Dua Pelabuhan di Karangasem Terpetakan Jadi Pusat Lintasan Jalur Rempah Nusantara

Suasana kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun I (DKT I) tentang Aksi Jalur Rempah Nusantara bertempat di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Rabu (4/11).
922 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun I (DKT I) tentang Aksi Jalur Rempah Nusantara bertempat di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Rabu (4/11). Dalam DKT yang mengangkat tema “Karangasem dalam Lintasan Jalur Rempah Nusantara” ini, dua pelabuhan di Karangasem terpetakan menjadi pusat lintasan Jalur Rempah Nusantara. Keduanya yakni Pelabuhan Tulamben dan Pelabuhan Padangbai.

Jalur Rempah Nusantara merupakan sebuah lintasan perjalanan rempah yang telah memberikan dampak yang sangat besar mengubah Nusantara, bahkan merubah tatanan politik, sosial, budaya dan ekonomi dunia. Berbagai bangsa di dunia datang mencari pusat rempah di Nusantara, dengan membentuk sebuah Jalur Rempah Nusantara.

Kepala BPNB Provinsi Bali, I Made Dharma Suteja, dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini merupakan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di bawah Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, yang kemudian difasilitatori oleh BPNB Provinsi Bali sebagai UPT di daerah. Pada DKT I ini BPNB Provinsi Bali mengundang 25 peserta khusus dari kalangan birokrat di Kabupaten Karangasem yang memegang berbagai kebijakan di daerah. “Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan standar kesehatan dan protokol Covid-19,” ucapnya.

Dharma Suteja mengatakan tujuan dari Program Jalur Rempah Nusantara adalah merevitalisasi kebudayaan bahari dan mengembangkan diplomasi budaya. Adapun sasarannya antara lain menghasilkan sebuah platform budaya yang merekonstruksi dan merevitalisasi sejarah budaya bahari untuk menumbuhkan kebanggaan jati diri daerah-daerah di Indonesia, dan memperkuat jejaring budaya antardaerah, pulau, dan bangsa. Kegiatan ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya jalur rempah untuk pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya, mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Dunia atau World Heritage, untuk memperkuat diplomasi Indonesia dan sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang ditargetkan pada tahun 2024.

Kegiatan ini menampilkan tiga orang narasumber, yakni I Putu Arnawa selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem, dengan membahas isu-isu strategis, dan rencana aksi jalur rempah di Pelabuhan Tulamben dan Padangbai. Yang kedua, Dr. I Made Regeg, M.Si dari kalangan akademisi, membicarakan tentang rempah dalam kuliner masyarakat Karangasem. Budayawan I Nengah Suarya sebagai narasumber terakhir membicarakan peran Pelabuhan Tulamben dalam Jalur Rempah Nusantara.

DKT berjalan sangat menarik. Adapun hasil rumusan sementara dari DKT I adalah, pertama, memperkuat rekonstruksi Jalur Rempah di Pelabuhan Tulamben dan Padangbai agar mampu mendukung upaya penetapan Warisan Dunia terhadap Jalur Rempah Nusantara. Kedua, segera melakukan kajian atau penelitian akademis terhadap kedua pelabuhan tersebut. Ketiga, pemahaman pemanfaatan dan kegunaan rempah dalam kuliner masyarakat agar tumbuh kesadaran akan bahan bumbu rempah yang sehat dan mengurangi penggunaan bumbu penyedap kimia. Keempat, perlu dibangunnya sarana dan prasarana yang lebih baik terhadap Pelabuhan Tulamben sebagai pelabuhan di sisi utara Karangasem, dan Pelabuhan Padangbai di sisi selatan.

Kelima, perlunya pengembangan destinasi wisata terhadap kedua pelabuhan tersebut dengan brand-nya masing-masing. Keenam, perlunya perlindungan terhadap situs cagar budaya yang ada di sekitar pelabuhan tersebut untuk mendukung destinasi wisata, seperti adanya bangkai kapal perang sekutu yang tenggelam di Pelabuhan Tulamben. Ketujuh, perlunya pengembangan perkebunan rempah bagi masyarakat, khususnya yang bersifat asli seperti pala bali (lebih kecil bentuknya), kapulaga, serta segala jenis umbi-umbian (temu) asli Bali, yang masih tergolong dalam rempah agar memiliki manfaat besar bagi masyarakat.

“Hasil rumusan sementara diskusi kelompok terpumpun I yang difasilitatori oleh BPNB Provinsi Bali, nantinya akan dilanjutkan lagi dengan diskusi kelompok terpumpun II untuk mendapatkan rumusan yang lebih lengkap dan peserta yang lebih bervariasi,” pungkas Dharma Suteja. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.