Diterjang Pandemi, Peternak Ayam Potong Tersandung Permodalan

Salah satu peternakan ayam di Karangasem. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda, peternak megalami kesulitan permodalan.
172 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Terjangan pandemi Covid-19 membuat para peternak ayam potong seperti anak ayam kehilangan induk, terutama untuk melanjutkan usaha mereka. Meski selama ini mereka masih memiliki pasar konsumen, tapi permodalan untuk melebarkan usaha jadi sandungan.

Menurut peternak muda asal Selat, I Gede Ana Suparsa, dia harus ikut mengencangkan ikat pinggang untuk bisa bertahan. Ana mengakui usahanya cukup terbantu, karena selama ini bekerja sama dengan pengusaha besar. Mitra usahanya itu menyediakan bibit, pakan ternak, dan juga menjual atau mengambil daging serta ayam yang siap dijual. Peternak hanya menyiapkan kandang dan jasa perawatan.

Ana berujar mengaku memiliki dua kandang; satu berisi 30 ribu ekor ayam dan satu lagi berisi 12 ribu. Ayam-ayam ini sudah siap dijual mulai usia 25 hari, sedangkan dia merawat dari usia nol hari atau baru menetas. Panen dilakukan mulai dari ayam yang sulit berkembang atau badannya kecil, karena kalau kecil itu akan sulit berkembang. Untuk itu, jelasnya, bibit dan manajemen usaha cukup mempengaruhi agar ayam cepat besar.

Untuk 30 ribu ekor ayam itu, ulasnya, dibutuhkan 2.000 sak pakan sampai panen. Sementara per saknya seharga Rp430 ribu. “Ini belum masuk biaya operasional, juga harus dipotong biaya tenaga kerja sekitar 20 juta per sekali panen. Belum bayar listrik dan juga biaya pembelian sekam,” terangnya, Jumat (23/7/2021).

Dia melanjutkan, berat panen per ekor dari 2 kg sampai 3 kg, dan per kilo harganya saat ini Rp15 ribu. Sekali panen bisa menghasilkan 60 ton, sehingga per sekali panen bisa masuk Rp120 juta. Untuk pemasaran dikatakan tidak ada masalah karena langsung diambil pengusaha, sedangkan biaya kandang tertutup itu bisa mencapai Rp1,5 miliar. Kandang menggunakan kap baja berat, dan kapasitas 30 ribu ekor ukuran kandangnya 11 meter x 63 meter dengan tiga lantai.

Kandang tertutup seperti itu, urainya, cukup aman karena tidak ada bau dan juga lalat. Ayam juga lebih bagus tidak mudah terserang virus. Saat pandemi ini, Ana menilai pasar agak macet, yang menyebabkan biaya operasional membengkak untuk memelihara ayam lebih lama. Dia berharap pemerintah bisa hadir untuk memberikan dukungan kepada peternak, terutama terkait permodalan.

“Saya berharap peternakan bisa terus berkembang, dengan target bisa memelihara 100 ribu ekor ayam,” harapnya.

Usai panen ayam, kisahnya, kandang juga tidak bisa diisi langsung karena ada jeda sekitar dua pekan. Kesepakatan ini digunakan untuk sterilisasi dan perawatan kandang. Risiko peternak antara lain jika ayam mati karena terserang virus, sebagaimana pernah dia alami dengan sekitar 10 persen ayamnya mati. “Saat pandemi ini, ayam ada yang sampai 50 hari baru terjual, padahal kalau kondisi normal maksimal 37 hari sudah habis,” ucapnya memungkasi. 017

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.