Bukan Ilmu Hitam, Bhaerawa adalah Ajaran Cinta Kasih

Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti (kiri) saat acara peluncuran dan bedah buku “Bhaerawa adalah Jalanku” di Denpasar, Kamis (30/5).
2,470 Melihat

Peluncuran Buku “Bhaerawa adalah Jalanku”

DENPASAR, posbali.co.id- Selama ini terjadi salah kaprah tentang aliran Bhaerawa. Dimana Bhaerawa kebanyakan dipandang sebagai ajaran kiri yang mengajarkan ilmu hitam atau sesat. Padahal, Bhaerawa sesungguhnya sebuah ajaran yang mengajarkan tentang cinta kasih. Hal tersebut mengemuka dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku “Bhaerawa adalah Jalanku” yang digelar di Colony Plaza Renon, Denpasar, Kamis (30/5).

Pada kesempatan tersebut, Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti selaku penulis buku “Bhaerawa adalah Jalanku” menuturkan, buku ini ditulis untuk menambah pengetahuan tentang ajaran Bhaerawa dan yang paling penting untuk membuka pemahaman akan ajaran Bhaerawa yang selama ini dianggap jelek (negatif). “Bhaerawa adalah sebuah ajaran besar yang penuh dengan simbol-simbol dan istilah. Ajaran ini berkembang ketika kebesaran Nusantara, peninggalannya banyak ditemukan di berbagai tempat seperti candi-candi, gua-gua di Jawa, Sumatera, Bali, dan daerah lainnya,” katanya.

Lebih jauh Ida Pandita menjelaskan, ajaran Bhaerawa ibarat hutan belantara. Banyak pengembara spiritual yang memasukinya. Kalau tidak tersesat, mereka mungkin akan hilang. Hal itu terjadi karena ajaran Bhaerawa yang sarat konsep “yang ini” dan “yang itu”, “yang kosong” dan “yang penuh”. Terlalu banyak simbol yang sulit dipahami, yang melahirkan banyak istilah. Pemahaman yang benar tentu dimulai dari pengertian yang benar atas istilah-istilah atau konsep-konsep itu.

“Yang pertama diajarkan dari Bhaerawa adalah menghormati tubuh sendiri sebab tubuh kita sebuah pelinggih, tempat suci. Setelah itu, carilah Tuhan di dalam diri. Jadi, tidak pernah diajarkan bagaimana menyakiti orang. Simbol dalam ajaran Bhaerawa seperti tengkorak, patung mecaling atau bertaring, simbol kelamin, dan lainnya itu adalah simbol-simbol yang harus dikupas maknanya lebih dalam,” ujarnya.

Sementara itu, Jero Mangku Ketut Suryadi selaku penyelenggara bedah buku ini menyampaikan, kegiatan bedah buku ini digelar setelah terbitnya buku “Bhaerawa adalah Jalanku”setebal 144 halaman  yang diterbitkan pertama kali oleh PT Elex Media Komputindo (Kelompok Gramedia), Jakarta. Acara bedah buku ini diikuti sekitar 300 peserta dari seluruh Bali seperti penekun Bhaerawa, sulinggih, pinandita, pengurus PHDI, akademisi dan mahasiswa, serta masyarakat umum.

Kegiatan bedah buku ini bertujuan untuk mengulas, mengungkap, mencerna, mendalami akan suatu ajaran kuno Bhaerawa yang selama ini dianggap paling rahasia dan misterius. Melalui bedah buku ini, pihaknya ingin meluruskan kembali pemahaman tentang Bhaerawa. “Untuk meluruskan ini memang tidak mudah. Buktinya, dalam upaya menerbitkan buku ini saja kami menghadapi banyak tantangan. Sempat ditolak oleh penerbit lokal di Denpasar, tetapi setelah enam bulan perjuangan akhirnya justru bisa diterbitkan lewat penerbit di Jakarta,” jelasnya.

Tampak hadir pula dalam acara ini, istri Gubernur Bali, Ny Putri Suastini Koster, Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr I Gusti Ngurah Sudiana, dan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus Mataram mewakili Wali Kota Denpasar. Para pihak menyambut baik peluncuran buku ini. “Karena memang rohnya Bali ada di sini. Buku yang ditulis Ida Pandita Dukuh ini memberikan tambahan pemahaman bagaimana sesungguhnya pemujaan di Bali, dimana ada barong, rangda, prajapati, setra, dan lainnya sebagai simbol-simbol dari ajaran Bhaerawa,” kata Prof. Sudiana. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.