Cabuli Anak Kandung, Politisi PAN NTB Ditahan

Politisi senior PAN NTB yang diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap anak kandungnya (pakai penutup wajah) saat digelandang ke sel tahanan Polresta Mataram, Kamis (21/1/2021).
701 Melihat

MATARAM, posbali.co.id – Politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) NTB berinisial AA yang diduga berbuat bejat alias asusila akhirnya ditahan polisi. Penahanan terhadap politisi bejat ini atas dugaan kasus pencabulan yang dilakukan AA terhadap anak kandungnya beberapa waktu lalu.

Saat konferensi pers yang dilakukan di Polresta Mataram, tersangka AA tetap bersikukuh tidak melakukan perbuatan bejat yang disangkakan kepada dirinya. “Saya tidak melakukannya,” cetus AA yang saat itu dikawal ketat aparat kepolisian.

Sementara itu, Kapolresta Mataram, Kombes Pol Heri Wahyudi Kamis (21/1/2021), menyatakan bahwa dalam pemeriksaan yang dilakukan jajarannya, tersangka tidak mengakui perbuatannya. ”Dari pemeriksaan tersangka tidak mengakui melakukan pencabulan. Tapi kami sudah mengantongi hasil visum korban dari Rumah Sakit Bhayangkara dan surat pengaduan korban serta pemeriksaan saksi saksi,” jelasnya.

Dikatakan Heri, dari hasil visum ada luka tak beraturan dikemaluan korban. Nampaknya luka itu disebabkan karena adanya paksaan dengan menggunakan tangan. ”Dari visum dokter ada luka tak beraturan di kemaluan korban. Ini jelas mengindikasikan ada pemaksaan,” tambah Heri.

Seperti diketahui, peristiwa pencabulan ini terjadi pada Senin (18/1/2021) lalu di kediaman tersangka dan korban di Perumahan Puri Anggrek, Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela. Atas kejadian itu, korban pun melaporkan tindakan pencabulan yang diduga dilakukan tersangka pada Selasa (19/1/2021).

Pun berdasarkan laporan korban, tersangka sempat memeluk sambil memegang bokong korban. Tak ada firasat kejadian buruk yang bakal menimpa korban. Tersangka kemudian meminta korban untuk mandi. ”Selesai mandi korban masuk kamar dan mendapati tersangka ada di kamar korban dan memintanya duduk di atas tempat tidur. Tersangka kemudian menarik bahu korban dan membuka handuk yang dikenakan korban dan terjadilah pencabulan itu,” jelas Heri.

Atas perbuatannya tersangka dikenakan pasal 82 ayat 2 Jo pasal 76 E Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, junto Undang-undang RI no. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang dengan ancaman hukum paling singkat lima tahun paling lama 15 tahun ditambah sepertiga dari ancaman hukuman. Pada kesempatan berbeda, secara resmi AA juga sudah dipecat dari PAN NTB. 033

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.