Galungan dan Durga Puja

514 Melihat
IBP Suamba

DENPASAR, POSBALI.co.id -Rabu (19/2), umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Suci Galungan. Meski dirayakan setiap enam bulan sekali, pemaknaan Galungan jarang tersentuh, sehingga idealnya harus diselami lebih dalam.

Akademisi Politeknik Negeri Bali, Dr. Ida Bagus Putu Suamba, belum lama ini menuturkan persoalan esensi Galungan, serta kaitannya dengan perayaan Wijaya Dasami (Durga Puja) di India. Meski memiliki sejumlah perbedaan, keduanya menunjukkan sejumlah kesamaan, utamanya terkait pemujaan sakti.

“Ada yang menyatakan Galungan serupa dengan Wijaya Dasami yang dilaksanakan di India, namun juga ada yang mengatakan keduanya tidak ada hubungan sama sekali dengan menunjuk kenyataan bahwa hari pelaksanaan, sarana-sarana yang dipakai, mitologinya, dan lain-lain tidaklah sama,” katanya di Denpasar.

Di India, lanjutnya, pemujaan kepada Dewi Durga dilakukan dengan nama berbeda-beda, seperti Wijaya Dasami dan Dusera, sedangkan di Bali pemujaan pada Durga hanya pada perayaan Galungan. “Durga Puja tampak jelas di dalam rangkaian Wijaya Dasami di India sekaligus mengakhir pemujaan kepada Durga. Pada perayaan itu dibuat arca Durga membunuh Mahisasura,” terangnya.

Sedangkan, lanjutnya, dalam perayaan Galungan, Durga Puja dilaksanakan tidak semenonjol di India. Hanya saja, aspek-aspek Durga memang tampak meyakinkan, terutama mengamati penggunaan sarana banten berupa daging babi, adanya Kala Tiga dan Jaya Tiga yang konon turun di rangkaian perayaan, serta mitologi Jaya Kasunu dan kisah Mayadanawa mengacu pada sosok Durga.

“Durga dipuja secara integratif dalam kurun waktu yang panjang. Di India terdapat banyak variasi karena mungkin karena luasnya wilayah, latar belakang kebudayaan yang berbeda. Sementara, di Indonesia hanya dikenal sebagai Galungan saja, meski variasi sedikit banyak ada antara daerah satu dengan lainnya,” katanya.

Dilihat dari aspek Tantrayana, akademisi yang sempat belajar di India ini mengatakan perayaan Galungan sejalan dengan Dewi Durga Puja yang mengedepankan pemujaan kepada sakti atau dewi. “Dewi dalam konteks ini dipandang sebagai kekuatan tertinggi dan absolut dari mana semuanya berasal, semua lahir dari ibu. Dewi dipuja untuk memohon sakti yang digunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya, Durga Puja dalam konteks Galungan bersifat integratif antara Weda, Purana, Siwa, dan Tantra yang memberikan peluang besar kepada unsur lokal berkontribusi di dalamnya,” jelasnya. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.