Distan Buleleng Suntik Dana Rp25 Juta untuk LPM

SALAH satu gudang pengolahan gabah beras yang ada di Buleleng. Foto: ist
339 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Di tengah pandemi Covid-19 atau virus Corona, daya beli industri terutama untuk hasil pertanian dari petani lokal sangat lemah. Menjaga stabilitas perekonomian petani di Buleleng, Dinas Pertanian (Distan) Buleleng memberi bantuan stimulus ke masing-masing Lumbung Padi Masyarakat (LPM) berupa modal Rp25 juta untuk membeli gabah petani lokal. Kepala Distan Buleleng, Made Sumiarta, mengatakan hal itu, Jumat (15/5).

Menurutnya, kebijakan stimulus itu sebagai langkah untuk memastikan gabah petani di Buleleng dapat terserap maksimal. ‘’Kemarin sudah dibahas dan disetujui Pak Sekda. Nanti kami berikan stimulus kurang lebih masing-masing LPM dapat 25 juta untuk membeli dan memanfaatkan gabah di Buleleng,’’ jelasnya.

Stimulus ini diberikan kepada LPM, sambungnya, mengingat pada bulan April sampai Juni ini hasil panen sangat besar. Masalahnya, pembelian dari para pengepul berkurang drastis karena menurunnya kondisi perekonomian akibat wabah Covid-19. Di sisi lain, ulasnya, kondisi ini merupakan peluang untuk membangkitkan LPM di Buleleng.

Rendahnya permintaan gabah oleh pengepul dari luar Buleleng, urainya, LPM di Buleleng dapat memanfaatkan momen tersebut dengan mengolah padi produksi petani lokal. Untuk bulan Mei 2020, diprediksi hasil pertanian di Buleleng mencapai 102 ribu ton gabah. Jika disosoh menjadi beras akan dapat menghasilkan 8 ribu ton. Jumlah itu mencukupi kebutuhan masyarakat di bulan Mei yang mencapai 7 ribu ton.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, ungkapnya, gabah petani diserap penyosoh dan LPM yang jumlahnya terbatas sekira 3 ribu ton. Sisanya 8 ribu ton dikirim ke Jawa, setelah dikemas dibawa kembali ke Buleleng. PD Swatantra di Buleleng juga dilibatkan membeli beras hasil produksi LPM, didistribusikan ke masyarakat. “Hasil pertanian Buleleng bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Buleleng, sisanya baru dipasarkan keluar,” tegasnya.

Dalam kondisi kolaps ekonomi dirundung pandemi ini, kata dia, kesejahteraan hidup petani di Buleleng mulai terancam. Selain tidak dibeli pengepul beras, sebagai dampak pandemi, harga gabah merosot dari Rp4.500 menjadi Rp3.500 sampai Rp3.000 per kilogram. PD Swatantra kini siap menyerap atau membeli gabah petani yang tidak terserap itu dengan harga standar.

Dirut PD Swatantra, Gede Bobi Suryanto, mengaku masih melakukan penjajakan untuk melihat gabah petani yang tidak terserap. Untuk merealisasikan itu, PD Swatantra melakukan kerjasama dengan Distan Buleleng dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng, serta dua perusahaan penyosohan beras yang gudangnya saat ini masih kosong.

Menurut Bobi, harga beras yang diproduksi dari hasil menyerap gabah petani Buleleng tidak akan beda dengan harga pasar. “Untuk menyerap hasil pertanian Buleleng, kami tetap akan mengedepankan misi sosial yakni menjaga harga gabah dan beras stabil agar petani di Buleleng tidak resah. Rencananya beras akan dipasarkan di kalangan pegawai, ke BUMDes dan sisanya dijual di pasar umum,” pungkasnya. 018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.