Dewan Soroti Minimnya APD di RSUD Sanjiwani

517 Melihat
Wakil Ketua DPRD Gianyar, I Gusti Ngurah Anom Masta (tengah) didampingi Direktur RSID Sanjiwani dan Tim Ahli Bupati – POS BALI/ADI

GIANYAR, posbali.co.id – Minimnya penggunanya Alat Pelindung Diri (APD) di RSUD Sanjiwani Gianyar, mendapat sorotan dari DPRD Gianyar. Pemda Gianyar diminta mengambil langkah dari kondisi ini, salah satunya dengan penggunaan dana bencana untuk pengadaan APD khususnya masker. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD Gianyar I Gusti Ngurah Anom Masta, Kamis (19/3).

Lebih lanjut dikatakanya, dirinya banyak menerima pengaduan masyarakat terkait kelangkaan APD, terutama dari penunggu pasien yang datang ke RSUD Sanjiwani Gianyar. Saat dilakukan pengecekan Kamis siang kemarin, ia pun mendapati ternyata dominan tenaga medis tidak menggunakan masker. “Setelah saya cek ke dalam, melihat ruangan baik UGD, ruang isolasi dan lainya ternyata perawatnya tidak memakai APD terutama masker,” jelasnya politisi Partai Golkar ini.
Diungkapkanya, tenaga medis yang tidak menggunakan APD rentan tertular virus. Ia pun meminta eksekutif untuk segera mencari solusi, salah satunya segera menggunakan dana bencana untuk pengadaan masker.  “Disinilah pemerintah harus hadir memberikan solusi, agar masyarakat kita terutama petugas medis dan penunggu pasien ini bisa mendapatkan masker,” ungkapnya.
Dikatakannya, APD ini sangat penting, karena itu harus diprioritaskan. Terutama untuk petugas di rumah sakit, serta para penunggu pasien. Menyikapi kelangkaan masker, Anom Masta meminta dinas terkait khusus Disperindag dan Dinas Kesehatan segera berkordinasi untuk mencari masker. “Mari ini segera dikordinasikan, pemerintah kan ling-nya banyak, coba kordinasi terutama ke daerah lain yang memproduksi masker, ” tegasnya.
Anom Mesta juga menyoroti ruang pemeriksaan awal covid 19 yang hingga kini masih dalam pengerjaan. Dikatakan ruang pengecekan itu mengambil lokasi tepat disebelah timur ruang isolasi RSUD Sanjiwani. “Sebelum masuk isolasi kan diperiksa dulu, tetapi ruangan untuk pemeriksaan awal pasien itu (covid 19-red) masih dikerjakan, ” katanya.
Selain itu, ia juga mengkritisi kurangnya edukasi untuk pengunjung rumah sakit, terutama terkait pencegahan covid 19. Dikatakan hal ini penting, sebab rumah sakit menjadi tempat perawatan pasien dalam pengawasan corona. “Penunggu pasien juga tidak ada edukasi, orang yang melakukan pembayaran juga tidak pakai masker. Kuisioner juga tidak ada, misal untuk pasien yang panas, apakah karena keluar negeri atau pernah bersentuhan karena karyawan pariwisata bersentuhan dengan tamu,” ujarnya.
Anom Mesta juga meminta pemerintah khususnya rumah sakit harus transparan dalam penanganan covid 19. Jangan menutupi masalah, hanya karena takut ditegur pimpinan atau takut kehilangan jabatan. Bila ada yang ditutupi akan berdampak signifikan terhadap masyarakat. “Ini penyakit penyebaran sangat cepat, yang begini jangan ditutupi, kalau selesai katakan selesai, kalau tidak ada APD katakan tidak ada, biar segera dicarikan,” pungkasnya. 011

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.