FIB Unud Gelar Seminar Alumni, Serangkaian Pelepasan Calon Wisudawan ke-131

836 Melihat

DENPASAR, POS BALI – Empat orang narasumber dari tiga jenjang pendidikan (sarjana, magister, dan doktor) tampil dalam Seminar Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud), Senin (20/5). Kegiatan akademik tersebut digelar sebagai rangkaian Pelepasan Calon Wisudawan ke-131 FIB Unud, Selasa (21/5) hari ini.

Para pembicara yakni Dr. Nirmalasari, S.Pd., M.Hum. (Prodi Doktor Linguistik), Dwika Yanti Mnune, S.S., M.Hum. (Prodi Magister Linguistik), Ade Novi Antari Putri, S.S. (Prodi S1 Sastra Inggris), dan Tiara Purwaningsih, S.S. (Prodi S1 Arkeologi). Keempatnya menyajikan makalah yang bersumber dari masing-masing tugas akhir, yang didiskusikan bersama 70 orang calon wisudawan dari berbagai jenjang dan prodi lainnya.

Nirmalasari dalam makalahnya yang berjudul “Bahasa Lingkungan Kekaghatian Guyub Tutur Bahasa Muna: Kajian Ekolinguistik” mengungkapkan keberagaman leksikon di lingkungan kaghatian dalam bahasa Muna, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Khagatisendiri adalah layang-layang tradisional dalam guyub tutur bahasa Muna, yang dijadikan salah satu jenis permainan rakyat dan masih eksis hingga saat ini.

Dari hasil kajiannya, dosen Universitas Halu Oleo ini menyimpulkan bahwa bentuk leksikon keghatianmelingkupi leksikon biotik dan abiotik. “Leksikon itu ada yang berbentuk tunggal dan ada yang berbentuk kompleks, sedangkan secara kategori ada yang berupa nomina, verba, dan adjektiva,” katanya.

Terkait dengan pemahaman di kalangan penutur, hasil penelitiannya mengungkapkan semakin muda penutur, semakin minim pemahamannya terhadap leksikon yang ada. Dari 532 leksikon yang disajikan pada responden berusia 46-65 tahun menunjukkan pemahaman sebesar 77 persen, sedangkan pada responden berusia 25-45 tahun menunjukkan pemahaman sebesar 59 persen, dan pada usia 15-24 tahun menunjukkan pemahamannya terhadap leksikon-leksikon itu hanya sebesar 29 persen.

“Dinamika pemahaman ini dipengaruhi oleh faktor agama, kebahasaan, penutur bahasa Muna (kesenjangan pewarisan antargenerasi dan keaktifan guyub tutur), serta perubahan ekologi,” tambah doktor yang menyelesaikan studinya dalam waktu 5 tahun 5 bulan dengan IPK 3,96 ini.

Pembicara kedua, Dwika Yanti, dalam makalahnya yang berjudul “Konjungsi Bahasa Jepang dalam Novel Gurotesuku” menemukan sejumlah konjungsi dalam karya sastra gubahan Natsuo Kirino itu. “Konjungsi-konjungsi yang ditemukan dalam nobel tersebut meliputi konjungsi sebab-akibat, konjungsi alasan, konjungsi pertentangan, konjungsi perumpamaan, konjungsi hubungan setara, konjungsi tambahan, konjungsi pilihan, konjungsi perbandingan, konjungsi pengalihan topik, dan konjungsi simpulan,” kata peraih IPK 3,81 ini sembari menambahkan konjungsi-konjungsi tersebut dapat dibagi dalam beberapa klasifikasi.

Dalam makalah berjudul “Shift Frasa Nomina Kompleks Bahasa Inggris dan Terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia di Novel Mockingjay”, Ade Novi Antari menyimpulkan dua jenis frasa nomina yang diterjemahkan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran (Indonesia). Dua frasa itu adalah frasa nomina kompleks dengan pre-modification dan frasa nomina kompleks dengan post-modification. “Sementara, semua jenis category shifts terjadi dalam terjemahan kata benda dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia,” katanya.

Paparan utusan Prodi Arkeologi, Tiara Purwaningsih memberikan paparan berbeda dibandingkan tiga pemateri sebelumnya yang menyajikan kajian linguistik. Dalam makalah berjudul “Pengembangan Situs Kompleks Makam Sendang Duwur sebagai Destinasi Wisata Religi Berbasis Pelestarian”, peraih IPK 3,48 ini mengatakan situs yang berada di Desa Sendang Duwur, Lamongan, Jawa Timur itu memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan untuk wisata. Potensi tersebut ada yang berupa potensi warisan budaya benda (tangible) maupun warisan budaya tak benda (intangible).

“Potensi tangible meliputi kompleks makam, gerbang, bangunan masjid, gentong air, sumur giling, kerajinan batik tulis, dan kerajinan emas, sedangkan yang bersifat intangible berupa bentang alam dab kesenian jidor. Melihat potensi ini, situs ini dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Dalam pengelolaannya sudah baik, namun pemberdayaan masyarakat dalam mengelola situs kami rasa penting,” jelasnya.

Sayangnya, meski diikuti peserta dari silang keilmuan dan jenjang di lingkup FIB Unud, diskusi tidak berjalan aktif. Hal tersebut tampak dari minimnya tanggapan peserta pada sajian narasumber, baik dalam bentuk tanggapan maupun pertanyaan.

Dalam Pelepasan Calon Wisudawan ke-131, FIB Unud melepas 74 orang calon wisudawan. Jumlah tersebut meliputi 2 orang dari Prodi Doktor Linguistik, 1 orang dari Prodi Doktor Kajian Budaya, 6 orang dari Prodi Magister Linguistik, 2 orang dari Prodi S1 Sastra Indonesia, 4 orang dari Prodi S1 Sastra Bali, 5 orang dari Prodi S1 Sastra Jawa Kuno, 42 orang dari Prodi S1 Sastra Inggris, 3 orang dari Prodi S1 Arkeologi, 2 orang dari Prodi Sejarah, dan 7 orang dari Prodi Sastra Jepang. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.