Digelar di Bali, Munas XIII Kagama Siapkan Peta Jalan Pengembangan SDM

Pembukaan Seminar “Kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0" serangkaian Munas XIII Kagama oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, didampingi Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng., IPU, ASEAN Eng., dan Panitia Munas XIII Kagama, di Inna Grand Bali Beach, Kamis (14/11).
Pembukaan Seminar “Kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0" serangkaian Munas XIII Kagama oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, didampingi Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng., IPU, ASEAN Eng., dan Panitia Munas XIII Kagama, di Inna Grand Bali Beach, Kamis (14/11).
339 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Musyawarah Nasional XIII Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Munas XIII Kagama) dilaksanakan di Bali, Kamis (14/11) s.d. Minggu (17/11). Selain musyawarah, munas juga diisi dengan seminar bertopik “Kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0″, jalan santai, bakti sosial, dan pentas budaya Nusantara.

Ketua Panitia Munas XIII Kagama, AAGN Ari Dwipayana, dalam konferensi pers di Denpasar, Kamis (14/11) mengatakan Munas XIII Kagama digelar bukan saja sebagai ajang selebrasi, tapi diharapkan turut memberi manfaat bagi masyarakat luas. “Kita harapan pelaksanaan Munas XIII Kagama dapat memberi manfaat untuk masyarakat. Kalau dalam istilah Bali, seperti yang diistilahkan Ida Pedanda Made Sidemen, maguna dusun,” katanya didampingi Ketua Panitia Harian Munas XIII Kagama, I Gusti Ngurah Agung Diatmika; Ketua Kagama Bali, AA Gede Oka Wisnumurti; dan Sekretaris Kagama Bali, AA Gede Putra.

Hal tersebut ditempuh dengan serangkaian upaya yang tak hanya dilakukan dalam rentang empat hari pelaksanaan munas. Jauh sebelum munas berlangsung, Panitia Munas XIII Kagama telah menggelar serangkaian kegiatan pramunas, diantaranya empat seminar yang digelar di empat kota di empat pulau.

Seminar pertama mengambil topik reformasi pendidikan sebelumnya telah digelar di Semarang. Di Balikpapan, seminar digelar mengambil topik reformasi ketenagakerjaan. Bergeser di Pulau Sulawesi, tepatnya di Manado, seminar diarahkan pada topik reformasi kesehatan. Sedangkan, seminar di bidang entrepreneurship digelar di Medan, Sumatera Utara.

“Seminar V kita laksanakan di Bali, membicarakan perspektif road map (peta jalan, red) pembangunan SDM (sumber daya manusia, red). Pertanyaannya, apakah kita punya roadmap? Semua pihak bilang pembangunan SDM, tapi apakah kita punya roadmap? Kita bedah itu dengan menghadirkan Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono; ekonom senior, Faisal Basri; Rektor Unud, Prof. Raka Sudewi; ekonom CORE Indonesia, Hendri Saparini; dan CEO Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara,” katanya.

Munas XIII Kagama di Bali yang diikuti 621 orang juga secara khusus akan membentuk komisi perumus rekomendasi yang nantinya akan diserahkan ke pemerintah sebagai peta jalan pembangunan SDM unggul. Setidaknya ada 13 butir rekomendasi yang akan diajukan sebagai solusi menjawab segala persoalan bangsa saat ini, mulai dari pembangunan berkeadilan, sistem demokrasi yang sehat, hingga mendorong pembangunan dengan memperhatikan lingkungan.

“Bagi Bali, Kagama juga kita harapkan dapat turut memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi Bali saat ini, seperti krisis air, pangan, dan sampah. Masak tidak ada orang yang hebat yang bisa mengatasi masalah tersebut? Kita yakini bisa,” katanya.

Pencapaian SDM unggul tak ditampik sebagai unsur penting untuk mencapai kemajuan bangsa. Namun, di sisi lain, menjaga kebhinekaan juga tak kalah penting, bahkan menjadi indikator wajib, terlebih,l bagi bangsa Indonesia yang begitu beragam dan belakangan ini dirongrong berbagai isu radikalisme.
Hal itu pun disadari dalam Munas XIII Kagama. Sekretaris Jenderal Kagama, Ari Dwipayana, mengatakan ke depan tantangan bernegara tidak saja menyangkut persoalan di bidang ekonomi, namun juga intoleransi.

“Banyak negara maju karena tak bisa menjaga kesatuan, akhirnya balik lagi, bahkan bubar. (Untuk itu), harus ada upaya terstruktur, sistematis, dan masif menanamkan nilai persatuan. Bukan saja dalam bentuk hard approach, juga dengan soft approach,” katanya.

Nilai-nilai persatuan dan persaudaraan itu pula yang dipegang dalam pelaksanaan munas. Mereka mengkonsep dengan mengesampingkan segala sekat perbedaan yang dirumuskan dalam tema munas “Manyama Braya” (persaudaraan). “(Menghadapi intoleranai) harus ada social engineering. Harus dibangun kurikulum yang lebih moderat, mencerdaskan, humanity, dan berkeadilan sosial. Sebab, intoleran itu hadir sebagai ketiadaan ruang saling memahami,” tambahnya.

Hal senada dinyatakan Rektor Unud, Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp. S (K) dalam seminar. Dikatakan, membandingkan kualitaa SDM dengab negara lain, Global Inovation Indeks Indonesia memang masih rendah, sehingga wajib ditingkatkan. Namun, titik pencapaian Inovation Global Indeks bukanlah akhir perjalanan.

“Kita perlu keseimbangan untuk mewujudkan Indonesia berdaulat adil dan makmur pada 2045. Harus diingatkan penguatan jadi diri, meningkatkan wawasan kebangsaan. Tanpa diimbangi itu, apa gunanya kita mancapai Global Inovation Indeks yang tinggi? Jangan sampai kita capai indeks inovasi yang tinggi, tapi Indonesia bubar,” ucapnya.

Munas XIII Kagama dijadwalkan dibuka Jumat (15/11) oleh Presiden RI, Joko Widodo. Sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju juga dijadwalkan datang. “Kami berharap beliau (Presiden Joko Widodo, red) bisa hadir dalam pembumaan munas sebagai Presiden RI sekaligus sebagai alumni UGM.  Sejumlah Menteri Kabinet Kerja juga dijadwalkan hadir, seperti Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi,” kata Ari Dwipayana. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.