Dua Kali Setahun, Desa Adat Kesimpar Gelar Nyepi Adat

284 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Di Desa Adat Kesimpar, Abang, Karangasem, prosesi Nyepi dilaksanakan dua kali dalam setahun. Pertama yakni Nyepi Icaka yang dilaksanakan secara wajib dan umum oleh masyarakat hindu bali, kedua di Desa Adat Kesimpar melaksanakan prosesi Nyepi Desa Adat yang hanya dilaksanakan oleh warga masyarakat Desa Adat Kesimpar, dimana desa adat kesimpar terdiri dari empat Perbekel Kedesaan yaitu, Desa Abang, Desa Kesimpar, Desa Nawakerti, dan Desa Pid-pid, yang meliputi puluhan Banjar Dinas dan Banjar Adat. Rabu (17/7) suasana didesa Abang termasuk wilayah kesimpar telah sepi akan aktivitas warg. Hanya nampak beberapa Pecalang Desa adat sedang ngayah memantau aktivitas Nyepi adat. 

Seperti himbauan Bendesa Pakraman Kesimpar I Wayan Kari Subali pada puncak odalan kemarin di Pura Puseh Kesimpar dijelaskan, bahwa nyepi adat yang dilaksanakan pada setiap sasih Kasa setelah menggelar pengodal Ngusaba Wai memang harus rutin dilaksanakan. Dimana prosesi Nyepi merupakan warisan turun-temurun para leluhur dalam mempertahankan budaya dalam menjaga keseimbangan alam Buana Agung /Buana Alit kususnya bagi warga msyarakat desa kesimpar. 

Dalam Buana Agung kita kaitkan dengan pelaksanakan ritual odalan dipura puseh dimana kita sebagai umat selalu akan memohon keselamatan terhadap Tuhan Hyang Maha Esa, Ida Sesuhunan Kabeh, Ida Batara Sri sebagai pemucuk piodalan saat Ngusaba Wai yang diyakini sebagai sumber segala kesuburan, sedangkan Buana Alit kita kaitkan dengan jalannya Catur Brata Penyepian, dimana kita sebagai warga masyarakat desa kesimpar untuk satu hari mulat sarira dalam menjalankan Nyepi Adat.

“Saya yakin warga Desa kesimpar mampu mengatasi prosesi nyepi yang hanya beberapa jam saja, terlebih lagi ini sudah sering kita laksanakan,” ungkap Bendesa Jero Pasek I Wayan Kari Subali.

Layaknya nyepi pada umumnya, seluruh krama desa adat Kesimpar dilarang melakukan aktivitas sesuai catur barata penyepian, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak berkerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan). Hanya saja bedanya, Nyepi Adat dilaksanakan setengah hari yaitu dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. 

“Sama seperti nyepi pada umumnya, nyepi di Kesimpar dilakukan untuk memohon keselamatan seluruh umat serta sebagai kesempatan untuk intropeksi diri seraya mendekatkan diri dengan sang pencipta,” ujarnya.

Sebagai bendesa Subali melanjutkan, bahwa desa adat kesimpar adalah desa adat terbesar di Karangasem karena terdiri dari 4 desa dinas yaitu Desa Abang, Desa Pidpid, Desa Purwakerti dan Desa Simpar dengan pengempon kurang lebih 4.500 KK yang tersebar di 20 Banjar Adat. Saat nyepi maka sekolah, Kantor desa, Kantor Camat Abang, dan Puskesmas Abang diliburkan. Jalan-jalan desa pun ditutup sementara sampai ngembak nyepi pukul 5 sore. 

“Nyepi ini hanya berlaku bagi warga desa adat kesimpar, kalau warga desa lain tetap boleh melintasi jalan Nasional pada jalur Amlapura-Abang- Kubu- Singaraja seperti biasa, hanya saja jalan pedesaan ditutup” pungkasnya. nad

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.