Dua Buku Sastra Bali Modern Diulas

Foto : Ulas buku "Nyujuh Langit di Duur Bukit" dan "Ulun Danu" di Denpasar, Kamis (26/12).
Foto : Ulas buku "Nyujuh Langit di Duur Bukit" dan "Ulun Danu" di Denpasar, Kamis (26/12).
778 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Dua buku sastra Bali modern diulas dalam acara bedah buku bertajuk “Nyujuh Langit di Ulun Danu” bertepatan dengan Tilem Kanem, Kamis (26/12). Acara yang diinisiasi Suara Saking Bali dan Komunitas Bangli Sastra Komala itu digelar di Ganesh House Angkringan Buleleng, bilangan Jalan Tukad Badung, Denpasar.

Kedua buku tersebut yakni kumpulan cerpen (satwa cutet) Bali modern, “Nyujuh Langit di Duur Bukit” dan antologi puisi Bali modern “Ulun Danu”. Buku pertama merupakan kompilasi cerpen-cerpen yang termuat dalam Majalah Suara Saking Bali, sedangkan buku kedua merupakan karya penulis muda Erkaja Pamungsu (IK Eriadi Ariana).

Sebagai pengulas adalah Kadek Ruminten (IHDN Denpasar) dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra (Prodi Sastra Bali Universitas Udayana). Kedua pengulas tampak memberikan pandangan yang lebih menjurus salah satu buku. Meski memberikan sejumlah kritik terhadap “Ulun Danu”, Ruminten tampak lebih memfokuskan perhatian pada buku “Nyujuh Langut di Duur Bukit”, sedangkan Gita Purnama memfokuskan perhatian pada buku kedua.

Dalam pandangannya, Ruminten memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kehadiran “Nyujuh Langit di Duur Bukit”. Menurutnya, cerpen-cerpen yang disajikan pada buku tersebut sangat beragam, baik dari sisi pesan maupun bentuknya.

“Kumpulan cerpen ini isinya beragam, ada yang membawa pesan pendidikan karakter, ada tentang kegetiran hidup. Pokoknya beragam. Beberapa di antaranya sampai membuat saya tersentuh,” katanya.

Dari sisi bentuk, cerpen-cerpen yang disajikan pun menyatakan alur yang beragam. Dari keseluruhan alur yang disajikan, ia mengamati ada sebuah cerpen yang alurnya putus, antara klimaks dan penyelesaian terkesan ada kesenjangan ruang.

“Di sana ketika saya membaca terkesan masih belum puas, kita dibuat menjadi bertanya-tanya olehnya. Oleh karenanya, buku ini patut untuk dimiliki oleh pencinta sastra, sangat menghibur,” terangnya.

Sementara itu, Gita Purnama yang tiada lain merupakan dosen di Sastra Bali Universitas Udayana menilai antologi puisi “Ulun Danu” dari berbagai macam perspektif. “Designer sampul buku ini berhasil menghadirkan sampul yang tak merusak lukisan. Meski saya yakini lukisan ini dibuat bukan untuk kepentingan buku, tapi ia bisa menyatu,” katanya mengomentari sampul buku yang menyajikan lukisan berjudul “Energi Biru” karya pelukis Made Kenak Dwi Adnyana.

Dari segi isi, ia menyatakan puisi-puisi yang disajikan banyak yang mengangkat tema alam dan banyak menggunakan istilah arkais. Menurutnya, pemilihan tema-tema itu tak terlepas dari latar belakang pengarangnya.

“Ada kedekatan sosial moral yang juga bernada protes disajikan. Ada ungkapan kecemasan terhadap lingkungan yang berubah, ada nilai-nilai spiritual, seperti filsuf, sesuai latar belakang pengarang pembaca teks tradisi. Banyak menggunakan istilah bahasa Kawi sebagai ungkapan,” katanya.

Sayangnya, pada penggunaan istilah arkais itu justru menjadi penghambat pembaca dalam meraba makna yang disajikan. Di sisi lain, dua puisi tampak menyajikan kosakata bahasa Indonesia, padahal semestinya bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Bali.

“Puisi-puisi yang disajikan tidak bermaksud mengajak, tapi mempertanyakan. Penulis juga menjadikan karyanya sebagai media perekam memori dan penyampai memori,” ucapnya. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.