Covid-19 Ubah Kebudayaan Bali ke Arah Individual dan Sekuler

MASYARAKAT adat Batur yang tengah melaksanakan upacara melasti di Pantai Pegonjongan, Buleleng, Januari 2020, sebelum Covid-19 menyebar di Bali. foto: eri
2,901 Melihat

DENPASAR – Pandemi Covid-19 diprediksi akan mengubah kebudayaan Bali. Covid-19 berpeluang menyulut evolusi budaya Bali yang mengedepankan aspek komunal ke arah individulisasi dan sekulerisasi.

Pandangan tersebut dinyatakan budayawan, Dr. Jean Couteau, dalam Webinar “Dampak Pandemi terhadap Budaya Bali” yang digelar Pusat Penelitian Kebudayaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana, Jumat (29/5) sore. “Dalam jangka pandek, Covid-19 akan mengemukakan kontradiksi sosial dan reaksi irasional. Namun, dalam jangka panjang akan mendorong sekulerisasi masyarakat Bali,” katanya.


Budayawan asal Perancis yang telah lama tinggal di Bali ini menjelaskan, kebudayaan orang Bali sejatinya memiliki kekhasan dalam memandang tubuh. Orang Bali akrab dengan lingkungan, tubuh sendiri maupun tubuh orang lain. Keakraban ini kemudian tampak pada upacara-upacara, tontonan, sangkep, dan kreativitas.

“Namun, jika Covid-19 berjalan lama, keakraban tubuh Bali akan terancam. Covid-19 memaksa menjaga kita jarak, upacara ditangguhkan, sangkep tidak mungkin dilaksanakan, sekaa gong tidak bisa menabuh dengan baik, seni kolektif ditiadakan, mengajar tari dengan pegang tangan tidak biaa dilakukan,” ucapnya.

Dengan kondisi yang tidak bisa saling berdekatan, kalangan (panggung pentas) seni di Bali akan surut. Tarian dengan jumlah banyak tidak akan tergelar. “Dengan demikian, Covid-19 mengarahkan kebudayaan Bali ke arah yang semakin individual dan juga sekuler,” tandasnya.

Meski demikian, dalam kondisi sedemikian rupa, Bali sejatinya dapat mengambil peluang. Menurutnya, pandemi dalam lingkup dunia memungkinkan terjadinya ketegangan sosial, ketakutan, krisis sosial, fenomena mengkambing-hitamkan sesuatu, hingga tuntutan pemurnian religius. Akibatnya, dapat berdampak timbulnya gerakan-gerakan radikalisme, konflik sosial, perang sipil, hingga perang internasional.

“Dalam kondisi seperti ini, Bali dengan kebudayaannya bisa mengambil peluang untuk kembali memposisikan manusia dari (sudut pandang) antroposentris ke kosmo-sentris. Karena, kebudayaan Bali sebagai cabang kebudayaan Hindu  mengedepankan dinamika kosmis. Manusia dipandang tidak menempatkan dirinya di dalam oposisi menaklukan alam, namun berada di dalam kesatuan kosmis. Filsafat inilah yang berpeluang digali,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, budayawan Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., meyakini Bali akan berhasil keluar dari kondisi sulit seperti saat ini. Menurutnya, selama berabad-abad Bali telah berhasil keluar dari berbagai persoalan yang besar.

Dituturkannya, pada abad ke-9, Bali berhasil keluar dari konflik sosial akibat adanya banyak sekte. Pada 1965, ketika peristiwa G30S/PKI yang banyak “menghilangkan” maestro, Bali bisa bangkit. Begitu pula ketika Bom Bali I dan II menghentak, Bali bisa keluar dari masalah.

“Itu karena Bali memiliki lima T, ada talent (bakat, DNA), technology (teknologi), tolerance (toleransi), trade (bisnis), dan tourism (pariwisata), sehingga akan bisa kembali bangkit dan keluar dari masalah akibat pandemi,” ucapnya.

Dalam hal kebudayaan, Bali memiliki tiga kaki ekologi yang terkait satu sama lain, yakni keberadaan pura, puri, dan pasar. “Dalam kondisi seperti ini, dan kita berhadapan dengan dunia digital, kita harus masuk ke dunia itu. Sikap kita terhadap kesenian saat sudah berbeda, art harus memuaskan semua orang, dan kita bisa mengalihkan kesenian ke ekonomi digital dalam gerakan orange economy,” katanya.

Meski memberi sentakan yang relatif keras, kehadiran pandemi Covid-19 juga mengajak umat manusia untuk belajar. Kesempatan ini pula yang harus digunakan masyarakat untuk modal bangkit. “Pandemi menyadarkan pentingnya literasi, baik literasi kesehatan, literasi kebudayaan, literasi teknologi. Mengajarkan kita pentingnya peran keluarga, bagaimana sekolah bisa dari rumah, dan bagaimana hidup di masyarakat,” pungkas Bandem. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.