Desa Adat Kesimpar Gelar Nyepi Adat, Upacara Ngusaba Dodol Lebih Sederhana dari Biasanya

Foto: Nyepi Desa Adat Kesimpar SUASANA Nyepi Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Karangasem, Selasa (7/7). Foto: nad
465 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Krama Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Selasa (7/7), menggelar kegiatan Nyepi Adat. Layaknya Nyepi Tahun Baru Saka, dalam pelaksanaan Nyepi Desa Adat juga menjalankan Catur Brata Penyepian seperti amati geni (tidak menyalakan api), amati karya(tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Bendesa Adat Kesimpar, I Wayan Kari Subali, mengatakan, dilaksanakannya kegiatan Nyepi Adat yang mencakup wilayah krama Desa Adat Kesimpar ini merupakan alur prosesi dari upacara rahinan Ngusaba Dodol yang kerap dikenal warga Desa Adat Kesimpar dengan istilah Ngusaba Wai, yang artinya rahinan pengodal hanya satu hari yakni pada puncak Purnama Sasih Kasa.

“Karena kondisi seperti saat ini kita harus waspada terhadap Covid-19, jalannya upacara kami tidak optimalkan. Karena kalau kondisi tidak begini, ribuan krama pasti datang untuk medek juga ngiring Ida BataraSesuhunan Kabehke Pura Puseh,” ujarnya.

Berdasarkan putusan rapat paruman desa, Ida Sesuhunanyang biasanya katuran ke Pura Puseh Kesimpar tidak diiring ke Pura Puseh,hanya dilakukan sembahyang dimasing-masing pura. “Namun tidak mengurangi makna jalannya pengodal rahinan di Pura Puseh Kesimpar,” ungkap Kari Subali.
Setelah puncak purnama, besoknya dilakukan upacara panyineban atau jelang penutupan acara rahinan Usaba Dodoljuga dilakukan persembahyangan di Pura Puseh. Setelah penyineban, besoknya krama desa adat menggelar ritual nyepi.

Menurut Kari Subali, pelaksanaan Nyepi di Desa Adat Kesimpar ini memang sudah turun-temurun setiap Sasih Kasa. Hal ini memiliki makna positif, dimana sebagai makhluk ciptaan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam secara sekala dan niskala.

Hal senada diungkapkan Perbekel Desa Abang, I Nyoman Sutirtayana. “Terkait Nyepi Adat Desa Adat Kesimpar dimana saya sendiri tinggal dalam wilayah Desa Adat Kesimpar yang ikut menjalankan Catur Brata Penyepian memang sangat memiliki nilai-nilai positif. Ini merupakan warisan leluhur yang perlu dipertahankan, ternyata para leluhur terdahulu punya ide-ide kreatif dalam menjaga keseimbangan alam melalui nyepi,” turutnya.

Ia menjelaskan, nyepi berarti tidak ada aktivitas keluar rumah, tidak ada bekerja, apalagi bepergian jauh. Ini hampir sama dengan lock down, hanya saja ruang lingkupnya untuk krama desa adat, terlebih mengingat situasi maraknya penyebaran Covid-19.

“Karena nyepi, jadi semua aktivitas ditiadakan untuk krama Desa Adat Kesimpar, kami juga di Desa Abang karena termasuk wilayah Desa Adat Kesimpar. Pasar tutup, kantor tutup, sekolah tutup, apalagi warung-warung. Pokoknya tidak ada aktivitas selama pagi hari sampai sore jam 5 baru dibuka yang disebut dengan istilah ngembak boleh memulai aktivitas,”pungkasnya.017

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.