Empat Tahun Berkarya, Emoni Bali Fokus di Gending Rare

Gungde Raka Gunawarman, personel grup musik Emoni Bali saat tampil di Denfest 2020.
1,215 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Etnic Harmoni atau Emoni Bali Band sudah dikenal masyarakat dengan membawakan gending rare (lagu-lagu anak). Terkenal dengan lagu “Ketut Garing”, Emoni Bali yang lahir di tahun 2013 hingga memasuki tahun 2020 sudah memiliki empat buah album. Grup musik ini beranggotakan Gungde Raka Gunawarman (gitar, vokal), Gungde Prama Sastrawan (cajoon, vocal), Eka Wahyudi (gitar), IB. Yogi Pratama (bass), Gung Edy Prayoga (rindik), Dony Dwiyoga (rindik), Deny Yoga Pratama (suling), dan Gungwah Aritama (suling).

Gungde Raka, vokalis Emoni Bali pada Creative Talkshow Denpasar Festival (Denfest) ke-13 melalui Channel Kreativi Denpasar menuturkan perjalanan Emoni Bali yang tetap fokus pada gending rare. “Sudah memasuki album keempat Ongkek Ongkek Ongkir di tahun 2020 kami tetap pada fokus gending rare, yang mengkolaborasikan instrumen Bali,” ujarnya.

Lebih lanjut Gungde mengatakan, lagu-lagu gending rare memiliki banyak makna di setiap liriknya. Maestro seni tradisi Made Taro memberikan dukungan yang sangat kuat kepada Emoni Bali untuk tetap dan menjadi tanggung jawab dalam meng-cover gending rare. Ada dua single dari Made Taro seperti “Memace” dan “Hitung Jeriji” turut dinyanyikan.

Gending rare ternyata banyak makna dalam setiap lagunya, seperti Hitung Jeriji, ternyata ada banyak makna di setiap jari kita,” ujar Gungde Raka.

Lebih jauh dia mengatakan, banyak versi di setiap banjar dan desa ketika menyanyikan gending rare, ini menjadi hal yang sangat unik. Secara analisa pribadinya, gending rare tidak ada judul, karena judul itu diberikan kepada pewaris itu sendiri. Seperti lagu “Meong-Meong” secara tidak langsung terus dinyanyikan dan membawakan judul sendiri pada pewarisnya.

Dari setiap lagu yang di-cover Emoni Bali tetap mencari referensi buku serta masukan dari para seniman senior seperti Guru Anom dan Pak Taro, hingga dukungan terus mengalir untuk tetap eksis pada gending rare.

Pada masa pandemi ini, Emoni Bali tetap fokus dan berhasil menyelesaikan album keempat. “Gending rare ini dengan berbagai versi dan kami aransemen yang tidak terlepas dari sebuah konsep permainan tradisional anak dan juga sering digunakan orang tua di Bali dalam mengemong anaknya,” katanya.

Gungde Raka Gunawarman mengungkapkan, lagu “Ketut Garing” kini telah banyak dinyanyikan. Ini menjadi kesempatan bagi Emoni mengubah persepsi masyarakat Bali bahwa gending rare merupakan lagu anak-anak, namun harus diperkenalkan oleh orang dewasa sehingga gending rare kembali populer.

Dia menambahkan, dalam album keempat ada 10 lagu, dengan suguhan berbeda pada album pertama hingga ketiga. “Pada tahun 2021 kami tidak hanya meng-cover dan menulis, serta kami berusaha setiap kata yang ada di lagu itu kami mulai cari, seperti pelafalan hingga penulisan yang tentu kami carikan narasumber. Gending rare diciptakan dengan tradisi lisan dan kita digitalisasikan, dengan harapan anak cucu dapat mendengar lagu rare ini nantinya,” katanya. rap

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.