus itu adalah yatra (perjalanan), sastra, dan rasa (pandangan; pesan),” jelas akademisi kelahiran Selat Tengah, Susut, Bangli.

Ketiga konsep ini lumrah ditemui dalam proses kreatif para kawi karya sastra klasik. Melalui yantra itulah seorang kawi akhirnya melahirkan “anak-anak kata” untuk menyampaikan pesan dan pandangannya pada kondisi yang terjadi.

Di sisi lain, Guna Yasa turut menilai keberanian penulis yang notabene seorang pemangku muda untuk menapaki jalan sastra. Dalam ruang rohani Bali, telah lama dikenal istilah kawi-wiku, yakni seorang pendeta yang bersastra. Seorang wiku (pendeta) bukan saja bertugas memimpin upacara, melainkan turut berkewajiban memberi penerangan batin melalui karya-karya sastra sebagai penyair (kawi).

“Zaman dulu, seorang wiku juga adalah kawi, sehingga dikenal istilah kawi wiku. Selain bertugas melakukan loka palasraya, seorang wiku juga bertugas menjadi pencerah melalui karya sqastra,” terangnya. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.