Gempa pada Buda-Pon di Sasih Kasanga, “Merana Galak” Banyak Orang Meninggal

359 Melihat
Ilustrasi naskah lontar

DENPASAR, POSBALI.co.id – Gempa bumi bermagnitudo 6,3 menggoyang Pulau Dewata Kamis (19/3) dini hari sekira pukul 01.45 WITA. Gempa berpusat di kedalaman 10 km pada titik 11,25 LS dan 115,09 BT atau di 273 km barat daya Kuta Selatan itu pun sempat memicu kepanikan warga yang tengah tertidur lelap.

 

Bagi masyarakat Bali, kehadiran gempa yang tak berpotensi tsunami itu memiliki nilai berbeda. Sebab, gempa tersebut dirasakan dalam rentang Sasih Kasanga, sebuah bulan dalam penanggalan Saka yang dipercaya menjadi akumulasi kegelapan.

 

Dalam tatanan keilmuan tradisional Bali, gempa memang menjadi fenomena alam yang digunakan sebagai salah satu tanda pembawa pesan kondisi bumi ke depan. Prediksinya bisa baik maupun buruk, dihitung berdasarkan perhitungan rumit yang mempertemukan berbagai unsur dina (hari) ketika gempa terjadi. Penjabaran tersebut dapat ditemui teks berjenis palelindon, maupun teks lainnya.

 

Made Reland Udayana Tangkas, S.S., M.Hum

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Reland Udayana Tangkas, S.S., M.Hum, saat dihubungi POS BALI, memberikan pandangannya terhadap gempa yang terjadi di tengah pandemic global, virus corona (Covid-19). “Menurut lontar palelindon, gempa pada Sasih Kasanga berakibat baik dan buruk, seperti sasab merana (hama penyakit),” terangnya.

 

Namun, akademisi penggemar sastra tradisional yang cukup lama bergelut dengan lontar koleksi Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana ini mengingatkan, pengaruh gempa menurut lontar tersebut tidak saja dihitung berdasarkan sasih, namun juga berdasarkan sapta wara (pekan berjumlah tujuh hari) dan panca wara (pekan berjumlah lima hari), dan pekan-pekan berjumlah lainnya.

 

“Panca wara dan Sapta Wara ini penting juga diperhatikan, bukan hanya sasih-nya. Jika kita hitung hari dimana terjadinya gempa, yakni pada Sapta Wara Buda (Rabu), prediksinya akan berakibat buruk, kweh wong pejah (banyak orang yang meninggal, red), sedangkan karena gempa juga terjadi pada Panca Wara Pon prediksinya baik dan buruk, diprediksi merana (penyait) akan galak, namun sarwa phala dadi (semua buah akan berhasil),” jelas alumnus Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana ini.

 

Ditambahkan, perhitungan unsur-unsur hari lainnya yang dimiliki saat terjadi gempa juga patut diperhatikan. Gempa yang terjadi Kamis (19/3) mengandung unsur Menga (Dwi Wara) yang berarti baik, Kajeng (Tri Wara) berarti buruk, Menala (Catur Wara) yang berarti baik dan buruk, Maulu (Sad Wara) yang berarti baik dan buruk. “Menurut Asta Wara, gempa terjadi pada perhitungan Yama yang berarti buruk, menurut Sanga Wara-nya termasuk Dadi yang berarti baik, serta menurut Dasa Wara-nya tepat ketika Sri, yang berarti baik dan buruk,” ucapnya sembari mengajak masyarakat tetap tenang dan waspada dengan segala kemungkinan, serta memohon perlindungan ke Tuhan Yang Maha Esa. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.