Dokumenter ‘Pulau Plastik’ Edukasi Masyarakat Bahaya Sampah Plastik

Film Dokumenter 'Pulau Plastik' Edukasi Masyarakat Bahaya Sampah Plastik
238 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Kepedulian terhadap lingkungan khususnya bahaya sampah plastik terus mengema dari generasi muda. Melalui sebuah film dokumenter berjudul ‘Pulau Plastik, mereka mengkampanyekan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang bahaya plastik.

Bertempat di Kebon Vintage Cars, Minggu (18/4), Produser Lakota Moira menuturkan bahwa film ini diawali dari Bali, karena idenya yang sederhana, yaitu pencemaran sampah plastik yang terjadi di Bali. “Banyak masalah plastik hanya terekspos saja, tapi tidak ada solusi,” tuturnya.

Produser Eksekutif Ewa Wojkowska menuturkan, film dokumenter ini menjangkau masyarakat lebih luas dalam upaya membangun kesadaran komunitas tentang bahaya sampah plastik. “Film ini merupakan kampanye dadurat sampah plastik,” ujarnya.

VP Marketing dan Promotion, Chyntia Kartika Sari menambahkan, film ini tidak tayang serentak. Tayamg perdana di Bali di XXI mulai 22 April dan disusul di kota-kota besar di Indonesia. “Film ini memberikan solusi dan edukasi tentang bahaya sampah plastik. Jadi nonton saja sudah ikut aksi,” katanya.

Ko-Produser, Ari Dananjaya menuturkan, film dokumenter ini merupakan tindaklanjut dari empat serial yang sebelumnya telah diluncurkan. Dengan mengambil momen Galungan dan Bulan Ramadhan, maka solusi penanganan plastik tidak hanya satu pihak.

“Ini skema besar yang harus digelorakan. Untuk itu perlu kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk juga pemerintah,” ujarnya.

Sutradara Dhandy Dwi Laksono mengaku senang bisa terlibat dalam penggarapan film dokumenter ini. “Ini merupakan kehormatan bagi saya karena terlibat dalam merekam jejak para pemeran. Tidak terlalu sulit dalam mengambil adegan, karena para pemeran sudah organik dan faham betul,” tuturnya.

Protagonis, Prigi Arisandi menuturkan, di Indonesia terdapat 55 pabrik plastik. Namun sayang, diantaranya pabrik itu mengimpor sampah plastik dari negara maju.

“Masalah sampah ditambah masalah sampah. Kendatipun ada kebijakan pelarangan, tetapi mereka melakukan cara sembunyi-sembunyi memasukkan ke negara kita,” ungkapnya.

Pratagonis Gede Robi menuturkan, sebelum dibuat film awalnya sangat sederhana. Namun setelah masuk, ternyata isu plastik tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya yang didaurulang dari seluruh produksi hanya 9 persen. “Palstik itu ekonomis murah, tapi pasca pemakaian itu lebih besar biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.

Pratagonis Tiza Mafira menuturkan, dirinya yang juga aktifis lingkungan hidup diet kantong plastik ini, telah delapan tahun terlibat dalam kampanye pencegahan penggunaan plastik sekali pakai.

“Awalnya belum ada peraturan, kemudian saya mendampingi pemerintah membuat regulasi kampanye plastik sekalu pakai. Akhirnya 40 kota sudah ada regulasi, termasuk juga Bali,” ujarnya.

Melalui film ini, lanjut dia, menunjukkan pentingnya kenapa gerakan anti plastik sekali pakai ini penting dilakukan. “Masyarakat sudah muak dengan adanya plastik sekali pakai ini. Yang pada akhirnya meminta pabrik plastik ditutup,” tandasnya. 019

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.