Denpasar Perlu Menata Jalan dan Namanya

Catur Muka Denpasar-Bali
448 Melihat

Oleh : Made Nariana

KINI Denpasar dipimpin kader dari PDI Perjuangan (PDI-P). Baik Walikota Jaya Negara maupun Wakil Walikota Arya Wibawa, kedua-duanya merupakan kader banteng, pimpinan Megawati Soekarno Putri.
Sebagai kader partai, mereka akan mempertaruhkan kemampuannya memimpin sebuah kota kecil — Denpasar, terdiri dari empat kecamatan.

Saya melihat, penataan kota belum maksimal. Masih banyak jalan kota, khususnya yang masuk perkampungan teraspal. Penataan wilayah juga belum tertib, belum rapi apalagi bersih. Beberapa wilayah Denpasar kelihatan masih kumuh dengan penduduk “miskin”, di mana-mana, khususnya di bantaran kali yang penuh pencemaran.

Satu hal yang menjadi perhatian saya, adalah penataan nama jalan di kota Denpasar. Sejak zaman Made Suwanda menjadi Walikota, saya sudah pernah menulis, nama-nama jalan di Denpasar sering membingungkan. Jangankan bagi orang baru, pegawai pos dan orang lama tinggal di Denpasar pun sulit mencari alamat seseorang.

Saya ingin memberi beberapa contoh. Jalan Gatot Subroto Barat, Tengah dan Timur. Di mana batasnya? Jalan itu bernama Jalan Gatot Subroto dari wilayah Tohpati di Timur sampai Banjar Tegal Jaya Badung di Barat. Istilah Gatsu Barat, Tengah dan Timur hanya terjemahan masyarakat saja. Coba sekarang cari Jalan Gatsu Tengah nomor 150. Di mana itu, dapat Anda membayangkan?

Begitu juga jalan Achmad Yani. Nama jalan itu membentang dari Kampung Jawa sampai Desa Peguyangan, Denpasar Timur. Dapatkan anda membayangkan di mana Jalan Achmad Yani 108? Nomor itu adalah kantor saya di Sk. POSBALI. Kalau menyebut begitu saja, banyak yang tidak dapat membayangkan. Harus disebut lagi, dekat ini, depan kantor bank… bekas gedung wanita… dan seterusnya. Ruwet dan ribet.

Hal serupa terjadi di Jalan Teuku Umar, di mana jalan yang begitu panjang hanya diberikan satu nama, padahal Jalan itu dipotong nama Jalan Imam Bonjol.
Keruwetan mencari alamat juga terjadi di seputar Denpasar Selatan, di mana wilayah itu berkembang dengan pesat.

Saya pernah menyarankan, nama jalan hendaknya di potong-potong lebih pendek. Nama jalan Mada, sangat ideal. Cukup dari Barat sampai perempatan depan Jaya Sabha. Nama jalan selanjutnya diberikan nama Jalan Surapati, sampai Banjar Kayumas, dan berikutnya diberi nama jalan yang lain sampai perempatan Renon menuju Sanur.
Sorotan soal Denpasar, baru penataan dan nama jalan. Belum lagi soal lain yang masih banyak perlu dibenahi Walikota dan Wakilnya yang baru ini.

Suatu saat saya ditanya orang. Apa yang dapat dibanggakan dari pembangunan Denpasar selama ini?

“Maaf, saya tidak dapat memberikan jawaban pasti. Kecuali menata bantaran sungai dan membanahi Wantilan di Lumintang….. dan membangun Pusat Pemerintahan di kawasan Lumintang dengan tamannya”.

 

Istri saya yang pernah menjadi PNS di lingkungan Denpasar, saya tanyakan hal serupa… ternyata juga bingung tidak dapat menyebutkan, apa yang membanggakan baginya, sebagai warga kota Denpasar!.
Saya yakin ada, tetapi belum dapat dibanggakan, seperti ibaratnya warga Surabaya — bagaimana mereka membanggakan walikotanya membangun kota itu menjadi bersih, rimbun dan sejuk, terkenal di dunia. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.