Dua Tradisi di Kutsel Juga Ditiadakan, 9 Desa Adat Di Kutsel lakukan pola pengaturan

Suasana Rakor Desa Adat se kecamatan Kuta Selatan dengan Camat Kutsel dan Puskesmas Kutsel
726 Melihat

MANGUPURA, POSBALI.co.id – Dua tradisi di wilayah Kuta Selatan tahun ini ditiadakan, pasca pandemi virus Corona. Adapun dua tradisi tersebut adalah Siat yeh Desa Adat Jimbaran dan Drestha Lango Desa Adat Bualu. Kedua tradisi yang digelar saat Ngembak Gni tersebut sepakat dibatalkan, setelah kedua desa adat melakukan paruman. Dalam paruman digelar mengacu pada Surat Edaran Gubenur Bali No 7194 dan Surat Edaran Bupati Badung No 183, yang salah satu point diantaranya mengimbau peniadaan atau pembatasan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian atau kerumunan masa, dalam upaya mencegah penyebaran virus Corona.

Bendesa Adat Jimbaran, Made Budiarta dikonfirmasi Jumat (20/3) menerangkan, tahun ini tradisi siat yeh Desa Adat Jimbaran memang dibatalkan. Hal tersebut merupakan kesepakatan hasil paruman desa adat Jimbaran yang telah dilaksanakan, Kamis (19/3). Sementara untuk prosesi Pemelastian, hal itu akan tetap di laksanakan di Pantai Jimbaran, dengan pengaturan jumlah peserta. Waktu pelaksanaan melasti akan dilakukan Senin (23/3) mulai dari pukul 15.00 Wita. “Besoknya ida bhatara akan nyejer, sehingga masyarakat bisa mrlakukan persembahyangan dan maprani. Malam dilakukan prosesi medatengan. Untu selanjutnya besoknya dilakukan Tawur Agung Kesange yang kita pusatkan di Catus Pata, dengan juga pembatasan peserta,”terangnya.

Selain itu, rapat tersebut juga menyepakati bahwa pawai ogoh-ogoh kali ini juga ditiadakan. Dimana ogoh-ogoh yang ada nantinya akan tetap berada di balai banjar, untuk kemudian nantinya di pralina di tempat dengan tirta. Walaupun belakangan ini ada arahan, bahwa pawai ogoh-ogoh bisa diatur di wewidangan banjar saja. Namun karena secara pengaturan tekhnis di Jimbaran cukup sulit dilakukan, maka arak-arakan tetap ditiadakan. “Kondisi banjar di Jinbaran itu berdekatan dan jumlahnya banjar banyak. Jadi waktu dan pengawasannya ini yang agak sulit dilakukan.  Lokasi kegiatan itu terbatas, penduduk kita heterogen, waktu kita terbatas, ini sulit kita atensi,”ungkapnya.

Diakuinya, keputusan tersebut memang mengundang riak-riak di kalangan anak muda. Namun demi kepentingan bersama, berdasarkan aspek keselamatan, kenyamanan dan kesehatan, maka keputusan tersebut harus ditempuh. Pihaknya berharap semua pihak bisa memaklumi kondisi tersebut, karena keputusan itu diambil berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi saat ini.

Sebelumnya, sembilan Desa Adat di wilayah kecamatan Kuta Selatan, Rabu (18/3) melakukan rapat koordinasi dengan Camat Kuta Selatan dan Puskesmas Kuta Selatan. Rapat tersebut membahas sejumlah agenda desa adat di wilayah Kuta Selatan, terkait pelaksanaan rentetan Hari Raya Nyepi tahun 2020. Dalam rakor tersebut, semua desa adat tersebut memiliki kesamaan persepsi, untuk mengatur pola, dalam mengurangi kegiatan yang berpotensi menimbulnya keramaian. Seperti pengaturan prosesi kegiatan ogoh-ogoh di masing-masing desa dan menunda sejumlah agenda yang sifatnya rutin dilaksanakan serangkaian dengan pelaksanaan Catur Bratha Penyepian. Seperti penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan melaksanakan protap pelindungan diri dalam mencegah virus corona.

Terkait dengan hasil paruman desa adat masing-masing, Desa Adat Bualu memutuskan melakukan pembatalan penyelenggaraan Drestha Lango dan Dharma Shanti Nyepi. Begitupula Desa Adat Ungasan yang juga memutuskan menunda Paruman Agung. Sementara untuk pawai ogoh-ogoh di masing-masing desa adat, hal itu tetaplaj dilaksanakan dengan penyesuaian dan pengaturan pola pembatasan rute perlintasan dan pengaturan waktu pelaksanaan. 023

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.