DTW Penglipuran Diuji Coba Buka

DTW Penglipuran mulai uji coba dibuka mulai Kamis (9/9/2021). Hasilnya, sejumlah wisatawan lokal mulai berkunjung ke objek wisata yang mengandalkan keasrian dan bangunan bangunan tradisional tersebut.
63 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Setelah rapat antara pengelola DTW Penglipuran dengan prajuru adat Penglipuran pada Rabu (8/9/2021) malam, akhirnya DTW Penglipuran mulai uji coba dibuka mulai Kamis (9/9/2021). Hasilnya, sejumlah wisatawan lokal mulai berkunjung ke objek wisata yang mengandalkan keasrian dan bangunan bangunan tradisional tersebut.

Ketua Badan Pengelola DTW Penglipuran, I Nengah Moneng, berujar hasil rapat memutuskan semua pihak sepakat melakukan uji coba pembukaan Penglipuran sesuai SE Gubernur Bali mulai Kamis (9/9/2021). Sebelum dibuka, pihaknya melakukan berbagai persiapan seperti menjaga kebersihan serta mengecek sarana-prasarana prokes. “Selain itu selaku umat Hindu dan dresta yang ada di Penglipuran, kami juga menggelar ritual,” jelasnya.

Dia menjamin akan memberlakukan ketat prokes untuk pengunjung maupun pengelola. Karena itu dia berharap agar uji coba ini terus berlanjut hingga resmi pembukaan, dan selama uji coba ini tidak ada lonjakan kasus Corona. “Dalam SE itu, kami hanya diizinkan sebanyak 50 persen. Jadi, wisatawan yang masuk akan diatur, termasuk kunjungan ke rumah-rumah penduduk,” bebernya.

Selama uji coba, dia koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli. Dari hasil koordinasi itu, pengelola diizinkan mengenakan karcis masuk untuk wisatawan.

Disinggung pendapatan yang hilang selama penutupan, jelas dia, cukup besar. Selama dua bulan lebih pengelola kehilangan banyak pendapatan. Usai dibuka pada Januari lalu, rata-rata kunjungan yang masuk mencapai 400 orang per hari, dengan karcis masuk rerata Rp25 ribu. “Rata-rata sebulan kehilangan pendapatan 300 juta,” ungkapnya.

Lanjut disampaikan, penerapan protokol kesehatan bukan semata menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat cuci tangan atau disinfektan, pengelola juga menyiapkan petugas untuk mengawasi pengunjung agar mengikuti prokes. Mereka juga berperan sebagai pemandu, karena kemungkinan tidak semua warga siap. Jika beberapa rumah belum siap dikunjungi, pemandu ini yang akan membantu pengunjung.

Terkait kunjungan, jumlah dibatasi dalam satu kelompok maksimal 25 orang dengan pengaturan jarak. Jadi, kelompok satu dengan lainnya tidak akan berbenturan, demikian pula jika mau masuk ke rumah penduduk juga dibatasi hanya lima orang. 028

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.