Dari Istilah Permainan Tradisional hingga Penggunaan Seha Pemangku, Catatan Seminar Linguistik Prodi Sastra Bali Unud

1,296 Melihat


DENPASAR, posbali.co.id – Nuansa akademik menyeruak dalam Seminar Linguistik yang digelar di Ruang  Ir. Soekarno, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud), Senin (27/5). Tiga peneliti muda dari Prodi Sastra Bali Unud mempresentasikan hasil kajiannya tentang eksistensi bahasa Bali di era kekinian.

Meski para penyaji adalah mahasiswa Semester VI Prodi Sastra Bali Unud, diskusi yang tercipta cukup dinamis. Hasil-hasil kajian yang diorbitkan sebagai “kunci” meraih gelar sarjana sastra para peneliti itu pun memberikan banyak informasi dan refleksi segar di panggung kebudayaan Bali yang beragam. Penyaji pertama, Putu Devy Widayanti, melalui kajiannya yang berjudul “Kamus Bali-Indonesia Bidang Istilah Permainan Tradisional Rakyat Bali” memaparkan adanya istilah-istilah permainan tradisional yang mulai tergerus, bahkan hilang diterpa perubahan zaman yang pesat.

Menurutnya, kajian terhadap istilah-istilah tersebut sangat penting sebagai dokumentasi kebahasaan. Permainan tradisional dinyatakan turut berkontribusi pada pembentukan pola hidup masyarakat Bali. Selain itu, melalui penjejakan tersebut juga dapat dirunut perubahan pola hidup masyarakat Bali yang terjadi, termasuk daya dukung ekologi Bali saat ini terhadap kehidupan masyarakat.


“Permainan tradisional Bali dapat dibagi menjadi permainan anak-anak, permainan dalam bentuk judi, dan permainan tradisi yang digelar dalam waktu dan di daerah tertentu. Setelah diamati, saat ini banyak istilah permainan itu yang kurang dikenal, misalnya macinglak, majaksa-jaksaan, mabedil-bedilan, mageri-gerian, macepetan, dan lain-lain. Kata-kata ini tidak dikenal karena jartang lagi dimainkan, dan salah satu sebab jarang dimainkan itu lantaran lingkungan yang tidak lagi mendukung,” paparnya.


Tak kalah informatif dan reflektif, I Gede Bagus Wistara Jaya Negara, yang menjadi penyaji laki-laki satu-satunya memaparkan materi berjudul “Bahasa Bali dalam Ritus Pengilen Pemangku di Pura Ratu Agung Kesiman: Kajian Struktur dan Fungsi” mengungkap bagaimana sejatinya bahasa Bali juga digunakan dalam lantunan doa-doa dalam ritus agama Hindu di Bali. Secara umum, lantunan doa non-Sanskerta itu disebut dengan istilah seha.

Di balik kajian ini, pendengar seakan diajak untuk merefleksikan bagaimana eksistensi bahasa Bali  juga bisa tergerus oleh bahasa Sanskerta dalam suatu ritus pemujaan. Sebab, selama ini di kalangan agamawan ada kesan yang seakan membedakan nilai antara seha (yang berbahasa Bali) dengan mantra (yang berbahasa Sanskerta). Mantracenderung dianggap lebih tinggi nilainya daripada seha. “Dalam pelaksanaan pangilen pemangku di prosesi tersebuut sitemukan adanya kalimat perintah, kalimat berita, dan kalimat tanya,” ucapnya.

Tidak jauh berbeda dengan kajian penyaji pertama, Ida Ayu Agung Tirtayani, dalam makalahnya yang berjudul “Kamus Bali-Indonesia Bidang Istilah Pediksan” memaparkan sejumlah temuan kata dalam proses pentasbihan seorang pendeta Hindu di Bali. Kata-kata itu dipandang sangat penting dan sentral, namun banyak yang saat ini kurang dipahami. “Istilah-istilah yang ada dalam proses pediksaan berbeda, misalnya istilah untuk anting dan genitri yang dipakai di telinga sulinggih itu berbeda, meski kelihatan mirip,” ucapnya.
Dosen Prodi Sastra Bali yang juga berperan sebagai moderator seminar tersebut, Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum., mengatakan tujuan pelaksanaan seminar adalah memberikan pengalaman langsung pada mahasiswa untuk menyajikan hasil kajiannya. “Melalui seminar ini diharapkan mimbar akademik di prodi Sastra Bali Udayana akan terbuka dan berputar sesuai dengan nama logo Unud, Widya Cakra Prawartana,” harapnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.