Gelar Tajen di Rumah, Pecatan Polisi Diciduk

Polisi menunjukkan tersangka dan barang bukti tajen di Mapolres Buleleng.
447 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Seorang pecatan anggota Polri yang terakhir berpangkat Aiptu bernama Ketut Metriya (54) diciduk jajaran Polsek Kota Singaraja. Metriya diciduk di kediamannya di wilayah Kelurahan Penarukan, Buleleng karena menggelar judi tajen atau sabung ayam di areal rumahnya.

Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Made Santika, mengatakan, Metriya diamankan pada Jumat (20/11) sekitar pukul 16.30 Wita di kediamannya di Jalan Setia Budi, Kelurahan Penarukan, Buleleng. Tersangka terbukti menggelar judi sabung ayam atau tajen. Awalnya polisi mendapatkan informasi dari masyarakat yang resah dengan adanya judi tajen di areal rumah tersangka sejak beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan informasi itu, jajaran Polsek Kota Singaraja langsung mendatangi lokasi. Saat digerebek, polisi menemukan kegiatan judi tajen yang diikuti 25 orang bebotoh (penjudi). Mereka pun langsung digiring ke Mapolsek Kota Singaraja. Tapi, sejumlah bebotoh hanya diberikan pembinaan.

Ketut Metriya selaku penyelenggara judi tajen ditetapkan sebagai tersangka. “Kami langsung mengamankan penyelenggara tajen serta barang bukti berupa 2 ekor ayam mati, 2 taji, 2 gulung benang pengikat taji, 1 sangkar ayam, serta uang tunai Rp150 ribu,” ungkap Kompol Santika, Kamis (26/11).

Pelaku mengakui perbuatannya telah menyelenggarakan permainan judi sabung ayam atau tajen di tengah situasi pandemi Covid-19 di areal rumahnya. “Keuntungan dari digelar judi tajen ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,” kata Kompol Santika.

Kompol Santika juga akan segera berkoordinasi dengan Tim Yustisi, apakah Metriya bisa dikenakan sanksi Pergub Bali No. 46 Tahun 2020 dan Perbup Buleleng No. 41 Tahun 2020, tentang penegakan protokol kesehatan, mengingat judi tajen digelar Metriya dilakukan di tengah pandemi.

Sementara itu, tersangka Metriya mengaku terpaksa menggelar judi tajen karena tidak punya pekerjaan. Dia yang dipecat karena disersi ini mengaku baru dua kali menggelar judi tajen, yakni Kamis (19/11) dan Jumat (20/11). Sekali menggelar judi tajen, dia mengaku mendapat keuntungan Rp150 ribu.

“Baru menggelar judi tajen selama dua hari. Ikut tajen hanya tetangga saja yang ada di sekitar rumah, tidak ada orang dari luar daerah. Semenjak dipecat dua tahun lalu dari kepolisian saya memang tidak ada pekerjaan,” tutur Metriya.

Akibat perbuatannya, Metriya terancam dijerat dengan Pasal 303 Ayat (1) KUHP tentang perjudian, dengan ancaman hukuman pidana paling lama 10 tahun penjara atau pidana denda paling banyak Rp25 juta. 018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.